Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

PB PDHI Bekali Dokter Hewan Gelombang II FIKKIA UNAIR  Day One Competency Agar Siap Profesi Sejak Hari Pertama

KABAR FIKKIA – Seorang dokter hewan harus dapat menguasai keilmuan klinis yang sinergis dengan etika profesional yang bertanggung jawab selepas...

KABAR FIKKIA – Seorang dokter hewan harus dapat menguasai keilmuan klinis yang sinergis dengan etika profesional yang bertanggung jawab selepas dilantik menjadi veterinarian. Hal tersebut terlebih dahulu diarahkan kepada mahasiswa Gelombang II Pendidikan Profesi Dokter Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi. Kegiatan kuliah pengarahan Day One Competency berlangsung pada Minggu (27/9/2026) di Smartclass Kampus Mojo dengan menghadirkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) periode 2022-2026. Konsep tersebut hadir sebagai kompetensi minimum rujukan WOAH bagi penyandang gelar dokter hewan sejak memasuki dunia profesi.

Tidak Harus Bisa Dalam Sekejap

Sekjend PB PDHHI, drh. Andi Wijanarko, M.M mengatakan pengenalan Day One Competency bukan berarti dokter hewan baru harus langsung menjadi ahli segala bidang. Konsep itu kemampuan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan tanggung jawab profesional minimum setiap layanan veteriner. Lulusan juga diharapkan mampu mengenali batas kompetensinya, mengetahui waktu harus berkonsultasi atau merujuk, dan terus mengembangkan diri melalui pendidikan berkelanjutan di tengah semakin kompleksnya profesi dokter hewan.

MAhasiswa PPDH Gelombang 2. Sumber: Istimewa

Penyakit lintas batas, zoonosis, keamanan pangan, antimicrobial resistance (AMR), kesejahteraan hewan, perdagangan internasional, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi menuntut dokter hewan memiliki kompetensi yang lebih luas daripada sekadar diagnosis dan terapi.

“Terdapat 14 inti kompetensi yang saling terintegrasi dan harus dikuasai,” katanya.

Mulai dari ilmu dasar dan clinical reasoning, diagnosis dan terapi, epidemiologi dan surveilans, penyakit menular dan pengendalian wabah, zoonosis dan One Health, keamanan pangan dan veterinary public health, animal welfare, biosekuriti dan karantina, obat hewan dan antimicrobial stewardship, laboratorium dan diagnostik, komunikasi profesional, etika dan profesionalisme, Veterinary Services dan regulasi, hingga kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat dan bencana.

One Health sebagai Cara Berpikir

One Health menjadi bagian vital veterinarian memerangi zoonosis, foodborne disease, maupun resistensi antimikroba yang berkaitan erat antara kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan lingkungan. Dokter hewan harus mampu mengidentifikasi risiko, berkomunikasi mengenai kesehatan secara proporsional, serta berkolaborasi dengan berbagai profesi dan sektor. Tanggung jawab tersebut juga terlihat dalam bidang keamanan pangan.  Dokter hewan perlu memahami risiko sepanjang rantai farm-to-fork, higiene dan sanitasi, pemeriksaan antemortem dan postmortem, hingga traceability sampai dengan respons terhadap masalah keamanan pangan.

“Peran ini menjadi bagian dari kontribusi dokter hewan dalam memastikan produk hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal sesuai regulasi yang berlaku,” jelasnya.

Profesionalisme dan Tanggung Jawab

Dokter hewan perlu menjaga etika dan profesionalisme dengan memegang teguh integritas, kerahasiaan, memahami konflik kepentingan, mengenali batas kompetensi dan kewenangan, mematuhi kode etik, standar profesi, dan regulasi. Hal yang sama berlaku dalam penggunaan obat hewan. Pemilihan obat harus mempertimbangkan diagnosis, indikasi, manfaat dan risiko, ketepatan dosis, rute, interval, durasi, adverse reaction, serta implikasi terhadap residu dan withdrawal time. Pada penggunaan antimikroba, prinsip antimicrobial stewardship perlu menjadi bagian dari budaya profesional sejak awal memasuki profesi.

“Jangan sampai anda terkena masalah karena tidak tahu regulasi terkini terkait kebijakan penggunaan obat manusia untuk hewan,” pungkasnya.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Avicena C. Nisa

Tags:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like