FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Siswa Banyuwangi Pelajari Cara Resusitasi Jantung Paru Otak bersama FIKKIA UNAIR

KABAR FIKKIA – Himpunan Mahasiswa Kedokteran Umum FIKKIA UNAIR sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk AORTA 2026: Dari AORTA, Cegah Hipertensi Lebih Nyata. Kegiatan berlangsung di Kampus Mojo FIKKIA UNAIR Sabtu (09/05/2026) diikuti 92 siswa SMA/SMK di Banyuwangi. AORTA 2026 diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan wawasan kesehatan dan melatih keterampilan baru mengenai pertolongan darurat pertama pada kondisi henti jantung dan napas.

Ketua pelaksana Gabriella Mulia Sulistya (KU 24) menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kontribusi nyata mahasiswa kedokteran dalam memberikan edukasi kesehatan kepada remaja. Kegiatan juga dirancang agar peserta memahami pentingnya pencegahan hipertensi sejak usia muda.

“Siswa perlu mengetahui keterampilan kesehatan perihal pencegahan hipertensi dan penanganan henti jantung,” ujar Gabriella.

Pendekatan learning by doing digunakan agar peserta dapat belajar dengan lebih menyenangkan dan berdampak nyata. Dalam rangkaian AORTA 2026 ini, HMKU juga memperkenalkan Program Studi Kedokteran FIKKIA kepada para peserta sebagai bentuk pengenalan dunia pendidikan kedokteran.

Praktik Langsung Resusitasi Jantung Paru Otak

Praktik langsung Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO) menjadi salah satu kegiatan inti dalam AORTA 2026. Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti gangguan kardiovaskular masih menempati peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia. Merujuk pada Riskedes 2018, terjadi peningkatan sekitar 1,5% kasus kematian akibat penyakit jantung sejak 2013. Setiap tahun, diperkirakan ada 300.000-350.000 kasus kematian akibat henti jantung/nafas di Indonesia.

dr Dara memandu langsung praktik RJPO. Sumber: Istimewa

Fenomena tersebut menjadi salah satu alasan pelatihan dasar RJPO kepada siswa. Dokter Dara Hanifa Rahman, M.Biomed., memandu langsung tindakan RJPO kepada manekin. Ia juga menjelaskan pentingnya orang awam mengetahui cara melakukan pertolongan pertama pada orang henti jantung.

“Penyakit kronis dimulai dari kebiasaan sehari-hari. CPR sederhana dari orang awam bisa menyelamatkan nyawa”, ujar Dara Hanifa.

Peserta berkesempatan praktik langsung pelaksanaan RJPO tanpa bantuan bernapasan. Beberapa tahapan antara lain cek respons, panggilan bantuan, hingga tindakan kompresi dada yang benar. Panitia menyediakan sepasang manekin sebagai media objek pasien agar praktik tetap aman dan sesuai prosedur tindakan.

Hipertensi sebagai Pembunuh Senyap

Hipertensi mendapat julukan silent killer  karena berkembang tanpa gejala jelas di awal, merusak organ vital perlahan, dan seringkali baru terdeteksi saat sudah parah. Lebih dari 65 juta masyarakat Indonesia berusia 18 tahun ke atas mengalami hipertensi. Saat dilakukan pengecekan pasien memiliki tekanan darah >140/90 mmHg, yang menunjukkan hipertensi tahap I.

Siswa melakukan cek tekanan darah. Sumber: Istimewa

Dara mengajak peserta mempraktikkan pemeriksaan tekanan darah secara mandiri menggunakan tensimeter. Siswa terlihat antusias belajar bagaimana cara menggunakan dan membaca hasil tensimeter dipandu mahasiswa.

Terselenggaranya AORTA 2026 diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga kesehatan serta memiliki ilmu dasar pertolongan pertama pada kondisi darurat henti jantung di sekitarnya.

Cantika Anggun Roudhotul Al Zahra

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *