Musim kemarau telah berlangsung di berbagai wilayah Indonesia membawa kenaikan suhu yang cukup signifikan. Cuaca menjadi lebih panas, kelembapan udara menurun, dan intensitas sinar matahari meningkat sepanjang hari. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga memengaruhi kesehatan hewan peliharaan maupun ternak. Salah satu kondisi yang paling sering terjadi selama musim kemarau adalah panting pada hewan.
Panting merupakan kondisi ketika hewan bernapas cepat dengan mulut terbuka untuk membantu menurunkan suhu tubuh. Hewan seperti anjing dan kucing tidak memiliki sistem pendinginan tubuh seefektif manusia karena jumlah kelenjar keringat yang sangat terbatas. Oleh sebab itu, sistem pernapasan menjadi mekanisme utama tubuh hewan untuk mengeluarkan panas berlebih.

Menurut Hall dan Carter (2021), panting merupakan respons fisiologis normal pada hewan ketika suhu tubuh meningkat akibat aktivitas fisik atau cuaca panas. Namun, panting yang terjadi secara berlebihan dapat menjadi tanda awal heat stress atau stres panas yang berbahaya bagi kesehatan hewan.
Heat stress terjadi ketika tubuh hewan tidak mampu lagi menyeimbangkan suhu internal dengan suhu lingkungan. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan suhu tubuh yang dapat mengganggu fungsi organ dan metabolisme. Dalam kasus berat, heat stress dapat berkembang menjadi heat stroke yang berisiko menyebabkan kematian.
Panting Berlebihan Memicu Dehidrasi
Panting yang berlangsung terlalu lama menyebabkan tubuh hewan kehilangan cairan lebih cepat melalui penguapan saat bernapas. Penelitian Mulyani et al. (2023), menyebutkan peningkatan suhu lingkungan secara signifikan memengaruhi frekuensi respirasi dan kondisi fisiologis hewan. Hewan yang terus mengalami panting tanpa asupan cairan cukup lebih rentan mengalami dehidrasi dan penurunan kondisi tubuh.

Tanda-tanda awal heat stress biasanya terlihat dari napas yang semakin cepat, lidah menjulur terus-menerus, tubuh lemas, hingga produksi air liur berlebihan. Pada kondisi lebih serius, hewan dapat mengalami muntah, kehilangan keseimbangan, bahkan penurunan kesadaran.
Anjing termasuk hewan yang paling sering mengalami panting saat cuaca panas. Ras tertentu seperti bulldog, pug, dan shih tzu memiliki risiko lebih tinggi karena struktur saluran pernapasan yang lebih pendek sehingga proses pelepasan panas tubuh menjadi kurang efektif. Selain anjing, kucing, kelinci, hingga hewan ternak juga dapat mengalami stres panas apabila berada di lingkungan dengan suhu tinggi dalam waktu lama.
Lingkungan Panas Jadi Faktor Utama
Kondisi lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan hewan selama musim kemarau. Kandang yang sempit, minim ventilasi, dan terkena sinar matahari langsung dapat mempercepat peningkatan suhu tubuh hewan. Debu yang meningkat selama musim kering juga berpotensi memicu gangguan pernapasan.
Menurut Nugroho dan Prasetyo (2022), manajemen lingkungan kandang menjadi faktor penting dalam menjaga kesejahteraan hewan saat musim kemarau. Ventilasi udara yang baik dapat membantu menurunkan suhu lingkungan dan mengurangi risiko heat stress pada hewan peliharaan maupun ternak.
Selain kondisi kandang, aktivitas fisik berlebihan pada siang hari juga dapat memperparah panting. Hewan yang dipaksa bermain atau berjalan terlalu lama di bawah terik matahari akan mengalami peningkatan suhu tubuh lebih cepat dibanding kondisi normal.
Cara Mencegah Hewan Mengalami Panting Berlebihan
Pencegahan heat stress pada hewan dapat dilakukan melalui langkah sederhana namun konsisten. Menyediakan air minum bersih dalam jumlah cukup menjadi hal paling penting selama musim kemarau. Air membantu menjaga kestabilan suhu tubuh sekaligus mencegah dehidrasi akibat panting.
Selain itu, hewan perlu ditempatkan di area yang teduh dan memiliki sirkulasi udara baik. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika suhu lebih rendah. Pemilik hewan juga dianjurkan rutin membersihkan kandang agar lingkungan tetap nyaman dan tidak terlalu panas.

Menurut Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2024), kesejahteraan hewan selama cuaca ekstrem harus menjadi perhatian masyarakat karena perubahan suhu yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan menurunkan kualitas hidup hewan.
Perubahan iklim membuat musim kemarau terasa lebih panas dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan hewan menjadi semakin penting. Panting memang merupakan respons alami tubuh hewan, tetapi kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele apabila terjadi secara berlebihan.
Perhatian sederhana seperti menyediakan air bersih, menjaga ventilasi kandang, dan mengurangi aktivitas di bawah terik matahari dapat membantu hewan tetap sehat selama musim kemarau. Dengan perawatan yang tepat, risiko heat stress dapat diminimalkan sehingga kesejahteraan hewan tetap terjaga.
Daftar Pustaka
Hall, E. J., & Carter, A. J. (2021). Heat Stress in Companion Animals. Journal of Veterinary Medicine, 15(2), 45–53.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2024). Pedoman Kesejahteraan Hewan pada Cuaca Ekstrem. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Jakarta.
Mulyani, R., Santoso, B., & Prabowo, A. (2023). Pengaruh Suhu Lingkungan terhadap Kondisi Fisiologis Hewan Peliharaan. Jurnal Veteriner Tropis, 8(1), 21–29.
Nugroho, A., & Prasetyo, D. (2022). Manajemen Lingkungan Kandang pada Musim Kemarau terhadap Kesejahteraan Hewan. Jurnal Kesehatan Hewan Indonesia, 10(3), 77–85.
Saputra, H., & Lestari, D. (2023). Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Hewan Domestik di Indonesia. Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner, 12(4), 101–109.
Siregar, M., Wijaya, T., & Rahman, F. (2022). Pencegahan Heat Stress pada Hewan Peliharaan di Wilayah Tropis. Indonesian Journal of Animal Health, 6(2), 55–63.
Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa