Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Pleno Pertama ICHOS 2026 Bahas Integrasi Data Kesehatan hingga Akuakultur Berkelanjutan

KABAR FIKKIA – International Conference on One Health Synergy (ICOHS) 2026 membahas tantangan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam sesi...

KABAR FIKKIA – International Conference on One Health Synergy (ICOHS) 2026 membahas tantangan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam sesi pleno hari pertama. Sesi bertema “Current Issues in One Health” berlangsung di Ballroom Hotel Aston Banyuwangi, Jumat (16/10/2026). Tiga pembicara dari bidang kesehatan, akuakultur, dan parasitologi mengangkat isu integrasi data, inovasi nutrisi, serta penyakit zoonosis.

Integrasi Data untuk Memperkuat Sistem One Health

Pembicara pertama, dr. Ivan Rahmatullah, MPH., Ph.D., dosen Kedokteran FIKKIA UNAIR, membahas integrasi data untuk mendukung penanganan penyakit zoonosis. Ia menyoroti empat penyakit prioritas, yaitu rabies, leptospirosis, avian influenza H5N1, dan antraks.

“Integrasi data harus mendukung keputusan yang jelas agar informasi dapat ditindaklanjuti secara tepat waktu,” ujar Ivan.

Ia menjelaskan tantangan integrasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dengan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) menuju sistem SIZE. Dalam uji coba yang dipaparkan, data SKDR berhasil masuk ke SIZE, sedangkan integrasi iSIKHNAS belum berhasil.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan infrastruktur, interoperabilitas sistem, dan komunikasi lintas sektor. Ivan juga memperkenalkan prinsip Clinical Decision Support (CDS) Five Rights. Prinsip ini menekankan penyampaian informasi yang tepat kepada orang yang tepat, melalui saluran dan format sesuai, pada waktu yang tepat.

Inovasi Nutrisi untuk Akuakultur Berkelanjutan

Pembicara kedua, Assoc. Prof. Dr. Norhidayah Mohd Taufek dari University Malaya, Malaysia, memaparkan materi “Advancing Sustainable Aquaculture Nutrition in Asia: One Health Strategies for Safe and Resilient Food Systems”. Ia membahas tantangan pakan, termasuk degradasi lingkungan, persaingan bahan baku, serta keterbatasan aksesibilitas, keterjangkauan, dan kualitas pakan.

“Pengembangan nutrisi akuakultur perlu memperhatikan kesehatan organisme, kualitas produk, dan keberlanjutan sistem produksi,” tutur Norhidayah.

Assoc. Prof. Dr. Norhidayah Mohd Taufek

Ia menguraikan tiga strategi untuk mendukung nutrisi akuakultur berkelanjutan. Strategi tersebut meliputi penggunaan prebiotik dan probiotik sebagai bahan tambahan pakan fungsional, pemanfaatan protein alternatif, serta penerapan precision nutrition.

Sumber protein alternatif yang dibahas mencakup kedelai, Lemna atau duckweed, larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF), dan mikroalga. Formulasi pakan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan nutrisi, keseimbangan asam amino, serta tahap perkembangan ikan. Pendekatan tersebut diharapkan mendukung efisiensi produksi dan keberlanjutan akuakultur.

Memahami Cryptosporidium sebagai Parasit Zoonotik

Pembicara ketiga, Prof. Makoto Matsubayashi, DVM., Ph.D., dari Osaka Metropolitan University, Jepang, membahas Cryptosporidium. Parasit usus zoonotik ini dapat menginfeksi manusia dan berbagai hewan, termasuk sapi, ayam, dan anjing.

“Pemahaman mengenai karakteristik parasit, jalur penularan, dan metode diagnosis menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian infeksi,” ujar Makoto.

Parasit berukuran sekitar 5–7 mikrometer ini dapat menyebar melalui jalur fekal-oral ketika ookista infektif mencemari lingkungan. Makoto mencontohkan wabah kriptosporidiosis di Prefektur Saitama, Jepang, pada 1996. Wabah tersebut dilaporkan menyebabkan 8.812 kasus dan dikaitkan dengan air keran.

Prof. Makoto Matsubayashi, DVM., Ph.D.

Metode diagnosis yang dibahas meliputi pemeriksaan feses, pewarnaan tahan asam, pengujian imunologis, dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Sementara itu, RFLP dan sekuensing DNA dapat membantu mengidentifikasi spesies atau genotipe parasit.

Memperkuat Kolaborasi melalui Pendekatan One Health

Sesi pleno hari pertama ICHOS 2026 menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi tantangan kesehatan. Integrasi data dapat mendukung respons terhadap zoonosis, sedangkan inovasi nutrisi berkontribusi pada akuakultur berkelanjutan.

Di sisi lain, pemahaman tentang Cryptosporidium mendukung upaya deteksi dan pencegahan penyakit. Melalui pertukaran pengetahuan ini, ICHOS 2026 diharapkan memperkuat kolaborasi akademisi, tenaga kesehatan, dokter hewan, peneliti, dan pemangku kepentingan.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara berkelanjutan.

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Tags:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya