FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Buah Melimpah, Konsumsi Masih Rendah: Refleksi Hari Buah Nasional

Oleh: Annisa Dwi Cahyani (Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FIKKIA UNAIR)

Hari Buah Nasional setiap 1 Juli menjadi momentum untuk mendorong masyarakat menerapkan pola makan yang lebih sehat. Konsumsi buah yang masih rendah di Indonesia menjadi salah satu tantangan dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan stroke.

Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang kaya akan berbagai jenis buah. Sepanjang tahun, masyarakat dapat dengan mudah menemukan pisang, pepaya, mangga, jeruk, jambu biji, semangka, hingga nanas dengan harga yang relatif terjangkau. Ironisnya, di tengah melimpahnya ketersediaan tersebut, konsumsi buah masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.

Di sisi lain, penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, hingga kanker terus menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Perubahan pola hidup, minimnya aktivitas fisik, serta pola makan yang kurang seimbang menjadi faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya berbagai penyakit tidak menular tersebut. Sayangnya, kebiasaan mengonsumsi buah sebagai bagian dari pola makan sehat belum sepenuhnya menjadi budaya di masyarakat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi buah bukan lagi sekadar masalah ketersediaan pangan, melainkan juga menyangkut kesadaran, kebiasaan, dan pilihan gaya hidup. Padahal, membiasakan makan buah setiap hari merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar dalam menjaga kesehatan sekaligus menurunkan risiko penyakit kronis.

Konsumsi Buah Masyarakat Indonesia Masih Rendah

Rendahnya konsumsi buah dan sayur masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 96,7% penduduk berusia ≥5 tahun masih belum mengonsumsi buah dan sayur sesuai rekomendasi (SKI,2023).

Penilaian tersebut menggunakan standar World Health Organization (WHO), yaitu konsumsi minimal lima porsi buah dan sayur setiap hari selama tujuh hari dalam seminggu. Dengan demikian, hanya sekitar 3,3% masyarakat Indonesia yang telah memenuhi anjuran tersebut (WHO,2025).

Dalam SKI 2023 juga menunjukkan bahwa 67,5% penduduk hanya mengonsumsi satu hingga dua porsi buah dan sayur setiap hari, sedangkan 11,8% bahkan tidak mengonsumsi buah maupun sayur setiap hari dalam satu minggu (SKI,2023).

Sebagian masyarakat menganggap buah hanya sebagai makanan pelengkap, bukan kebutuhan harian. Perubahan gaya hidup juga mendorong meningkatnya konsumsi makanan olahan dan minuman tinggi gula yang lebih praktis dibandingkan buah segar. Selain itu, pada beberapa kelompok masyarakat, keterbatasan daya beli maupun akses terhadap buah segar masih menjadi kendala.

Persoalan ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Sulit membayangkan upaya menekan angka penyakit kronis dapat berjalan optimal apabila konsumsi buah sebagai bagian dari pola makan sehat masih belum menjadi kebiasaan masyarakat.

Buah Memiliki Peran Penting dalam Mencegah Penyakit Kronis

Buah merupakan sumber vitamin, mineral, air, serat, serta berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, polifenol, dan karotenoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa tersebut membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas yang dapat memicu stres oksidatif dan proses peradangan kronis.

Selain itu, kandungan serat dalam buah membantu menjaga kesehatan saluran cerna, memperlambat penyerapan gula, membantu mengontrol kadar kolesterol, serta memberikan rasa kenyang lebih lama. Manfaat tersebut berkontribusi dalam menjaga berat badan ideal sekaligus menurunkan risiko obesitas yang merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular.

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa konsumsi buah dan sayur yang cukup merupakan bagian penting dari pola makan sehat untuk menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes melitus tipe 2, serta beberapa jenis kanker (WHO,2025). Karena itu, WHO merekomendasikan konsumsi minimal 400gram buah dan sayur setiap hari sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit kronis. (WHO,2024)

Dengan kata lain, buah bukan sekadar pelengkap menu, melainkan investasi kesehatan yang manfaatnya dapat dirasakan sepanjang kehidupan.

Penyakit Kronis Masih Menjadi Tantangan Kesehatan Indonesia

Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia mengalami pergeseran beban penyakit dari penyakit menular menuju penyakit tidak menular. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2024, penyakit tidak menular masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia (Kemenkes, 2024). Hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan kanker terus menunjukkan beban yang besar terhadap sistem kesehatan nasional.

Di sinilah konsumsi buah memiliki peran yang sering kali diabaikan. Memang, buah bukan satu-satunya solusi dalam mencegah penyakit kronis. Namun, ketika dikombinasikan dengan aktivitas fisik yang cukup, pola makan seimbang, tidak merokok, serta menjaga berat badan ideal, konsumsi buah secara rutin dapat menjadi salah satu investasi kesehatan yang paling mudah dilakukan.

Membangun Kebiasaan Mengonsumsi Buah Sejak Dini

Meningkatkan konsumsi buah tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan pangan. Perubahan perilaku masyarakat juga perlu menjadi perhatian. Edukasi mengenai pentingnya buah sebagai bagian dari pola makan sehat harus dimulai sejak usia dini, baik melalui keluarga, sekolah, maupun berbagai program promosi kesehatan.

Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan makan anak. Menyediakan buah sebagai camilan sehari-hari, mengenalkan berbagai jenis buah lokal, serta membatasi konsumsi makanan tinggi gula dapat menjadi langkah sederhana yang memberikan manfaat jangka panjang.

Konsumsi rujak buah lokal dengan teman dan keluarga. Sumber: popmama.com

Di sisi lain, penyajian buah juga dapat dibuat lebih menarik agar meningkatkan minat konsumsi. Misalnya melalui potongan buah berwarna-warni, salad buah tanpa dressing berlebihan, smoothies tanpa pemanis tambahan, maupun campuran buah dalam menu sarapan.

Pemanfaatan buah lokal juga perlu terus didorong. Selain memiliki kandungan gizi yang baik, buah lokal umumnya lebih mudah diperoleh, lebih segar, dan dapat mendukung kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Makan Buah sebagai Gaya Hidup

Pada akhirnya, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan buah, tapi masih kurang dalam kebiasaan mengonsumsinya secara rutin. Mencegah penyakit tidak selalu memerlukan teknologi canggih ataupun biaya besar. Langkah sederhana seperti membiasakan mengonsumsi buah setiap hari dapat menjadi awal perubahan menuju masyarakat yang lebih sehat.

Jika kebiasaan ini dibangun sejak dini dan dilakukan secara konsisten, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga mampu mengurangi beban penyakit kronis yang selama ini menjadi tantangan pembangunan kesehatan Indonesia.

Mungkin bagi sebagian orang, sepotong buah hanyalah pelengkap setelah makan. Namun, jika kebiasaan sederhana itu dilakukan setiap hari, manfaatnya jauh lebih besar daripada yang terlihat. Karena itu, meningkatkan konsumsi buah layak dipandang bukan sekadar memenuhi anjuran gizi, melainkan sebagai investasi nyata untuk membangun generasi Indonesia yang lebih sehat, lebih produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

DAFTRA PUSTAKA

  • Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Hasil Utama Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: BKPK Kementerian Kesehatan RI.
  • Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: BKPK Kementerian Kesehatan RI.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2024. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.3
  • World Health Organization. 2025. Healthy Diet. Geneva: World Health Organization.
  • World Health Organization. 2023. Noncommunicable Diseases. Geneva: World Health Organization.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *