Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Mahasiswa FIKKIA UNAIR Petakan Potensi TOGA di Desa Kemiren Berbasis SDGs

KABAR FIKKIA – Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga memetakan potensi Tanaman Obat Keluarga (TOGA)...

KABAR FIKKIA – Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga memetakan potensi Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Kemiren, Banyuwangi. Kegiatan berlangsung selama Juli 2026 melalui program UNAIR SustainAction. Program ini mendapat pendanaan dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) Universitas Airlangga.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Program ini juga mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya bidang kesehatan dan pelestarian lingkungan.

Program diinisiasi oleh Kementerian Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIKKIA. Pelaksanaan lapangan dilakukan Tim UNAIR SustainAction BEM FIKKIA. Tim tersebut diketuai Dewi Roso Wulan (KM 23, bersama Alqoniev Doelfif (KM 23), Levy Martdiana (KM 23), dan Shofwah Saffanah (KM 25)

Selama pemetaan, tim mendapat pendampingan empat kader TOGA Posyandu Desa Kemiren. Para kader membantu mahasiswa mengidentifikasi tanaman obat dan menggali pemanfaatannya oleh masyarakat.

Petakan TOGA di 29 Pekarangan Warga

Program ini berangkat dari banyaknya tanaman obat yang tumbuh di pekarangan rumah warga. Desa Kemiren berada di kawasan lereng Gunung Ijen yang mendukung pertumbuhan berbagai tanaman herbal. Masyarakat setempat telah memanfaatkan tanaman tersebut untuk pengobatan tradisional dan kebutuhan kesehatan keluarga. Namun, potensi tersebut belum terdokumentasi secara sistematis.

Koleksi TOGA milik salah satu warga. Sumber: Istimewa

Karena itu, tim melakukan pemetaan sebagai langkah awal penyusunan basis data tanaman obat desa. Pendataan dilakukan pada 29 pekarangan rumah warga yang tersebar di Desa Kemiren. Tim berhasil mengidentifikasi berbagai tanaman obat, seperti binahong, belimbing wuluh, cabe jawa, daun jeruk, daun salam, jahe, jambu biji, jeruk nipis, katuk, kecombrang, kelor, kemangi, kencur, kumis kucing, kunyit, lamtoro, lengkuas, lempuyang, lidah buaya, dan lolot.

Keanekaragaman tersebut menunjukkan besarnya potensi hayati Desa Kemiren. Tanaman tersebut dapat mendukung kesehatan keluarga sekaligus menjaga pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.

Libatkan Masyarakat dalam Pemetaan

Pemetaan dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Mahasiswa mendatangi rumah warga untuk mendata tanaman dan berdiskusi mengenai pemanfaatannya.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai sumber informasi dalam menggali potensi desa. Pengetahuan warga menjadi bagian penting dalam proses identifikasi dan dokumentasi TOGA.

Ketua Tim UNAIR SustainAction BEM FIKKIA, Wulan (KM 23), mengatakan pemetaan menjadi langkah awal pengembangan program berbasis TOGA.

“Melalui pemetaan ini, kami ingin mendokumentasikan potensi tanaman obat keluarga sebagai dasar pengembangan program pemberdayaan masyarakat berbasis TOGA. Harapannya, data tersebut dapat mendukung kesehatan masyarakat sekaligus melestarikan kekayaan hayati lokal Desa Kemiren,” ujar Wulan.

Ketua Kader TOGA Posyandu Desa Kemiren, Bu Kanah, turut mengapresiasi keterlibatan mahasiswa. Menurutnya, tanaman obat telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

“Selama ini tanaman obat banyak ditanam di pekarangan warga dan dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Kami berharap pemetaan ini membuat potensi TOGA lebih dikenal dan dapat dikembangkan menjadi program bermanfaat,” tuturnya.

Pendampingan bersama SDGs UNAIR dan warga Desa Kemiren. Sumber: Istimewa

Program ini mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pemanfaatan tanaman obat untuk kesehatan masyarakat. Kegiatan juga mendukung SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pelestarian kearifan lokal.

Selain itu, pemetaan turut mendukung SDG 15 (Life on Land) melalui pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Melalui kolaborasi mahasiswa, kader TOGA, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pendataan. Data tersebut dapat menjadi pijakan bagi pengembangan edukasi, penelitian, dan inovasi pemberdayaan masyarakat.

Dengan demikian, potensi herbal Desa Kemiren dapat terus dilestarikan dan dikembangkan. Potensi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat kesehatan sekaligus mendukung pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir

Editor: Avicena C. Nisa

Tags:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya