Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Batik Banjarwangi dan Gandrung Sewu Jadi Pengalaman Budaya Mahasiswa Internasional dalam OSING 2026

KABAR FIKKIA – Mencoba membatik dan menyaksikan ribuan penari Gandrung menjadi pengalaman budaya mahasiswa internasional di Banyuwangi. Pengalaman tersebut hadir...

KABAR FIKKIA – Mencoba membatik dan menyaksikan ribuan penari Gandrung menjadi pengalaman budaya mahasiswa internasional di Banyuwangi. Pengalaman tersebut hadir melalui program OSING (Oriented Student Integration Nature Guide) 2026. Sebanyak 20 mahasiswa internasional mengikuti rangkaian kegiatan pada 24 dan 26 Oktober 2026 oleh Badan Eksekutif Mahasiswa FIKKIA.

Salah satu kegiatan pengenalan budaya berlangsung di sentra Batik Banjarwangi, Desa Banjar, Banyuwangi. Sebelum praktik membatik, peserta memperoleh penjelasan mengenai karakteristik batik khas Banyuwangi. Materi tersebut mencakup beragam motif, jenis batik, teknik, serta tahapan pembuatannya.

Penjelasan disampaikan oleh Siti Nur Haliza, pengrajin sekaligus pengelola Batik Banjarwangi. Ia juga memperkenalkan salah satu motif khas Banyuwangi, yaitu Batik Kopi Pecah. Motif tersebut memiliki filosofi yang merepresentasikan nilai kerja keras masyarakat.

Pengenalan motif ini membantu peserta memahami makna di balik setiap corak batik. Setiap motif juga mencerminkan nilai kehidupan yang berkembang dalam masyarakat setempat.

Batik motif kembang kopi. Sumber: Istimewa

“Ada banyak motif batik di Banyuwangi. Motif yang paling terkenal adalah Gajah Oling. Namun, kegiatan coloring kali ini menggunakan motif Kopi Pecah. Motif tersebut memiliki makna yang mencerminkan kerja keras masyarakat,” ungkap Siti.

Baca juga: OSING 2026 Perkuat Pengalaman Lintas Budaya bagi 20 Mahasiswa Internasional

Ia juga menjelaskan tahapan pewarnaan hingga penyelesaian kain batik. “Setelah pewarnaan, kain melalui tahap washing untuk menghilangkan sisa pewarna. Selanjutnya, kain dikeringkan,” jelasnya.

Tidak hanya memperoleh pengetahuan, peserta juga berkesempatan mencoba proses membatik. Mereka mengikuti tahap coloring menggunakan teknik pencoletan. Teknik ini dilakukan dengan mengaplikasikan warna pada bagian tertentu sesuai pola motif.

Pewarnaan batik tektik pencoletan. Sumber: Istimewa

Siti menjelaskan, Batik Banjarwangi memiliki tiga teknik pembuatan. Ketiganya meliputi teknik cap, lukis, serta kombinasi cap dan lukis. Pengrajin juga menggunakan pewarna alami maupun kimia. Pewarna alami menghasilkan warna lebih lembut, sedangkan pewarna kimia menghasilkan warna lebih pekat dan kontras.

Menyaksikan Kemegahan Festival Gandrung Sewu

Pengalaman mengenal budaya Banyuwangi berlanjut melalui Festival Gandrung Sewu. Festival tahunan ini menjadi salah satu pertunjukan seni budaya unggulan Banyuwangi. Ribuan penari Gandrung tampil dalam satu panggung pertunjukan.

Tari Gandrung merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Banyuwangi. Tarian ini merepresentasikan kekayaan tradisi dan kesenian daerah. Pertunjukan tersebut memberikan pengalaman budaya yang berkesan bagi mahasiswa internasional.

Salah satu peserta, Zakuan asal Management and Science University Malaysia, mengungkapkan kekagumannya setelah menyaksikan pertunjukan secara langsung.

“Saya kira arti Sewu, yang berarti seribu, hanya digunakan untuk marketing. Ternyata memang benar-benar ada seribu penari Gandrung. Pertunjukannya sangat cantik,” ungkap Zakuan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, OSING 2026 menghadirkan ruang pembelajaran dan pertukaran budaya. Peserta tidak hanya mengenal budaya Banyuwangi melalui penjelasan, tetapi juga pengalaman langsung. Mulai dari mencoba membatik hingga menyaksikan Festival Gandrung Sewu, mereka mengenal kreativitas dan identitas masyarakat lokal.

Penulis: Sabitha Helmi

Editor: Avicena C. Nisa

Tags:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya