KABAR FIKKIA – Perkembangan teknologi digital mengubah kebutuhan kompetensi di berbagai sektor industri, termasuk akuakultur. Menjawab tantangan tersebut, Prodi Akuakultur FIKKIA UNAIR menghadirkan Zulfikar, S.Sos., M.M., Division Head of Talent Acquisition & Employer Branding PT Central Proteina Prima Tbk (CP Prima) Rabu (22/07/2026) di kanal zoom.
Kuliah tamu bertajuk Growth Mindset in the Digital Era dan From Campus to Career: Learning Agility as Your Advantage, membahas perubahan kebutuhan tenaga kerja di industri akuakultur serta kompetensi yang perlu dipersiapkan mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja.
Adaptasi Menjadi Kunci Menghadapi Transformasi Industri
Zulfikar menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah melahirkan berbagai profesi baru dengan kebutuhan keterampilan yang berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, industri akuakultur juga mengalami transformasi melalui penerapan smart farming, sistem pemantauan digital (digital monitoring), pemberian pakan otomatis (auto feeder), serta pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), big data, dan otomasi.
Perubahan tersebut menuntut lulusan tidak hanya menguasai kemampuan teknis, tetapi juga memiliki pola pikir yang terbuka terhadap pembelajaran dan perubahan.
“Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha dan proses belajar. Berbeda dengan fixed mindset yang cenderung takut gagal, growth mindset memandang kegagalan sebagai bagian dari proses untuk terus berkembang,” ujar Zulfikar.
Ia juga memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 yang menunjukkan terdapat sekitar 692 perusahaan budidaya ikan aktif di Indonesia. Sektor budidaya air tawar terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan produksi perikanan budidaya di tengah keterbatasan sumber daya perikanan tangkap. Kondisi tersebut membuka peluang kerja yang semakin luas bagi lulusan bidang akuakultur.
Learning Agility Mendukung Kesiapan Memasuki Dunia Kerja
Selain growth mindset, Zulfikar menekankan pentingnya learning agility, yaitu kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan menerapkan pengetahuan baru secara cepat dalam menghadapi perubahan.
Menurutnya, perusahaan tidak hanya mempertimbangkan kemampuan akademik, tetapi juga melihat kesesuaian antara kompetensi pelamar dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengembangkan kombinasi antara keterampilan teknis, kemampuan komunikasi, kolaborasi, adaptasi, penguasaan bahasa asing, serta keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Pada sesi Exploring Career in CP Prima, Zulfikar menjelaskan berbagai peluang karier bagi lulusan perikanan di PT Central Proteina Prima Tbk, mulai dari Aquaculture Technician, Feed Nutritionist, Disease, Health and Environment, Research and Development, hingga Food Processing. Ia juga menyampaikan bahwa lulusan bidang perikanan menjadi salah satu kelompok yang banyak direkrut perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah seorang mahasiswa menanyakan pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill ketika melamar pekerjaan di industri akuakultur.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Zulfikar menjelaskan bahwa kemampuan teknis tetap menjadi fondasi utama. Namun, perkembangan teknologi membuat kemampuan beradaptasi, belajar hal baru, dan bekerja sama menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan perusahaan.
“Keahlian teknis dan soft skill harus berjalan seimbang agar tidak hanya membantu seseorang memperoleh pekerjaan, tetapi juga mampu berkembang mengikuti perubahan industri,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kompetensi yang dibutuhkan industri akuakultur saat ini. Selain memahami perkembangan teknologi di sektor budidaya, peserta juga mendapatkan wawasan mengenai pentingnya membangun pola pikir yang adaptif dan kesiapan belajar sepanjang hayat sebagai bekal memasuki dunia kerja.
Penulis: Farra Azzarani
Editor: Avicena C. Nisa