KABAR FIKKIA – Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang kaya akan berbagai jenis buah. Pisang, pepaya, mangga, jambu biji, hingga nanas tersedia hampir sepanjang tahun. Namun, konsumsi buah masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.
Padahal, buah merupakan bagian penting dari pola makan sehat. Konsumsi buah secara rutin membantu memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, serat, dan berbagai senyawa bioaktif yang dibutuhkan tubuh.
Memperingati Hari Buah Nasional, dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Septa Indra Puspikawati, S.K.M., M.PH., mengajak masyarakat membiasakan konsumsi buah setiap hari sebagai langkah sederhana untuk menjaga kesehatan.

Menurut Septa, buah mengandung vitamin C, vitamin A, beta-karoten, kalium, serat, serta berbagai antioksidan yang berperan menjaga fungsi tubuh.
“Buah mengandung vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang membantu menjaga sistem imun, kesehatan mata, pencernaan, serta mengontrol kadar gula darah dan kolesterol,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa konsumsi buah secara rutin berkaitan dengan penurunan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga beberapa jenis kanker. Karena itu, orang dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar dua hingga tiga porsi buah atau setara 150–250 gram setiap hari sesuai Pedoman Gizi Seimbang.
Buah Lokal Memiliki Nilai Gizi Tinggi
Septa menegaskan bahwa buah lokal Indonesia tidak kalah bergizi dibandingkan buah impor. Jambu biji kaya vitamin C. Pepaya mengandung beta-karoten dan serat. Pisang menjadi sumber kalium sekaligus energi, sedangkan nanas mengandung bromelain yang membantu proses pencernaan.
Selain kandungan gizinya, buah lokal umumnya dipanen lebih matang alami sehingga lebih segar saat dikonsumsi.
“Memilih buah lokal tidak hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga mendukung petani dan produk hortikultura dalam negeri,” ujarnya.
Konsumsi Buah Utuh Lebih Dianjurkan
Menurut Septa, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap gula alami yang terdapat pada buah. Gula alami berbeda dengan gula tambahan pada makanan dan minuman olahan karena buah tetap mengandung serat dan zat gizi penting.
Ia lebih menganjurkan buah dikonsumsi dalam bentuk utuh agar kandungan serat tetap terjaga. Jika dibuat jus, sebaiknya tanpa tambahan gula. Sementara salad buah sebaiknya menggunakan dressing rendah gula dan rendah kalori.
Selain itu, vkonsumsi buah yang beragam penting agar kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi secara lebih optimal.
Pilih Buah Sesuai Tahap Kehidupan
Septa menjelaskan bahwa kebutuhan buah dapat disesuaikan dengan usia dan kondisi seseorang. Anak-anak dianjurkan mengonsumsi pisang, pepaya, alpukat, dan jeruk untuk mendukung pertumbuhan serta daya tahan tubuh. Ibu hamil dapat memilih jeruk, alpukat, pisang, dan jambu biji karena mengandung folat, vitamin C, kalium, dan serat. Orang dewasa disarankan mengonsumsi buah tinggi serat dan antioksidan, seperti pepaya, apel, semangka, dan mangga.Sementara itu, lansia lebih dianjurkan memilih buah bertekstur lunak, seperti pepaya, pisang, dan melon agar lebih mudah dikunyah.
Pengenalan buah juga dapat dimulai sejak bayi berusia enam bulan bersamaan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Buah seperti pisang, pepaya, alpukat, dan pir dapat diberikan secara bertahap sesuai kemampuan makan anak. Septa berharap kebiasaan mengonsumsi buah dibangun sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah.
“Pembiasaan mengonsumsi buah setiap hari merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan dan mencegah penyakit tidak menular di masa mendatang,” tutupnya.
Penulis: Annisa Dwi Cahyani
Editor: Avicena C. Nisa
