Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi mulai menjadi tantangan nyata bagi sektor peternakan di Indonesia. Musim hujan yang datang terlambat, kemarau yang berlangsung lebih panjang, hingga suhu yang semakin ekstrem membuat ketersediaan hijauan pakan ternak menjadi tidak stabil. Kondisi tersebut berdampak langsung pada produktivitas ternak karena kebutuhan nutrisi tidak selalu terpenuhi secara optimal.
Di tengah kondisi tersebut, silase menjadi salah satu solusi yang mulai banyak diperhatikan dalam manajemen pakan ternak. Silase merupakan hijauan pakan yang diawetkan melalui proses fermentasi dalam kondisi tanpa udara atau anaerob. Metode ini memungkinkan pakan tetap tersimpan dalam waktu lama tanpa kehilangan banyak kandungan nutrisi.
Menurut Yulianto et al. (2022), silase menjadi alternatif penting dalam menjaga ketersediaan pakan, terutama saat musim kemarau ketika hijauan segar mulai sulit ditemukan. Pengawetan hijauan melalui fermentasi juga membantu mempertahankan kualitas nutrisi sehingga kebutuhan ternak tetap dapat terpenuhi.
Bahan pembuatan silase umumnya berasal dari hijauan yang mudah ditemukan di lingkungan peternakan seperti rumput gajah, daun jagung, jerami padi, maupun limbah pertanian lainnya. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan silase juga dinilai mampu mengurangi pemborosan hasil panen yang sering kali tidak termanfaatkan secara maksimal.
Membuat Silase Mulai Skala Kecil
Proses pembuatan silase sebenarnya cukup sederhana dan dapat dilakukan oleh peternak skala kecil. Hijauan segar terlebih dahulu dicacah menjadi ukuran kecil agar proses fermentasi berjalan lebih baik. Setelah itu, bahan dicampur dengan tambahan seperti molase atau dedak untuk membantu pertumbuhan bakteri fermentasi dan meningkatkan kualitas silase.

Campuran kemudian dimasukkan ke dalam wadah tertutup seperti drum plastik, silo, atau kantong kedap udara. Pada tahap ini, keberadaan oksigen harus diminimalkan karena udara dapat memicu pertumbuhan jamur dan menyebabkan silase rusak. Setelah disimpan selama kurang lebih 14-21 hari, silase sudah dapat digunakan sebagai pakan ternak.
Penyimpanan Menentukan Hasil Fermentasi Silase
Kualitas silase sangat dipengaruhi oleh proses penyimpanan, Siregar dan Prabowo (2021). Silase yang baik umumnya memiliki aroma asam segar, tekstur yang masih baik, tidak berlendir, dan tidak berjamur. Sebaliknya, wadah yang tidak tertutup rapat dapat menyebabkan fermentasi gagal sehingga kualitas pakan menurun.
Selain menjaga ketersediaan pakan, penggunaan silase juga membantu peternak lebih siap menghadapi perubahan musim. Ketika produksi hijauan melimpah di musim hujan, peternak dapat menyimpan sebagian pakan sebagai cadangan untuk musim kemarau. Cara ini dinilai lebih efisien dibanding mengandalkan hijauan segar setiap hari tanpa persediaan cadangan.

Penelitian Nugraha et al. (2023) menunjukkan bahwa penggunaan silase mampu membantu menjaga kestabilan bobot ternak pada periode kekurangan hijauan. Hal tersebut membuktikan bahwa manajemen pakan memiliki peran besar dalam mempertahankan produktivitas peternakan di tengah perubahan iklim.
Fermentasi Pakan Jadi Strategi Ketahanan Peternakan
Meski memiliki banyak manfaat, penerapan silase di Indonesia masih belum maksimal, terutama pada peternakan rakyat berskala kecil. Sebagian peternak masih menganggap proses pembuatan silase rumit dan membutuhkan biaya besar. Padahal, teknik ini dapat dilakukan menggunakan alat sederhana dengan bahan yang tersedia di sekitar lingkungan peternakan.
Kurangnya edukasi dan pendampingan menjadi salah satu faktor yang membuat penggunaan silase belum berkembang secara luas. Banyak peternak belum memahami bahwa pengawetan pakan bukan hanya solusi sementara, tetapi juga bagian penting dari strategi ketahanan peternakan jangka panjang.
Menurut Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2024), adaptasi sektor peternakan terhadap perubahan iklim perlu dilakukan melalui penguatan manajemen pakan, pengelolaan limbah pertanian, dan peningkatan teknologi sederhana yang mudah diterapkan masyarakat.
Di tengah cuaca yang semakin tidak menentu, silase menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan peternakan. Tidak hanya membantu menjaga ketersediaan pakan, silase juga menjadi bentuk kesiapan peternak dalam menghadapi risiko perubahan musim yang semakin sulit diprediksi.
Melalui penerapan silase, peternak tidak sekadar menyimpan hijauan pakan, tetapi juga membangun ketahanan usaha ternak agar tetap stabil di tengah tantangan iklim yang terus berubah.
Daftar Pustaka
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (2024). Pedoman Pengelolaan Pakan Ternak pada Musim Kemarau. Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Jakarta.
Hidayat, N., Kusmartono, & Mashudi. (2021). Teknologi Silase sebagai Upaya Penyediaan Pakan Ternak Berkelanjutan pada Musim Kemarau. Jurnal Nutrisi Ternak Tropis, 4(2), 71–79.
McDonald, P., Henderson, A. R., & Heron, S. J. E. (1991). The Biochemistry of Silage (2nd ed.). Chalcombe Publications, United Kingdom.
Muck, R. E., Nadeau, E. M. G., McAllister, T. A., Contreras-Govea, F. E., Santos, M. C., & Kung Jr, L. (2018). Silage Review: Recent Advances and Future Uses of Silage Additives. Journal of Dairy Science, 101(5), 3980–4000.
Santi, R. K., Widyawati, S. D., & Suhartati, F. M. (2022). Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kualitas Fisik dan Nutrisi Silase Hijauan Pakan Ternak. Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis, 12(1), 45–53.
Siregar, S. B. (1996). Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Surono, S., Soejono, M., & Utomo, R. (2006). Kehilangan Bahan Kering dan Bahan Organik Silase Rumput Gajah pada Umur Potong dan Level Aditif yang Berbeda. Buletin Peternakan, 30(2), 62–69.
Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir (Mahasiswa Kedokteran Hewan)
Editor: Avicena C. Nisa