FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Edukasi DBD Tingkatkan Kewaspadaan Masyarakat di Fase Kritis

KABAR FIKKIA – Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKKIA Universitas Airlangga menggelar edukasi Demam Berdarah Dengue (DBD) di Aula Puskesmas Klatak, Kamis (25/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari diseminasi hasil observasi jentik nyamuk Aedes aegypti. Observasi dilakukan oleh mahasiswa peminatan Epidemiologi angkatan 2023 pada 96 rumah RT 02 dan RT 03 di Kelurahan Klatak, Lingkungan Tanjung Solong.

Edukasi menghadirkan dosen FIKKIA Universitas Airlangga, dr. Dara Hanifa Rahman, M.Biomed., sebagai narasumber. Ia menjelaskan penyebab, gejala, fase kritis, hingga pencegahan DBD kepada masyarakat.

Kenali Gejala dan Fase Kritis DBD

Dr. Dara menjelaskan bahwa DBD disebabkan oleh virus dengue. Virus tersebut ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini aktif menggigit pada pagi hingga sore hari. Nyamuk juga berkembang biak di genangan air bersih sekitar rumah.

Menurutnya, DBD tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Banyak penderita mengira dirinya hanya mengalami demam biasa. Akibatnya, mereka terlambat memperoleh penanganan medis. Padahal, DBD dapat menyebabkan penurunan trombosit dan kebocoran plasma. Kondisi tersebut berisiko memicu perdarahan hingga syok.

Peserta juga mempelajari gejala DBD yang perlu diwaspadai. Gejalanya meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan tubuh lemas. Penyakit ini memiliki masa inkubasi sekitar tiga hingga sepuluh hari.

“Salah satu fase yang paling perlu diwaspadai adalah fase kritis. Fase ini biasanya terjadi pada hari keempat hingga ketujuh,” jelas dr. Dara.

Ia menjelaskan bahwa demam sering mulai turun pada fase tersebut. Namun, risiko komplikasi justru meningkat. Penurunan trombosit dan kebocoran cairan tubuh dapat terjadi pada fase ini.

Dorong Pencegahan melalui PSN 3M Plus

Dr. Dara juga menjelaskan tanda bahaya DBD. Gejalanya meliputi muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, serta sulit makan dan minum. Penderita juga perlu waspada jika mengalami perdarahan atau sulit dibangunkan. Kondisi tersebut memerlukan penanganan segera di fasilitas kesehatan.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diajak menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus. Masyarakat perlu menguras tempat penampungan air secara rutin. Wadah penyimpanan air juga harus ditutup rapat. Barang bekas yang berpotensi menampung air perlu dimanfaatkan atau didaur ulang.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa menyampaikan hasil observasi kepada masyarakat. Edukasi tersebut juga meningkatkan pemahaman mengenai pencegahan DBD. Kegiatan ini menunjukkan implementasi pembelajaran berbasis masyarakat di FIKKIA Universitas Airlangga.

Penulis: Aqila Fawzia Mustafa

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *