FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kolaborasi Mahasiswa UNAIR Surabaya dan FIKKIA Banyuwangi Antar Amerta Pertiwi ke Empat Besar Genera-Z Berbakti 2026

KABAR FIKKIA – Kolaborasi mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya dan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Banyuwangi mengantarkan tim Amerta Pertiwi menjadi salah satu dari empat tim terbaik dalam Genera-Z Berbakti 2026. Program yang diselenggarakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tersebut merupakan kompetisi call for proposal yang mendorong mahasiswa mengembangkan solusi pengabdian masyarakat di desa binaan Bakti BCA. Pengumuman empat tim terbaik disampaikan melalui kanal YouTube Solusi BCA pada 11 Juli 2026.

Kompetisi tahun ini diikuti lebih dari 260 proposal dari 98 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Melalui inovasi bertajuk Amerta Pertiwi, tim Universitas Airlangga memperoleh kesempatan mengimplementasikan program pemberdayaan masyarakat di Desa Wisata Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo, yang menjadi salah satu dari empat desa binaan Bakti BCA pada 2026. Mereka adalah Muhammad Adib (KH 23), Regina Saraswati (KESMAS 24), dan Usamah (FST 24).

Menyatukan Gagasan dari Dua Kota

Berbeda dengan sebagian besar peserta, anggota Tim Amerta Pertiwi berasal dari dua kampus Universitas Airlangga, yakni Kampus Surabaya dan FIKKIA Banyuwangi. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri sejak proses penyusunan proposal karena seluruh anggota harus berkoordinasi dari lokasi yang berbeda.

Diskusi, penyusunan konsep, hingga penyempurnaan proposal dilakukan secara daring melalui pertemuan virtual. Rapat berlangsung secara intensif, bahkan hingga malam hari, untuk menyatukan ide, membagi tugas, dan memastikan proposal selesai sesuai tenggat waktu yang ditetapkan panitia.

Kerja sama tersebut membuahkan hasil. Dari ratusan proposal yang masuk, Tim Amerta Pertiwi berhasil lolos sebagai satu dari delapan finalis pada 1 Mei 2026. Seluruh finalis kemudian mengikuti babak Head-to-Head, yaitu sesi presentasi dan adu argumentasi di hadapan dewan juri untuk mempertahankan gagasan yang diusulkan.

“Saat sesi Head-to-Head sangat menegangkan bagi kami. Kami harus mempertahankan gagasan yang telah disusun selama berbulan-bulan secara ringkas dan runtut,” ujar ketua tim Muhammad Adib.

Siap Mengimplementasikan Program

Babak final menghadirkan tiga panelis, yakni Nicholas Saputra, Cinta Laura, dan wirausahawan sosial Tri Mumpuni. Penilaian tidak hanya didasarkan pada kualitas gagasan, tetapi juga kesiapan tim dalam merealisasikan program bersama masyarakat desa.

Dari delapan finalis, hanya empat tim yang berhak melanjutkan ke tahap implementasi. Tim Amerta Pertiwi dipercaya menjalankan program di Desa Wisata Patakbanteng selama 8 Juli hingga 6 Agustus 2026.

Program yang akan dijalankan mengusung pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui solusi yang terintegrasi. Tim merancang inovasi untuk mendukung pengelolaan sampah, pencegahan stunting, pengembangan energi terbarukan, serta penguatan kapasitas masyarakat desa. Seluruh program dirancang dengan melibatkan warga sebagai mitra utama agar manfaatnya dapat berlanjut setelah masa pendampingan berakhir.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas kampus mampu menghasilkan inovasi yang kompetitif di tingkat nasional. Bagi Tim Amerta Pertiwi, perbedaan lokasi antara Surabaya dan Banyuwangi tidak menjadi hambatan untuk menyusun gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, kolaborasi tersebut menjadi kekuatan dalam menghadirkan solusi yang memadukan berbagai disiplin ilmu untuk mendukung pembangunan desa wisata yang berkelanjutan.

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *