KABAR FIKKIA – Hari kedua International Conference of One Health Synergy (ICOHS) FIKKIA Universitas Airlangga (UNAIR) membahas inovasi kesehatan digital, pengelolaan sampah, dan pengendalian penyakit. Kegiatan berlangsung secara hibrid pada Sabtu (17/10/2026) di Ruang Sritanjung, Hotel Aston Banyuwangi. Terpantu 94 peserta yang sebelumnya mempresentasikan abstrak konferensi dan peserta yang tergabung di ruang zoom meeting hadir di plenery session hari ke-2.
Tiga pemateri membagikan strategi berbasis bukti untuk menjawab tantangan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Pembahasan menekankan pemanfaatan teknologi, keterlibatan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan One Health.
PUSPADAYA Perkuat Kapasitas Kader Kesehatan
Susy Katikana Sebayang, Ph.D., dosen Kesehatan Masyarakat FIKKIA UNAIR sekaligus Wakil Dekan III FIKKIA, memaparkan program PUSPADAYA. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas kader kesehatan perempuan melalui digitalisasi data Posyandu.
Kegiatannya meliputi pengembangan aplikasi dan dasbor, pelatihan kader, pendampingan penggunaan teknologi, serta penguatan keterampilan presentasi dan negosiasi. Program tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan kader dalam menyampaikan data dan mendiskusikan persoalan kesehatan bersama masyarakat. Paparan ini menegaskan bahwa digitalisasi perlu disertai pelatihan, dukungan sosial, dan kolaborasi lintas sektor. Dengan demikian, kader dapat berperan secara berkelanjutan dalam mendukung surveilans One Health.
Living Lab Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Dr. Eleni Iacovidou dari Brunel University of London membawakan materi Co-creating Healthier Environments: Living Labs for Community Engagement in Waste Management. Hadir secara daring, ia menjelaskan bahwa pengelolaan sampah yang tidak tepat dapat mencemari udara, air, dan tanah serta mengancam kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. Melalui pendekatan Living Lab, masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, organisasi nonpemerintah, dan akademisi bersama-sama merancang serta menguji solusi sesuai kebutuhan lokal.
Salah satu contohnya ialah PISCES Relay Banyuwangi Living Lab di Rogojampi. Inisiatif ini mengembangkan sistem kemasan produk yang dapat dikembalikan, dibersihkan, dan digunakan kembali. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam menciptakan perubahan dan mendorong solusi pengelolaan sampah yang sesuai dengan kondisi setempat.
Pemodelan Simulasi Dukung Pengendalian Penyakit
Assoc. Prof. Anke Wiethoelter dari The University of Melbourne, Australia, membahas Simulation Modelling for Disease Control Strategies in Endemic Regions dengan studi kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Nusa Tenggara Barat.
Ia menjelaskan penggunaan pemodelan berbasis agen (agent-based model) dan pemodelan partisipatif (participatory modelling) untuk mengevaluasi strategi pengendalian penyakit. Strategi tersebut mencakup pengaturan pergerakan ternak, konsolidasi jadwal pasar, dan vaksinasi. Evaluasi mempertimbangkan efektivitas epidemiologis dan kelayakan penerapan di lapangan. Keterlibatan peternak, pedagang, tenaga kesehatan hewan, dan pemerintah juga penting dalam merancang strategi sesuai kondisi lokal.
Kolaborasi untuk Solusi Berkelanjutan
Ketiga materi menegaskan pentingnya inovasi, pemanfaatan data, dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi tantangan One Health. Pembahasan ini sejalan dengan dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kesehatan, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi bertanggung jawab, serta SDG 17 tentang kemitraan. Melalui kolaborasi lintas sektor, ICHOS diharapkan mendorong pengembangan solusi kontekstual dan berkelanjutan bagi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Penulis: Amalia Sofi Ramadanti
Editor: Avicena C. Nisa