KABAR FIKKIA – Rangkaian STEER East Java 2026 berlanjut pada Rabu (29/07/2026) melalui pembelajaran lapangan di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar dan Gunung Ijen, Banyuwangi. Bersama mahasiswa Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) serta Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, delegasi Department of Biomedical Engineering National University of Singapore (NUS) mempelajari berbagai tantangan kesehatan yang ditemui di kawasan pesisir dan pegunungan.
Kedua lokasi dipilih untuk memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan Travel Medicine dalam berbagai kondisi lingkungan. Melalui observasi lapangan, peserta diajak memahami bahwa kesehatan perjalanan tidak hanya berfokus pada wisatawan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat lokal, kondisi lingkungan, dan keselamatan kerja di destinasi tujuan.

Mengkaji Kesehatan Masyarakat Pesisir di Pelabuhan Muncar
Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar menjadi lokasi pertama pembelajaran karena merupakan salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia. Di kawasan ini, peserta mengamati hubungan antara kesehatan lingkungan, sanitasi pelabuhan, serta keselamatan dan kesehatan kerja masyarakat pesisir.
Mahasiswa melakukan observasi terhadap aktivitas pelabuhan, berdiskusi bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar, serta berinteraksi langsung dengan komunitas nelayan. Dari kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan sanitasi kawasan, risiko kesehatan akibat aktivitas perikanan, hingga tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir dalam menjaga kesehatan dan produktivitas.
Bagi mahasiswa Teknik Biomedis NUS, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi kebutuhan nyata di lapangan sebagai dasar pengembangan inovasi teknologi yang dapat mendukung keselamatan pekerja dan masyarakat pesisir.
Memahami Risiko Kesehatan di Gunung Ijen
Pembelajaran kemudian dilanjutkan di kawasan Gunung Ijen, salah satu destinasi wisata alam yang memiliki karakteristik lingkungan ekstrem. Selama pendakian, peserta mengamati berbagai faktor risiko kesehatan yang berpotensi dihadapi wisatawan maupun masyarakat yang bekerja di kawasan tersebut.
Peserta juga melakukan wawancara dengan penambang belerang dan operator troli yang dikenal sebagai “Lamborghini Ijen”. Diskusi tersebut memberikan gambaran mengenai tantangan kesehatan kerja akibat paparan gas belerang, beban kerja fisik, serta berbagai bentuk adaptasi yang dilakukan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Rangkaian observasi ditutup dengan diskusi bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai pengelolaan kawasan konservasi, aspek keselamatan pengunjung, serta upaya pelestarian lingkungan yang mendukung keberlanjutan destinasi wisata.
Salah satu delegasi NUS, Yong Yan, mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti pembelajaran lapangan di Banyuwangi.
“Pengalaman ini membuka wawasan kami bahwa inovasi teknologi tidak hanya dibutuhkan di rumah sakit, tetapi juga untuk mendukung keselamatan pekerja dan wisatawan di lingkungan ekstrem,” ujarnya.
Melalui pembelajaran di kawasan pesisir dan pegunungan, mahasiswa Universitas Airlangga dan National University of Singapore memperoleh pemahaman bahwa setiap lingkungan memiliki tantangan kesehatan yang berbeda. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal dalam mengembangkan solusi inovatif yang mendukung keselamatan masyarakat dan pelancong, sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dalam bidang Travel Medicine serta mendukung pencapaian SDGs poin 3, 9, dan 17.
Penulis: Cantika Anggun Roudhotul Al Zahra
Editor: Avicena C. Nisa