KABAR FIKKIA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengancam kesehatan satwa liar. Api dapat menghancurkan habitat, sumber pakan, dan koridor pergerakan satwa dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat satwa kehilangan ruang hidup dan menghadapi tekanan kesehatan secara bersamaan.
Dokter hewan satwa liar, drh. Yumni Khairina Ghassani, M.Si, melihat persoalan tersebut melalui pengalaman panjangnya dalam bidang konservasi dan kesehatan satwa liar. Ia juga menjabat sebagai Bendahara Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Akuatik, dan Eksotik Indonesia (ASLIQEWAN) sejak 2019.

Keterlibatannya dalam konservasi satwa telah dimulai sejak masa pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Ia kemudian menjadi Wildlife Veterinarian di Frankfurt Zoological Society pada 2012–2015. Dalam perannya tersebut, drh. Yumni terlibat dalam pengelolaan rehabilitasi dan reintroduksi orangutan Sumatera. Ia kemudian melanjutkan pengalamannya sebagai dokter hewan di Cikananga Conservation Breeding Center.
Menurutnya, pengalaman menangani satwa liar menunjukkan eratnya hubungan antara kesehatan hewan dan kondisi lingkungan. Kerusakan habitat dapat meningkatkan berbagai tekanan yang memengaruhi kesehatan satwa.
Habitat Hancur dalam Waktu Singkat
Karhutla dapat menghancurkan struktur vegetasi dan mikrohabitat yang menjadi tempat hidup berbagai spesies. Kebakaran juga dapat memutus koridor pergerakan alami yang menghubungkan satu habitat dengan habitat lainnya.
“Karhutla menghancurkan struktur vegetasi utama dan mikrohabitat dalam hitungan jam,” jelas drh. Yumni.
Menurutnya, kondisi tersebut juga menurunkan daya dukung lingkungan bagi satwa liar. Hilangnya vegetasi menyebabkan ketersediaan pakan dan tempat berlindung ikut berkurang. Tidak semua satwa menghadapi tingkat kerentanan yang sama. Satwa arboreal seperti orangutan, owa, dan kukang termasuk kelompok yang rentan terhadap kehilangan habitat.
Satwa kecil, anakan, amfibi, reptil tanah, serta burung yang masih berada dalam sarang juga menghadapi risiko tinggi. Spesies endemik dengan sebaran terbatas memiliki kerentanan yang lebih besar ketika habitatnya mengalami kerusakan.
Karhutla Berdampak pada Kesehatan Satwa
Dampak kebakaran tidak hanya berupa luka bakar akibat kontak langsung dengan api. Satwa juga dapat mengalami trauma, dehidrasi, stres, dan gangguan metabolisme. Hilangnya sumber pakan dapat menyebabkan malnutrisi dalam jangka panjang. Kondisi tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.
Asap kebakaran juga membawa ancaman terhadap sistem pernapasan satwa. Partikel dan gas beracun dapat mengiritasi saluran napas serta memicu peradangan jaringan paru. Pada primata, risiko tersebut menjadi perhatian karena sistem pernapasannya memiliki kemiripan dengan manusia. Paparan asap dapat menyebabkan batuk, gangguan pernapasan, hingga penurunan fungsi paru.
“Karhutla bukan sekadar bencana ekologi, melainkan krisis kesehatan multisistemik,” ujar drh. Yumni.
Ia menjelaskan bahwa kesehatan satwa, manusia, dan lingkungan saling berkaitan dalam pendekatan One Health One Welfare. Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan langkah pencegahan yang melibatkan berbagai pihak. Pencegahan kebakaran perlu berjalan bersama perlindungan habitat dan penguatan kesiapsiagaan kesehatan satwa. Upaya tersebut penting untuk menjaga ekosistem sekaligus mengurangi risiko kesehatan yang dapat meluas kepada manusia.
“Menjaga hutan bukan hanya soal menjaga pepohonan, tetapi menjaga benteng pertahanan hidup kita sendiri,” pungkas drh. Yumni.
Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa