Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Dokter Hewan dan Masa Depan Keamanan Pangan Indonesia

Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) yang diperingati setiap 7 Juni menjadi momentum refleksi bagi berbagai sektor untuk...

Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) yang diperingati setiap 7 Juni menjadi momentum refleksi bagi berbagai sektor untuk meningkatkan komitmen dalam jaminan pangan yang aman bagi masyarakat. Ditengah dinamika global yang kompleks, mulai dari ancaman penyakit zoonosis, resistensi antimikroba, perubahan iklim, hingga tantangan ketahanan pangan menjadikan keamanan pangan adalah hal utama menjaga kesehatan masyarakat.

Tak dipungkiri dokter hewan memiliki posisi strategis sebagai guardian of food safety yang berperan memastikan pangan asal hewan tetap aman, sehat, dan berkualitas untuk dikonsumsi masyarakat. Sistem pangan saat ini juga sedang berada dalam tekanan besar. Komoditas pokok kini semakin mahal akibat konflik geopolitik global yang sangat dinamis. Terutama akibat kenaikan harga minyak global membuat tarif transportasi komoditas produk pangan skala nasional maupun internasional semakin melambung tinggi (Mariyanto, 2025).

Penjaga Keswan, Penjamin Komoditas dan Keamanan Pangan

Belum lagi akibat pertumbuhan populasi dan perubahan iklim yang terus mempersempit ruang perkembangan peternakan. Dalam situasi seperti ini kesehatan hewan menjadi faktor yang seringkali kurang disadari namun sangat menentukan. Penyakit hewan menular memiliki implikasi ganda pada sektor ketahanan pangan terutama pada mortalitas ternak dan ekonomi baik peternak maupun konsumen.

Stabilitas harga pangan menjadi konsekuensi yang harus dibayarkan dalam memberikan stimulus distribusi protein hewani, hingga akses masyarakat terhadap gizi yang layak (Widarso dan Djamaluddin, 2024). Di titik ini, dokter hewan dipandang sebagai profesi dalam bagian sistem penjaga pangan itu sendiri.

Veterinarian menjadi bagian penting guardian of food safety menuntut perubahan cara pandang terhadap profesi dokter hewan. Selama ini masyarakat sering kali mengenal dokter hewan hanya melalui praktik klinik hewan kesayangan. Padahal, kontribusi terbesar profesi ini juga hadir dalam sektor peternakan, kesehatan masyarakat veteriner, dan keamanan pangan yang dampaknya dirasakan oleh seluruh masyarakat (Tenorio, 2022).

Dokter hewan bekerja memastikan bahwa pangan asal hewan yang beredar bebas dari penyakit, kontaminasi biologis, residu obat, maupun bahaya lain yang dapat mengancam kesehatan konsumen. Peran tersebut sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi menjadi pondasi penting dalam menjaga kualitas hidup masyarakat (Atasaver, 2025).

Veterinarian kini dituntut membaca arah zaman. Harus ada kesadaran tantangan ke depan akan semakin kompleks. Tuntutan masyarakat yang terus menerus meningkat harus dipenuhi walau penyakit hewan juga berkembang (Littlewood and Beausoleil, 2021). Dokter hewan harus siap berada dalam pergerakan yang tidak terlihat secara kasat mata. Karena menjaga kesehatan hewan adalah bagian kewajiban profesi yang juga menjadi upaya besar menjaga keberlanjutan kehidupan sesuai amanat UU No 41 Tahun 2014.

Peran Penting Implementasi Asta Cita

Refleksi Hari Keamanan Pangan Sedunia juga relevan dengan visi pembangunan nasional melalui Asta Cita dalam aspek penguatan ketahanan pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama pembangunan nasional masih berproses dari titik terendah yang belum stabil secara program.

Keberlanjutan ketahanan pangan harus dibarengi dengan degan keamanan pangan yang menjadi standar wajib dan harus masif diimplementasi kepada seluruh sektor elemen terutama penghasil produk pangan asal hewan. Produksi yang meningkat tanpa ada pengendalian keamanan pangan akan mendorong masalah baru. Baik dalam kesehatan manusia sebagai konsumen maupun kesehatan hewan.

Wabah penyakit seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) beberapa waktu lalu menjadi contoh konkret bagaimana sistem kesehatan hewan yang rapuh dapat mengguncang sektor peternakan secara luas (Kusumawati et al., 2024). Belum lagi standar rantai distribusi produk hewan yang terkesan cepat tanpa kontrol memicu keracunan konsumen yang terlihat pada berbagai kegiatan makanan bergizi gratis yang harus terus diawasi. Indonesia membutuhkan standar baku produksi maupun distribusi yang terstandarisasi melalui SNI dalam menghadirkan produk hewan dengan nomor kontrol veteriner berprinsip aman, sehat, utuh, dan halal.

Di sinilah peran dokter hewan menjadi sangat strategis (Lestariningsih dkk., 2020). Sektor peternakan dan kesehatan hewan adalah pondasi utama ketahanan maupun keamanan pangan nasional dari segi protein hewani. Tanpa pengendalian penyakit hewan yang efektif, produksi protein hewani akan terganggu hingga akhirnya berdampak pada gizi masyarakat (Widianingrum dan Septio, 2023).

Menegakkan posisi dokter hewan juga menjadi bagian penjaga lapangan pilar ekonomi dan pembangunan. Akhirnya membawa pesan yang lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan. Ia menuntut adanya redefinisi peran, penyesuaian sistem, dan komitmen jangka panjang. Dalam konteks Indonesia, hal ini sejalan dengan upaya membangun kemandirian pangan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dokter hewan berada di garis depan dalam memastikan keamanan pangan asal hewan. Mulai dari hulu kesehatan ternak, manajemen pakan, biosekuriti hingga hilir seperti inspeksi produk hewani, semuanya berada dalam lingkup kompetensi veteriner. Kita harus menyadari bahwa profesi ini turut menjamin kualitas hidup manusia melalui pangan yang aman, bergizi, dan berkelanjutan sebagai bagian manusya mriga satwa sewaka.

Konsep Pendidikan Veteriner Yang Harus Berkembang

Perkembangan keamanan dan ketahanan pangan memerlukan pengembangan kurikulum yang masih berfokus pada aspek klinis dan teoritis. Dengan kebutuhan di lapangan semakin kompleks. Outcome based Education harus dipadukan dengan Evidence Based Education untuk menjawab tantangan identitas profesi dengan peran yang luas melalui bekal keilmuan yang kuat. Ini bukan hal yang mudah (Moore et al., 2023).

Saat ini pendidikan veteriner di Indonesia masih cukup luas tanpa spesialisasi seperti dokter umum. Ini juga memberikan dampak positif karena terfokus pada spesialisasi dapat membuat profesi terfragmentasi. Tetapi terlalu general dapat mengurangi kedalaman kompetensi. Posisi mahasiswa ini melihat bahwa keseimbangan harus dibangun dalam pendidikan maupun praktik profesional.

Di tengah perubahan global dan arah baru pembangunan nasional membuat peran sebagai guardian bukanlah posisi yang statis. Melainkan proses yang terus berkembang. Dan bagi mahasiswa hari ini proses itulah yang sedang dimulai. Realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara idealisme dan implementasi. Tantangan seperti distribusi tenaga veteriner yang belum merata, keterbatasan fasilitas diagnostik di daerah, dan rendahnya literasi peternak tentang biosekuriti masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Mahasiswa, sebagai agen perubahan harus memandang bahwa transformasi ini dimulai dari pendidikan melalui kurikulum yang adaptif, berbasis teknologi serta pendekatan interdisipliner. Integrasi antar kesehatan dibawah konsep one health mendekatkan batas antara kesehatan manusia dan hewan semakin kabur. Kasus seperti flu burung, rabies, hingga emerging diseases menunjukkan bahwa kompetensi veteriner tidak lagi eksklusif pada hewan, melainkan menjadi bagian integral dari sistem kesehatan global.

Selain itu, perkembangan dunia digital juga membuka peluang baru. Telemedicine, big data, artificial intelligence, dan precision livestock farming mulai masuk dalam ranah veteriner. Ini menuntut mahasiswa lebih melek teknologi (Tedeschi et al., 2026). Upaya menciptakan SDM unggul yang mampu bersaing harus menjadi perhatian serius. Mahasiswa melihat bahwa edukasi dan regulasi harus berjalan beriringan dengan dokter hewan sebagai garda depan dalam penerapan medik yang rasional.

Dalam lanskap global yang terus berubah sejalan dengan kerangka visi nasional Asta Cita, dokter hewan menjadi semakin krusial. Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan hanya tentang apa yang bisa dilakukan oleh dokter hewan, tetapi juga tentang bagaimana profesi ini mampu beradaptasi dan tetap relevan. Di tengah perubahan global dan arah baru pembangunan nasional menjadikan edukasi dokter hewan proses yang terus berkembang. Bagi mahasiswa hari ini, proses itulah yang sedang dimulai. Pertanyaannya bukan lagi “apa peran dokter hewan?”, tetapi “seberapa siap kita menjawab tantangan zaman?”.

Referensi:

Atasever, M. (2025). Peran dokter hewan dalam keamanan pangan global dan kesehatan masyarakat. Asian-Australasian Journal of Bioscience and Biotechnology , 10 (1), 1–5. https://doi.org/10.3329/aajbb.v10i1.78723

Kusumastuti TA, Kobayashi I, Juwari A, Antari LD (2024). Economic losses of foot-and-mouth disease based on business characteristics and regional policies in Indonesia and Japan. Adv. Anim. Vet. Sci., 12(5):862-872.

Lestariningsih, Nada, M.S.,Yasin, M.Y., Ropida, S., Abidin, M.K.. (2020). Peranan Nomor Kontrol Veteriner Terhadap Jaminan Mutu Keamanan Produk Hasil Peternakan. BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual. 5(1): 180-188. http://dx.doi.org/10.28926/briliant.v3i4.437

Littlewood KE, Beausoleil NJ. (2021). Two Domains to Five: Advancing Veterinary Duty of Care to Fulfil Public Expectations of Animal Welfare Expertise. Animals (Basel). 11(12):3504. doi: 10.3390/ani11123504.

Mariyanto. (2025). Krisis Global dan Implikasinya bagi Pertanian Indonesia: Perubahan Iklim, Konflik Geopolitik, dan Spekulasi Pasar. (2025). Jurnal Perencanaan Pembangunan Pertanian. 2(1): 22-43. https://epublikasi.pertanian.go.id/berkala/jp3/article/view/4056

Moore RM, Read EK, Fingland RB, Stone LR, Hare T. (2023). A new dimension in learning: implementing an outcomes-based veterinary curriculum with a focus on spectrum of care. J Am Vet Med Assoc. 261(9):1401. doi: 10.2460/javma.23.07.0383.

Tedeschi LO, Guarnido-Lopez P, Menendez Iii HM, Seo S. 2026. – Invited Review – Advancing precision livestock farming: integrating artificial intelligence and emerging technologies for sustainable livestock management. Anim Biosci. 39(4):250289-0. doi: 10.5713/ab.25.0289.

Tenorio JCB (2022). Discussing one health: Veterinary public health, health communication, and collaborations and partnerships. Adv. Anim. Vet. Sci. 10(4):852-857.

Widianingrum, D. C., & Septio, R. W. (2023). Peran Peternakan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Indonesia: Kondisi, Potensi, dan Peluang Pengembangan. National Multidisciplinary Sciences, 2(3), 285–291. https://doi.org/10.32528/nms.v2i3.298

Widarso, M.R., dan Djamaluddin, S. (2024). Analisis Harga Pangan Pokok Terhadap Ketahanan Pangan di Indonesia. SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis. 21(2): 256-272. https://doi.org/10.20961/sepa.v21i2.83821

Tags:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like