FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mahasiswa Akuakultur FIKKIA UNAIR Pelajari Ancaman Alga Berbahaya dari Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia

KABAR FIKKIA – Mahasiswa Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) memperluas wawasan mengenai tantangan ekosistem akuakultur melalui Kuliah Tamu Internasional. Kegiatan berlangsung di Aula Mojo FIKKIA UNAIR, Kamis (27/8/2026), dengan menghadirkan akademisi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Dr. Suriyanti Su, Ph.D.

Sebanyak 65 mahasiswa Akuakultur semester tiga mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Dr. Suriyanti yang merupakan akademisi Department of Earth Science and Environment UKM sekaligus Koordinator Program Sains Marin UKM membawakan materi bertajuk “Harmful Algae Dynamics in Aquaculture Ecosystems”.

Materi tersebut membahas fenomena Harmful Algal Blooms (HABs) yang menjadi salah satu tantangan penting dalam pengelolaan ekosistem akuakultur. Ledakan alga berbahaya dapat memberikan dampak terhadap lingkungan perairan, produktivitas budidaya, hingga kesehatan manusia.

Mengenal Faktor Pemicu HABs

Dalam pemaparannya, Dr. Suriyanti menjelaskan bahwa HABs terjadi ketika mikroalga tertentu tumbuh secara cepat dan menghasilkan toksin. Kondisi tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem serta menimbulkan kerugian ekonomi pada sektor perikanan.

Lingkungan akuakultur yang kaya nutrisi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya ledakan alga. Salah satu faktor pemicunya ialah eutrofikasi akibat masuknya nutrien secara berlebihan dari aktivitas manusia dan pertanian.

“Eutrofikasi menjadi faktor utama pemicu maraknya alga. Pembusukan massa alga oleh bakteri menyebabkan melonjaknya kebutuhan oksigen biokimia,” jelas Dr. Suriyanti.

Peningkatan kebutuhan oksigen tersebut dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air. Kondisi ini berpotensi mengganggu kesehatan dan kelangsungan hidup organisme budidaya.

Identifikasi HABs.

Teknologi Modern untuk Deteksi Toksin

Selain faktor nutrisi dan kondisi fisik perairan, Dr. Suriyanti menjelaskan peran interaksi biologis dalam dinamika HABs. Predator alami seperti rotifer, zooplankton, dan amuba dapat memengaruhi pertumbuhan populasi alga.

Interaksi tersebut turut menentukan perkembangan alga dalam ekosistem. Kondisi lingkungan tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan alga untuk bertahan, mengalami penurunan populasi, atau menghasilkan toksin. Dalam aspek deteksi, perkembangan teknologi turut mengubah metode identifikasi toksin maritim. Metode Mouse Bioassay (MBA) mulai ditinggalkan karena memiliki keterbatasan spesifisitas dan menimbulkan persoalan etika penggunaan hewan.

Sebagai alternatif, teknologi Liquid Chromatography–Mass Spectrometry (LC-MS) digunakan dalam analisis toksin secara lebih spesifik. Perkembangan teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung sistem pemantauan keamanan produk perikanan.

Buka Peluang Kolaborasi Internasional

Pemaparan Dr. Suriyanti mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi. Pertanyaan mahasiswa mencakup strategi pengendalian alga toksik pada tambak lokal hingga penerapan teknologi LC-MS dalam sistem akuakultur.

Kuliah tamu juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal peluang pendidikan dan riset di UKM. Dr. Suriyanti memperkenalkan program magister MSc in Marine Science serta peluang beasiswa riset bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Akuakultur FIKKIA UNAIR diharapkan mampu memahami tantangan ekologis dalam pengembangan akuakultur. Pengetahuan tersebut juga dapat mendorong mahasiswa menghasilkan inovasi yang menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung ketahanan pangan.

Kuliah Tamu Internasional tersebut turut memperkuat komitmen FIKKIA UNAIR dalam membangun jejaring akademik global. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 14 (Life Below Water) dan Tujuan 17 (Partnerships for the Goals).

Melalui kolaborasi dengan akademisi internasional, mahasiswa FIKKIA UNAIR diharapkan semakin siap menghadapi tantangan akuakultur masa depan. Penguatan wawasan global juga menjadi modal untuk mengembangkan riset dan inovasi kelautan yang berkelanjutan.

Penulis: Farra Azzarani

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *