FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mahasiswa Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR Ikuti Guest Lecture Internasional tentang Patologi Satwa Liar

KABAR FIKKIA – Temuan Feline Morbillivirus pada macan tutul menjadi salah satu bukti bahwa penyakit virus pada satwa liar terus berkembang dan memerlukan perhatian dunia. Berangkat dari fenomena tersebut, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga menggelar Guest Lecture internasional yang menghadirkan pakar patologi veteriner dari Chulalongkorn University, Thailand. Kegiatan ini diikuti 94 mahasiswa Kedokteran Hewan untuk mempelajari berbagai kasus penyakit emerging pada satwa liar.

Acara menghadirkan narasumber istimewa, Prof. Somporn Techangamsuwan, DVM, MSc, PhD, dari Faculty of Veterinary Science Chulalongkorn University, Thailand. Kehadiran ahli patologi veteriner tersebut memberikan kesempatan untuk mahasiswa untuk mempelajari langsung pengalaman penanganan kasus penyakit menular baru pada satwa liar. “Materi ini sangat membuka wawasan kami tentang ancaman penyakit lintas spesies,” ungkap salah satu mahasiswa peserta.

Kasus-Kasus Viral yang Mengguncang Dunia Satwa Liar

Dalam pemaparannya, Prof. Somporn membahas sejumlah kasus penting yang pernah terjadi di Thailand. Salah satunya adalah wabah Canine Distemper Virus (CDV) pada musang kopi tahun 2011 yang menyebabkan kematian 100% (20/20 ekor). Musang menunjukkan gejala berat seperti muntah, diare, sesak napas, hingga kejang. Analisis genetik menemukan mutasi Y549H yang memungkinkan virus beradaptasi ke spesies selain anjing.

“Kasus ini menegaskan pentingnya biosekuriti untuk mencegah spillover antarspesies,” jelasnya

Selain itu, ia juga menyoroti wabah Carnivore Protoparvovirus-1 (CPPV-1) pada musang tahun 2013 dengan tingkat kematian 69%. Virus ini teridentifikasi sebagai Feline Panleukopenia Virus (FPV) dengan mutasi baru G573S, yang menunjukkan parvovirus terus memperluas kisaran inangnya.

Tidak berhenti di situ, Prof. Somporn juga memaparkan kasus Feline Morbillivirus pada macan tutul, FPV pada kucing bakau, Mastadenovirus pada monyet colobus, hingga Japanese Encephalitis Virus (JEV) pada meerkat. Bahkan lumba-lumba di Teluk Thailand ditemukan mengalami kanker kulit akibat Alphaherpesvirus, serta kematian akibat Tembusu Virus (TMUV) yang sebelumnya dikenal sebagai virus unggas.

Pentingnya Pendekatan One Health

Seluruh kasus tersebut menunjukkan pola yang sama: penyakit virus emerging pada satwa liar umumnya berasal dari spillover lintas spesies, terutama dari hewan domestik atau melalui perdagangan satwa liar. Faktor seperti biosekuriti yang buruk, hilangnya habitat, stres lingkungan, dan perpindahan satwa memperbesar risiko munculnya penyakit baru.

Prof. Somporn menegaskan bahwa pendekatan One Health menjadi kunci dalam mencegah penyebaran penyakit dan mendukung konservasi satwa liar. “Kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Semua saling terkait,” tegasnya.

Tonggak Pembelajaran Global

Guest Lecture ini tidak hanya memperkaya pengetahuan mahasiswa, tetapi juga memperkuat komitmen FIKKIA UNAIR dalam menyiapkan calon dokter hewan yang peka terhadap isu global. Dengan memahami kasus-kasus nyata dari Thailand, mahasiswa diharapkan mampu mengantisipasi potensi ancaman serupa di Indonesia.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi internasional dalam bidang kedokteran hewan sangat penting untuk menghadapi tantangan kesehatan masa depan. Lebih dari sekadar kuliah tamu, acara ini menjadi tonggak pembelajaran global yang menegaskan peran mahasiswa kedokteran hewan UNAIR sebagai generasi yang siap menghadapi kompleksitas penyakit emerging di era modern.

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *