Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Sumpah Profesi Menjadi Awal Pengabdian Dokter Hewan Muda FIKKIA UNAIR

KABAR FIKKIA – Suasana khidmat menyelimuti Pelantikan Dokter Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR)...

KABAR FIKKIA – Suasana khidmat menyelimuti Pelantikan Dokter Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Periode 2. Acara yang terselenggara pada Senin (28/9/2026) di Pendopo Sabha Swagata, Banyuwangi itu menjadi momentum dokter hewan yang baru lulus mengucapkan sumpah profesi di hadapan kitab suci dengan didampingi para rohaniawan. Satu persatu nama dokter hewan baru dibacakan, diberikan gordon oleh KPS PPDH FIKKIA, dan menerima sertifikat profesi dari Dekan FIKKIA. Momen itu menjadi tanda perjalanan pengabdian sebagai dokter hewan sampai akhir hayat akan dimulai.

Dominasi Srikandi Dokter Hewan

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), drh. Andi Wijanarko, M.M., menyebut bahwa profesi dokter hewan saat ini semakin banyak diisi oleh perempuan. Membuktikan srikandi menjadi bagian penting dalam profesi veteriner sekarang. Setiap dokter hewan memiliki perjalanan panjang yang tidak terlepas dari peran keluarga dan berbagai pihak yang telah mengantarkan hingga tahap pelantikan. Oleh karena itu, beliau mengingatkan sumpah profesi bukan sekadar seremoni. Tapi pedoman menjalankan tanggung jawab sebagai dokter hewan.

Pelantikan Dokter Hewan Muda Gelombang 2. Sumber: Istimewa

“Sejak hari pertama dokter hewan harus memiliki kompetensi dasar, cara berpikir profesional, integritas, kemampuan komunikasi, kesadaran terhadap keterbatasan diri, dan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab,” ujar Andi.

Salah satu kemampuan yang tidak boleh diabaikan adalah komunikasi karena menjadi bagian penting dalam menjalankan pelayanan profesional. Kembangkan tiga hal utama yaitu kompetensi dalam ilmu pengetahuan, integritas dalam menjalankan profesi, dan empati dalam pengabdian kepada masyarakat.

Belajar Sepanjang Hayat dan Menghidupkan One Health

Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi serta kecerdasan buatan yang semakin pesat juga menuntut dokter hewan untuk terus belajar. Menurut Andi, pendidikan profesi tidak boleh menjadi akhir dari proses pembelajaran karena tantangan di dunia veteriner akan terus berubah. Ia menekankan bahwa konsep One Health harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan tidak berhenti sebagai slogan. Dokter hewan memiliki peran penting dalam menjembatani kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.

“Hari ini sumpah telah diucapkan. Besok kompetensi kalian mulai dibuktikan. Seumur hidup integritas akan diuji. Selamat datang dokter hewan muda di keluarga dokter hewan Indonesia dan selamat mengabdi,” tutupnya.

Kenang Perjalanan dan Kebersamaan

Perwakilan mahasiswa, drh. Dina Yulisah, turut menyampaikan pesan reflektif dalam momentum pelantikan. Ia mengenang perjalanan bersama selama menempuh pendidikan profesi termasuk kenangan terhadap salah satu rekan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Hewan (PPDH) FIKKIA UNAIR yang berpulang ketika menjalani stase. Yaitu almarhumah Shelly Oktania Nurvita Sari. Keberhasilan menyelesaikan pendidikan bukan hanya menjadi pencapaian pribadi para lulusan. Terdapat peran keberhasilan orang tua dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan.

“Hari ini satu pintu tertutup, beribu pintu menunggu untuk diketuk. Bekal kita tidak hanya IPK, tetapi juga daya tahan yang telah diasah bertahun-tahun,” ujarnya.

Dina mengingatkan para lulusan agar tidak takut melakukan kesalahan maupun memulai kembali dari titik awal. Konsistensi dalam berbuat baik diyakini akan membuka jalan bagi lahirnya pemimpin, pengusaha, maupun akademisi yang mampu memberikan kontribusi besar lainnya bagi masyarakat. Hari ini sumpah menjadi titik pedoman sebagai seorang dokter hewan. Jangan pernah puas, sombong, dan kelelahan sampai menghilangkan semangat. Teruslah belajar abadi dari pasien yang akan terus silih berganti.

“Harimau tidak terlihat buas di kandangnya dan anak panah tidak terlihat tajam kalau tidak dilepas,” katanya.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Avicena C. Nisa

Tags:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like