Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Belajar Metode Pemijahan Induk Kerapu dari Ekspert  BPBAP Situbondo

KABAR FIKKIA - Jumat (30/8/24) Program Studi Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga kembali mengundang...

KABAR FIKKIA – Jumat (30/8/24) Program Studi Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga kembali mengundang praktisi ahli perikkanan. Kuliah tamu diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan keilmuan mahasiswa, terutama dalam hal managemen pemeliharaan kerapu. Kuliah tamu pagi itu terintegrasi dengan mata kuliah Manajemen Akuakultur Payau. Kini koordinator pemeliharaan induk Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Eko Sutrisno, S.Pi. menjadi narasumber dengan topik Manajemen Induk Kerapu. Darmawan Setia Budi, S.Pi., M.Si turut mendampingi jalannya kuliah di Ruang G102 dengan dihadiri 31 mahasiswa Akuakultur semester lima.

Pemijahan yang tepat tentukan kualitas pembibitan

Budidaya Ikan kerapu tengah menjadi primadona perikanan konsumsi. Nilai ekonomi yang tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat, menjadikan budidaya ikan kerapu komoditas yang menjanjikan. Proses budidaya ikan kerapu tidak lepas dengan kegiatan pemijahan induk. Pemijahan induk merupakan langkah awal yang krusial dalam budidaya ikan kerapu. Proses ini menentukan keberhasilan keseluruhan budidaya, mulai dari produksi telur, kualitas benih hingga panen.

Pemijahan induk ikan kerapu dapat dilakukan dengan 2 cara yakni pemijahan alami dan pemijahan buatan. Pemijahan alami merupakan pemijahan yang terjadi tanpa campur tangan manusia. Sebaliknya pemijahan buatan merupakan pemijahan yang terjadi dengan campur tangan manusia. Pemijahan alami dilakukan dengan manipulasi lingkungan dan manipulasi hormonal. Terdapat dua tipe manipulasi hormonal yang dilakukan di BPBAP Situbondo. Pertama, manipulasi hormonal guna pematangan gonad dan manipulasi hormonal guna mempercepat ovulasi dan spermiasi pada ikan kerapu.

Jenis hormon yang biasa digunakan di

untuk pematangan gonad yaitu 50 RU Puberogen/kg dan 250 IU HCG/kg. Jika dalam 24 jam setelah penyuntikan ikan belum memijah maka dapat dilakukan penyuntikkan kedua dengan dosis 2X dari dosis pertama. Adapun hormon yang digunakan untuk mempercepat ovulasi dan spermiasi pada ikan kerapu adalah ovaprim.

Pemberian pakan yang tepat

Dalam kuliahnya, Eko Sutrisno juga mengingatkan bahwa untuk menunjang kualitas telur dan benih ikan kerapu yang baik diperlukan manajemen pakan yang tepat. Pakan induk yang digunakan di BPBAP Situbondo yaitu ikan segar. Meliputi ikan tongkol, ikan selar, dan ikan layang, dan cumi-cumi dengan dosis 3-5% dari biomassa. Pemberian pakan dilakukan 1 hari sekali – 2 hari sekali. Untuk mempercepat kematangan gonad, juga dilakukan penambahan vitamin E dan multivitamin dengan dosis 1 g/induk.

Muncul pertanyaan menarik dari Fika terkait pemberian pakan. Ia menanyakan mengapa frekuensi pemberian pakan induk cenderung sedikit.

“ 1 hari sekali bahkan 2 hari sekali, apakah hal tersebut dipengaruhi dari jenis pakan yang diberikan.” Tanya Fika.

Pertanyaan tersebut dijawab terperinci oleh Eko

“Pada induk cenderung hanya terjadi pertumbuhan gonadik. Tidak lagi pertumbuhan panjang tubuh. Pada kondisi tersebut dalam sehari pakan yang telah diberikan belum tercerna sempurna. Sehingga untuk efisiensi pakan dilakukan pemberian pakan dengan frekuensi demikian”, jawab Eko menanggapi pertanyaan tersebut.

Pertanyaan pertama menimbulkan ragam pertanyaan dari mahasiswa lain. Penyelenggaraan kuliah tamu diharapkan dapat mengasah kemampuan berpikir kritis dan menggali banyak ilmu dari praktisi ahli.

Penulis: Syarifatul Jamil

Editor: Avicena C. Nisa

Tags:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like