KABAR FIKKIA – Kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan sehingga membutuhkan penanganan lintas sektor. Semangat inilah yang mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) dan Strategic Meeting One Health yang digelar Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) pada Jumat (16/10/2026). Dalam rangkaian International Conference of One Health Synergy (ICOHS) 2026 tersebut, berbagai pemangku kepentingan berdiskusi untuk memperkuat kolaborasi dan merumuskan langkah bersama menghadapi tantangan kesehatan.
Kegiatan dipimpin oleh Wakil Dekan III FIKKIA UNAIR, Susy Katikana Sebayang, S.P., M.Sc., Ph.D., dengan Septa Indra Puspikawati, S.KM., M.Kes., sebagai moderator. Dekan FIKKIA UNAIR, Dr. Rahadian Indarto Susilo, dr., Sp.BS (K),, turut hadir memberikan sambutan pembuka. Forum ini juga melibatkan perwakilan Dinas Kesehatan, Dinas Perikanan, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jatim IV Banyuwangi, Shirmp Club Indonesia, Himpunan Peternak Kambing Domba Indonesia (HPKDI), Persatli, serta sivitas akademika.
Bahas Konsep dan Deklarasi One Health
Sesi diskusi diawali dengan pemaparan dosen senior Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR drh. Agnes Theresia Soelih Estoepangestie mengenai landasan filosofis dan penerapan konsep One Health. drh Soelih menjelaskan pentingnya menyelaraskan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Ketiganya saling berkaitan sehingga persoalan kesehatan tidak dapat ditangani secara terpisah oleh satu profesi atau sektor saja.
Kolaborasi diperlukan untuk menangani berbagai persoalan, mulai dari kesehatan manusia dan hewan hingga perlindungan lingkungan serta keamanan pangan asal hewan.

“Tujuan One Health adalah menyelaraskan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan dalam satu ekosistem yang seimbang. Penanganan isu kesehatan tidak bisa berjalan hanya dalam satu profesi semata, melainkan butuh keterlibatan sektor peternakan, dinas lingkungan hidup, hingga pemastian food safety.” tegas drh Soelih.
Wakil Dekan III FIKKIA UNAIR, Susy Katikana Sebayang, SP., M.Sc.,Ph,D., menyambut baik pembahasan tersebut. Ia mendorong setiap sektor berkontribusi sesuai kapasitas dan keahliannya untuk memperkuat upaya pencegahan masalah kesehatan.
“Apa yang bisa kita lakukan untuk One Health ini, mari kita lakukan sesuai kapasitas masing-masing bidang. Kita perkuat apa yang sudah ada agar dapat mencapai cita-cita bersama. Karena di semua sektor ada ahlinya, maka sebisa mungkin masalah kesehatan dapat dicegah demi meningkatkan ketahanan pangan,” tuturnya.
Soroti Risiko Zoonosis dan Ketahanan Pangan
Pembahasan juga menyoroti ancaman zoonosis di Banyuwangi. Perwakilan PDHI Jatim IV, Yono, menyampaikan bahwa posisi geografis Banyuwangi yang berbatasan dengan Bali perlu menjadi perhatian dalam pengawasan penyakit, termasuk rabies. Ia menekankan pentingnya keterlibatan dokter hewan dan penguatan biosekuriti di pintu masuk wilayah untuk membantu menekan risiko penyebaran penyakit.
Dari sektor perikanan, perwakilan Dinas Perikanan Banyuwangi menjelaskan penerapan standar keamanan pangan tersertifikasi dalam kegiatan budidaya udang dan ikan. Upaya tersebut mendukung pengembangan sektor perikanan yang memperhatikan keamanan pangan dan keberlanjutan.
Sementara itu, perwakilan peternak mengangkat persoalan tingginya biaya pakan yang memengaruhi keberlanjutan usaha. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan pencegahan penyakit ternak yang efektif dan mempertimbangkan efisiensi biaya.
Mahasiswa Internasional Usulkan Isu Strategis
Mahasiswa internasional turut memberikan masukan dalam pembahasan draf deklarasi. M. Asif dari Pakistan dan Abu Bakar dari Bangladesh mengapresiasi ruang diskusi interaktif yang mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang. Mereka mengusulkan agar isu perubahan iklim dan resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) turut dipertimbangkan dalam draf Deklarasi One Health. Masukan tersebut memperluas pembahasan mengenai tantangan kesehatan yang membutuhkan perhatian lintas sektor.
Menutup diskusi, Dekan FIKKIA UNAIR, Dr. Rahadian Indarto Susilo, dr., Sp.BS (K),, menegaskan pentingnya menindaklanjuti rekomendasi yang dihasilkan melalui kerja sama antarpemangku kepentingan.
“Rencana aksi One Health harus kita lakukan dengan baik dan seluruh sektor harus saling mendukung,” tegasnya.
Melalui FGD dan Strategic Meeting ICOHS 2026, FIKKIA UNAIR mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam penyusunan rekomendasi dan rencana aksi One Health. Forum ini menjadi ruang untuk menyelaraskan perspektif berbagai bidang dalam mendukung kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis: Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa