KABAR FIKKIA – Banyuwangi Public Health Association (B-PHA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi memperkenalkan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) melalui kegiatan BERDIKSI (Berkenalan dengan Diktisaintek Secara Inspiratif), Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi ini diikuti sekitar 37 mahasiswa. Peserta berasal dari berbagai organisasi kemahasiswaan, di antaranya B-PHA, HMKU, HMKH, HIMAKUA, Garuda Sakti, BEM, dan AUBMO.
Melalui kegiatan ini, B-PHA melalui Divisi Intellectual Application (IN-APP) mendorong mahasiswa memahami tahapan PPK Ormawa. Pembahasan mencakup penyusunan gagasan, pemetaan masalah masyarakat, hingga persiapan dan pengajuan proposal.
Susun Program Berdasarkan Kebutuhan Masyarakat
BERDIKSI menghadirkan Prof. Dr. Ahmad Shofy Mubarak, S.Pi., M.Si., selaku pendamping PPK Ormawa. Ia menjelaskan sejumlah aspek penting dalam merancang program pemberdayaan masyarakat yang tepat sasaran dan berkelanjutan. Menurut Prof. Shofy, mahasiswa perlu memulai perencanaan dengan mengidentifikasi permasalahan berdasarkan data yang kuat. Mereka juga perlu memetakan lokasi dan mitra, kemudian menentukan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“ Tetapkan luaran dan indikator yang dapat diukur serta menggambarkan manfaat program secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa mahasiswa perlu mempertimbangkan potensi desa atau kelurahan, permasalahan wilayah, kesesuaian latar belakang kelompok pengusul, serta aksesibilitas lokasi sasaran.
Selain itu, program perlu menawarkan unsur kebaruan dan menyesuaikan pendekatan dengan kondisi masyarakat. Perencanaan yang matang diharapkan menghasilkan kegiatan yang tidak sekadar terlaksana, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang.
Berbagi Pengalaman Mengikuti PPK Ormawa
Kegiatan berlanjut dengan sharing session bersama Dheva Yudistira Maulana dan Dewi Roso Wulan, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKKIA UNAIR. Keduanya membagikan pengalaman mengikuti PPK Ormawa hingga meraih prestasi dalam program tersebut.
Mereka membahas proses pengembangan ide, tantangan pelaksanaan, serta pentingnya menyesuaikan perencanaan dengan kondisi lapangan. Pengalaman tersebut memberikan gambaran praktis mengenai dinamika pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.
“Selama mengikuti PPK Ormawa, banyak hal yang menjadi tantangan, terutama dalam proses pelaksanaan dan menyesuaikan rencana dengan kondisi di lapangan. Namun, dari situ kami belajar bahwa kerja sama tim, komunikasi dengan masyarakat, dan kemampuan beradaptasi sangat penting agar program dapat berjalan dengan baik,” ujar Bulan.
Melalui BERDIKSI 2026, mahasiswa diharapkan mampu merancang gagasan inovatif berdasarkan kebutuhan masyarakat. Pemahaman mengenai perencanaan, kolaborasi, dan keberlanjutan menjadi bekal untuk mengembangkan program pemberdayaan yang berdampak nyata.
Penulis: Muhammad Hisyam
Editor: Avicena C. Nisa