KABAR FIKKIA – Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Adinda Rizki Novia Tamara (KM 24) dan Teguh Parmonangan Hasibuan (KM 25), berhasil menorehkan prestasi pada ajang National Essay Competition Ignite Future Fest. Kompetisi diselenggarakan oleh Futura Innovation Hub dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Sabtu-Minggu (04-05/04/2026).
200 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia hadir berkompetisi menyuarakan ruang aman siswa di sekolah. Melalui ide inovatif yang mereka ajukan, keduanya berhasil meraih Bronze Medal, Honorable Medal & Favorite Poster.

Dorong Pelaporan Tindak Kekerasan di Sekolah
Penghargaan Bronze Medal tersebut diraih melalui esai berjudul “SAFE SPACE SCHOOL: Model Perlindungan Anak dari Kekerasan Seksual di Sekolah Melalui Integrasi Pendekatan Psikososial dan Platform Digital Sahabat Aman Berbasis “Trust-Chain System”.
Kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan masih banyak tidak terlaporkan. Kejadian ini diakibatkan sistem pelaporan yang belum sepenuhnya aman dan terintegrasi. Melalui konsep Safe Space School, mahasiswa menghadirkan model perlindungan anak yang mengintegrasikan pendekatan psikososial dengan platform digital “Sahabat Aman”.
Model tersebut dikembangkan melalui tiga pilar utama, yaitu edukasi pencegahan, pendampingan sebagai ruang aman, serta sistem pelaporan digital berbasis Trust-Chain System dan Gradual Identity Disclosure System (GIDS).
Sistem ini memungkinkan korban membuka identitas secara bertahap sesuai kesiapan psikologisnya dan mendorong keberanian untuk melapor.
Raih Kategori Poster Favorit
Selain meraih Bronze Medal, Adinda dan Teguh juga memperoleh Honorable Medal & Favorite Poster melalui esai berjudul “THE SENTIENT CITY: Transformasi Tata Kelola Proaktif Melalui Neural Civic Hub dan Social Impact Bonds dalam Mewujudkan Pembangunan Inklusif (SDG 11 & 16)”.
Ide tersebut berfokus pada penguatan tata kelola kota melalui sistem pusat kendali pintar bernama “Neural Civic Hub” yang mampu mendeteksi krisis layanan publik secara cepat. Konsep ini juga didukung oleh skema pendanaan “Social Impact Bonds (SIB)” yang melibatkan pihak swasta untuk menjaga keberlanjutan layanan publik.
Selama proses persiapan, keduanya mengaku menghadapi tantangan dalam membagi waktu karena harus menyusun dua esai dengan topik berbeda dalam waktu yang singkat.
“Tantangan terbesar kami ada pada manajemen waktu, karena dalam waktu yang singkat kami harus menyusun dua esai sekaligus dengan topik yang berbeda,” ujar Adinda.
Teguh menambahkan bahwa kerja sama tim menjadi faktor penting dalam keberhasilan mereka.
“Kami saling mendukung dan membagi peran dengan baik, sehingga setiap ide dapat dikembangkan secara maksimal,” ungkapnya.
Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam menghadirkan solusi terhadap berbagai permasalahan sosial, khususnya dalam perlindungan anak dan penguatan layanan publik yang inklusif.
Penulis: Riyanda Helmaliya Putri
Editor: Avicena C. Nisa
