FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kuliah Tamu Akuakultur Bahas Deteksi Parasit dan Inovasi Pengendaliannya pada Ikan

KABAR FIKKIA – Program Studi Akuakultur FIKKIA Universitas Airlangga kembali menyelenggarakan kuliah pada Senin (27/04/2026) melalui Zoom Meeting. Kuliah tamu membahas seputar identifikasi parasite yang menginfeksi spesies ikan di Pinang, Malaysia. Materi yang disampaikan kepada 45 mahasiswa prodi akuakultur tersebut merupakan bagian dari penguatan materi di bidang kesehatan ikan dan parasitologi.

Dr. Farah Haziqah binti Meor Termizi sebagai pembicara utama. Beliau merupakan guru besar di School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia (USM). Penelitiannya dibidang parasitologi, khususnya terkait identifikasi dan karakterisasi parasit pada hewan serta potensi penularannya terhadap manusia (zoonosis).

Metode Deteksi Parasit pada Ikan

Dr. Farah menjelaskan identifikasi parasit ikan dilakukan melalui beberapa tahapan. Pemeriksaan diawali secara eksternal dengan mengamati kulit, sirip, dan insang untuk mendeteksi lesi, lendir berlebih, atau perubahan warna. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan internal melalui pembedahan. Organ yang diamati seperti usus, hati, ginjal, dan otot yang menjadi lokasi umum parasit cacing (helminth). Selain itu, digunakan teknik pewarnaan seperti Giemsa untuk protozoa dan acetocarmine untuk cacing guna memperjelas struktur parasit di bawah mikroskop.

Metode pemeriksaan parasit pada ikan. Sumber: Istimewa

Dampak Parasit dalam Akuakultur

Hasil penelitian di Pulau Pinang ditemukan berbagai jenis parasit seperti nematoda, acanthocephala, serta ektoparasit Trichodina. Parasit lain yang umum dijumpai meliputi monogenea (Benedenia, Neobenedenia), copepoda (Caligus), serta lintah laut (Zeylanicobdella arugamensis).

“Infestasi parasit merupakan salah satu permasalahan utama dalam akuakultur, karena dapat menurunkan pertumbuhan ikan, meningkatkan risiko infeksi sekunder, hingga menyebabkan kematian,” jelas Dr. Farah

Lintah laut juga menjadi salah satu parasit yang paling merugikan. Parasit ini menghisap darah sekaligus menjadi vektor bakteri seperti Vibrio alginolyticus. Selain itu, siklus hidupnya cepat, sekitar 2–3 minggu tanpa inang perantara, membuat penyebarannya sulit dikendalikan.

Inovasi Pengendalian Parasit dengan BP2

Sektor akuakultur Pulau Pinang memiliki potensi ekonomi yang besar sebagai penyedia pangan dan sumber pendapatan masyarakat. Spesies yang umum dibudidayakan antara lain kakap putih, kerapu, dan jenahak yang dipelihara dalam keramba jaring apung. Namun, tingginya aktivitas budidaya juga diiringi dengan tantangan berupa infestasi parasit yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan.

Sebagai solusi, diperkenalkan inovasi BP2 (Break and Protect), yaitu metode berbasis bahan alami untuk memutus siklus hidup parasit sekaligus mencegah infeksi ulang.

“BP2 dikembangkan untuk memutus siklus hidup parasit tanpa menggunakan bahan kimia,” ujarnya.

Metode ini bekerja dengan menarik parasit untuk menempel dan bertelur pada media tertentu yang kemudian dibersihkan secara berkala. Penggunaannya lebih aman bagi ikan dan lingkungan serta berpotensi sebagai strategi jangka panjang.

“Penggunaan BP2 mampu menurunkan tingkat infestasi hingga 80% dalam 15 hari pertama,” ungkapnya.

Selain faktor parasit, kondisi lingkungan dan kesehatan ikan turut memengaruhi tingkat infeksi. Ikan dengan kondisi tubuh yang baik dan lingkungan yang terjaga cenderung lebih tahan terhadap infeksi. Kunci utama dalam pengendalian parasit adalah memahami siklus hidupnya, kemudian memutus siklus tersebut.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami pentingnya deteksi dini, pengelolaan lingkungan, serta inovasi teknologi dalam pengendalian parasit guna mendukung keberlanjutan akuakultur.

Penulis: Kurnia Maulida Farashovy

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *