KABAR FIKKIA – Ikan gabus dikenal sebagai salah satu sumber protein hewani. Namun, pasien penyakit ginjal kronis (CKD) perlu memperhatikan jumlah protein yang dikonsumsi sesuai kondisi ginjal dan terapi yang dijalani. Pasien yang belum menjalani dialisis memiliki kebutuhan berbeda dari pasien yang sudah menjalani cuci darah.
Perbedaan kebutuhan tersebut dibahas oleh dr. Dara Hanifa Rahman, M.Biomed., AIFO-K, dalam Satellite Symposium pada rangkaian International Conference of One Health Synergy (ICOHS) 2026 di Hotel Aston Banyuwangi. Kegiatan yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) berlangsung pada Jumat (16/10/2026), dengan dukungan Dexa Medica dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Melalui materi Role of Amino Acid in Diet Program for CKM Patients, Dara Hanifa Rahman, dr., M.Biomed menyoroti peran asam amino dan pengaturan asupan protein dalam mendukung penanganan pasien dengan risiko Cardiovascular-Kidney-Metabolic (CKM).
Kebutuhan Protein Berbeda pada Setiap Pasien
Protein tersusun atas asam amino yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan jaringan tubuh, termasuk otot. Sebagian asam amino harus diperoleh dari makanan karena tubuh tidak dapat memproduksinya dalam jumlah yang memadai.
Pada pasien penyakit ginjal kronis, pengaturan asupan protein perlu mempertimbangkan fungsi ginjal dan tahap pengobatan. Pasien yang belum menjalani dialisis mungkin perlu membatasi asupan protein sesuai rekomendasi medis. Sementara itu, pasien yang menjalani dialisis umumnya membutuhkan protein lebih banyak untuk mengganti kehilangan selama terapi.
“Kebutuhan protein pasien dengan penyakit ginjal kronis perlu disesuaikan dengan kondisi ginjal dan terapi yang dijalani. Pasien yang belum menjalani dialisis perlu mengatur asupan proteinnya, sedangkan pasien yang sudah menjalani dialisis membutuhkan asupan yang cukup untuk mengganti kehilangan protein selama terapi. Karena itu, pemenuhan protein harus memperhatikan kebutuhan gizi setiap pasien,” jelas dr. Dara.
Bagaimana dengan Ikan Gabus?
Dalam sesi tanya jawab, dr. Muhammad Fathoni dari Puskesmas Benculuk menanyakan konsumsi ikan gabus bagi pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani dialisis peritoneal. Ikan gabus merupakan salah satu sumber protein hewani yang juga mengandung albumin.
Namun, kandungan protein dalam suatu bahan pangan tidak serta-merta menjadikannya pilihan terbaik bagi semua pasien CKD. Konsumsi ikan gabus tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan protein harian, kondisi klinis, dan pengaturan zat gizi lainnya.
Dalam materi yang disampaikan, dr. Dara menyebut kisaran kebutuhan protein sebesar 1–1,2 gram per kilogram berat badan per hari bagi pasien dialisis. Angka tersebut perlu dipahami sebagai acuan yang bergantung pada kondisi pasien, jenis dialisis, status gizi, dan rekomendasi tenaga kesehatan yang menangani.
Nutrisi sebagai Bagian dari Penanganan CKM
Pembahasan ini menunjukkan bahwa penanganan CKM tidak hanya berfokus pada pengendalian tekanan darah dan kolesterol, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan gizi. Bagi pasien dengan gangguan ginjal, pengaturan asupan protein menjadi salah satu aspek penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan nutrisi dan kondisi klinis.
Penanganan CKM membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mempertimbangkan kesehatan jantung, ginjal, dan metabolisme. Melalui pemahaman terhadap faktor risiko dan kebutuhan setiap pasien, tenaga kesehatan dapat membantu menentukan strategi penanganan yang sesuai serta mengurangi risiko komplikasi.
Penulis: Cantika Anggun Roudhotul Al Zahra
Editor: Avicena C. Nisa