KABAR FIKKIA – Fenomena penggunaan sistem pengeras suara dengan intensitas tinggi atau yang populer disebut sound horeg kerap menarik perhatian masyarakat. Di balik dentuman suara yang dapat terdengar hingga jarak tertentu, terdapat persoalan kesehatan yang tidak boleh diabaikan, terutama risiko terhadap sistem pendengaran. Paparan suara keras tidak hanya bergantung pada seberapa besar intensitas suara, tetapi juga dipengaruhi oleh durasi dan frekuensi seseorang berada di lingkungan bising.

Dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok, dr. Citra Dwi Novastuti, Sp.T.H.T.B.K.L., menjelaskan bahwa bagian telinga yang paling rentan mengalami gangguan akibat paparan kebisingan adalah sel rambut yang berada di dalam koklea.
“Struktur yang paling rentan terhadap suara bising adalah sel rambut (hair cells) di koklea atau rumah siput di telinga dalam, terutama sel rambut luar (outer hair cells/OHC),” ujarnya.
Jika dilihat dari sudut pandang anatomi dan fisiologi, proses manusia mendengar sebenarnya melibatkan sistem yang cukup kompleks. Gelombang suara pertama kali ditangkap oleh telinga luar dan diteruskan hingga menggetarkan gendang telinga. Getaran tersebut kemudian diteruskan dan diperkuat oleh tulang-tulang pendengaran di telinga tengah.
Sel yang Berperan pada Proses Pendenganran
Selanjutnya, getaran mencapai telinga dalam, khususnya koklea atau rumah siput. Di dalam struktur tersebut, getaran mekanik diubah menjadi impuls listrik melalui sel rambut (hair cells). Impuls kemudian dibawa oleh saraf pendengaran menuju otak hingga akhirnya manusia dapat mempersepsikan suara.
Sel rambut tersebut memiliki peran penting dalam proses pendengaran. Ketika telinga menerima energi suara yang terlalu besar secara terus-menerus, struktur tersebut dapat mengalami cedera. Inilah alasan mengapa paparan suara dengan intensitas tinggi perlu menjadi perhatian, terutama apabila terjadi dalam waktu lama atau berulang.

Konsekuansi Paparan Suara Intensitas Tinggi
Menurut dr. Citra, suara dengan intensitas lebih dari 85 dB sudah dapat membahayakan sistem pendengaran karena energi suara yang masuk ke telinga cukup besar untuk menyebabkan cedera pada sel rambut di koklea, terutama apabila paparannya berlangsung lama atau terjadi secara berulang.
Namun, angka 85 dB bukan berarti seseorang pasti langsung mengalami gangguan pendengaran ketika sekali mendengar suara dengan intensitas di atas angka tersebut. Risiko kerusakan tetap berkaitan dengan kombinasi beberapa faktor.
“Semakin tinggi intensitas, semakin singkat waktu paparan yang diperlukan untuk menimbulkan kerusakan. Delapan puluh lima dB bukan batas yang berarti bahwa sekali mendengar suara 86 dB pasti terjadi kerusakan. Risiko terutama bergantung pada intensitas, lama paparan, dan frekuensi paparan,” jelasnya.
Hal yang perlu menjadi perhatian adalah kemampuan regenerasi sel rambut pada manusia. Berbeda dengan beberapa jaringan tubuh yang dapat memperbaiki diri setelah mengalami kerusakan, sel rambut pada koklea memiliki keterbatasan yang serius.
“Paparan bising yang berulang atau berkepanjangan mengakibatkan sel rambut mengalami kematian permanen karena pada manusia sel rambut koklea tidak dapat beregenerasi,” tutur dr. Citra.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa paparan kebisingan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko Noise-Induced Hearing Loss atau gangguan pendengaran akibat kebisingan. Risiko tersebut menjadi lebih serius apabila seseorang terbiasa berada di dekat sumber suara dengan intensitas tinggi dan dalam durasi yang lama.
Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa
