KABAR FIKKIA – Rangkaian STEER East Java 2026 terus memperluas wawasan peserta mengenai konsep One Health melalui pembelajaran lapangan di kawasan ekowisata dan konservasi. 16 mahasiswa Department of Biomedical Engineering National University of Singapore (NUS) bersama mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) serta Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga mengikuti kegiatan di Bangsring Underwater dan Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi.
Kegiatan ini dirancang untuk menunjukkan bahwa inovasi kesehatan tidak hanya berkembang di rumah sakit atau laboratorium, tetapi juga lahir dari pemahaman terhadap hubungan antara manusia, satwa liar, dan lingkungan. Selama kegiatan, peserta didampingi oleh dr. Muhammad Nazmuddin, M.Sc. dan dr. Kurnia Alisaa Putri, Sp.PD., FINASIM.

Sebelum turun ke lapangan, peserta mengikuti kuliah tamu mengenai observasi penyu sebagai pembekalan awal. Pada sesi tersebut, mahasiswa mempelajari etika berinteraksi dengan satwa liar, prosedur selama kegiatan observasi, serta pentingnya menjaga habitat penyu agar aktivitas penelitian maupun wisata tidak mengganggu proses konservasi.
Belajar Travel Medicine melalui Ekowisata Bahari
Pembelajaran lapangan diawali di Bangsring Underwater pada Jumat (31/07/2026). Kawasan ekowisata yang dikenal sebagai pusat rehabilitasi terumbu karang di Selat Bali. Bersama Pokmaswas Bangsring Underwater dan pengelola wisata bahari, peserta mempelajari transformasi kawasan pesisir yang berhasil memadukan konservasi laut dengan pemberdayaan masyarakat.
Selain mengenal upaya restorasi terumbu karang, mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai aspek keselamatan wisata bahari. Diskusi mencakup langkah pencegahan tenggelam, penanganan sengatan biota laut, hingga strategi menjaga kelestarian ekosistem di tengah meningkatnya aktivitas wisata. Pembelajaran tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan wisatawan, masyarakat pesisir, dan lingkungan merupakan komponen yang saling berkaitan dalam praktik Travel Medicine.
Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan, peserta turut mengikuti kegiatan coral planting atau penanaman terumbu karang untuk mendukung rehabilitasi ekosistem perairan Selat Bali.
Memahami One Health melalui Konservasi Penyu
Perjalanan kemudian dilanjutkan Sabtu (01/08/2026) menuju Pantai Sukamade di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Di lokasi ini, mahasiswa mengunjungi fasilitas penetasan penyu dan mempelajari upaya konservasi lima spesies penyu yang kerap mendarat di pesisir selatan Jawa. Jenis penyu yaitu penyu hijau, penyu belimbing, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu tempayan.
Bersama petugas Balai Taman Nasional Meru Betiri dan Yayasan Penyu Banyuwangi, peserta mendalami pengelolaan kawasan konservasi, perlindungan habitat penyu, serta tantangan menjaga keseimbangan antara pelestarian satwa dan pengembangan wisata alam.

Pada malam hari, delegasi melakukan observasi proses penyu bertelur secara langsung di habitat alaminya. Keesokan harinya, peserta mengikuti pelepasan tukik ke laut sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian satwa dan keberlanjutan ekosistem pesisir.
Perwakilan Balai Taman Nasional Meru Betiri menyambut baik kolaborasi tersebut. “Kami berharap kegiatan ini melahirkan inovasi yang mendukung pelestarian satwa liar sekaligus memperkuat sinergi antara teknologi, kesehatan, dan konservasi,” ujarnya.
Melalui rangkaian pembelajaran ini, mahasiswa Universitas Airlangga dan National University of Singapore memperoleh pengalaman langsung mengenai implementasi konsep One Health. Pengalaman tersebut diharapkan mendorong lahirnya inovasi yang mampu mendukung pariwisata berkelanjutan, pelestarian keanekaragaman hayati, serta berkontribusi pada pencapaian SDGs poin 3 (Good Health and Well-being), 14 (Life Below Water), dan 17 (Partnerships for the Goals).
Penulis: Cantika Anggun Roudhotul Al Zahra
Editor: Avicena C. Nisa