KABAR FIKKIA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa dampak terhadap satwa liar yang tidak hanya berkaitan dengan kehilangan habitat. Asap yang dihasilkan dari kebakaran juga dapat mengganggu kesehatan satwa, termasuk sistem pernapasan primata.
Sebagai dokter hewan satwa liar, drh. Yumni Khairina Ghassani, M.Si menjelaskan bahwa sistem pernapasan primata memiliki kemiripan dengan manusia. Udara masuk melalui hidung atau mulut, kemudian melewati saluran pernapasan atas, trakea, dan bronkus hingga mencapai tempat terjadinya pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

Menurutnya, primata memiliki kapasitas paru-paru dan laju metabolisme yang relatif tinggi untuk mendukung aktivitas fisiknya. Karena itu, kerusakan pada permukaan mukosa saluran pernapasan dapat dengan cepat memicu gagal napas atau penurunan kondisi tubuh secara drastis.
Asap Mengganggu Saluran Pernapasan
Ketika primata berada di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk akibat asap karhutla, terjadi iritasi akut pada jaringan mukosa. Dokter Yuni menjelaskan bahwa silia atau rambut getar pada saluran napas dapat mengalami kelumpuhan sementara.
“Terjadi iritasi akut pada jaringan mukosa. Silia (rambut getar) di saluran napas mengalami kelumpuhan sementara, memicu penumpukan mukus/lendir tebal, peradangan, dan penyempitan saluran napas (bronchospasm),” jelasnya.
Partikel yang terdapat dalam asap juga dapat memberikan dampak lebih jauh terhadap sistem pernapasan. Partikulat PM2.5 dan PM10 dapat menembus hingga alveolus dan memicu reaksi inflamasi lokal serta destruksi jaringan paru. Sementara itu, gas beracun karbon monoksida (CO) dapat mengikat hemoglobin lebih kuat daripada oksigen sehingga memicu hipoksia jaringan.
Paparan asap kebakaran dapat berkaitan dengan sejumlah gangguan kesehatan pernapasan pada primata. Dokter Yuni menyebut ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut, bronkitis, pneumonia, serta emfisema atau edema pulmonum pada kasus paparan berat.
Kenali Tanda Gangguan Pernapasan
Gangguan pernapasan pada primata dapat terlihat melalui sejumlah tanda fisik. Di antaranya batuk, bersin, leleran hidung berlebih, serta cuping hidung yang selalu bergerak saat bernapas. Primata juga dapat menunjukkan pola pernapasan yang cepat atau dangkal atau tachypnea, serta menggunakan otot perut secara berlebihan untuk bernapas atau dyspnea. Perubahan perilaku juga dapat muncul, seperti letargi, lemas, dan posisi tubuh membungkuk untuk menahan napas.
Dampak paparan asap juga berbeda berdasarkan durasinya. Paparan singkat dapat memicu iritasi akut yang umumnya bersifat reversibel atau dapat pulih apabila satwa segera dipindahkan ke udara bersih. Sebaliknya, paparan berulang atau kronis dapat memicu remodeling jaringan paru, fibrosis pulmonal permanen, penurunan fungsi imunologi, serta gangguan reproduksi.
Gangguan Pernapasan Memengaruhi Perilaku
Dampak asap terhadap primata tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Kondisi lemas akibat hipoksia dapat menyebabkan aktivitas bersosialisasi, grooming, dan jelajah harian menurun drastis.
“Satwa primata yang stres dan sesak napas menjadi lebih agresif atau justru menjadi sangat pasif dan mudah dimangsa oleh predator,” jelas Dokter Yumni.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya perlindungan terhadap habitat primata. Menurut pengajar profesi dokter hewan FIKKIA, habitat yang sehat menerapkan fungsi homeostasis lingkungan. Hutan yang utuh menyediakan iklim mikro yang menstabilkan suhu dan menyaring polutan sehingga kesehatan dan kesejahteraan satwa primata dapat terjaga secara alami berdasarkan prinsip Five Domains.
Apabila primata ditemukan berada di sekitar permukiman setelah terjadi kebakaran, masyarakat perlu menjaga jarak aman, mengamankan hewan peliharaan, dan menghubungi BKSDA atau lembaga rehabilitasi satwa. Sebaliknya, masyarakat tidak dianjurkan mendorong atau memprovokasi satwa, menangkap secara mandiri tanpa APD, maupun memberikan makanan olahan manusia.
Baca juga: Ancaman Pascakebakaran terhadap Kelangsungan Hidup Satwa
Dalam penanganan primata yang diduga terdampak asap karhutla, prioritas utama adalah triase medis. Dokter Yumni menyebut stabilisasi pernapasan, termasuk terapi oksigen jika memungkinkan, penanganan dehidrasi, pengobatan anti-inflamasi atau antibiotik sesuai indikasi, serta penanganan stres atau stress reduction management.
“Satwa primata adalah refleksi kesehatan hutan kita. Melindungi habitat satwa primata dari karhutla bukan sekadar menyelamatkan satwa dari asap, tetapi juga memelihara ekosistem yang menopang kehidupan kita bersama,” pungkas Dokter Yumni.
Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa