KABAR FIKKIA – Fenomena oseanografi semi-permanen yang dikenal sebagai Semi-permanent Java Coastal Upwelling atau disebut ‘RATU’, diprediksi akan mencapai puncak aktivitasnya pada pertengahan tahun 2026. Dosen Manjemen Lingkungan Akuatik, Alin Asyabil, S.Pi., M.P., menggarisbawahi penguatan angin timuran memicu mekanisme fisik luar biasa tahun ini. Fenomena tersebut mengangkat massa air kaya nutrien dari kegelapan abisal menuju zona fotik yang terang benderang.

Transpor Ekman: Gaya Penggerak di Balik Kebangkitan Massa Air
Secara mekanis, angin timuran bertiup sejajar dengan garis pantai selatan Jawa tidak sekadar menggerakkan udara, tetapi mendorong air permukaan laut menjauh dari daratan. Alin menjelaskan bahwa rotasi bumi menciptakan efek coriolis pada arus laut. Efek tersebut membelokkan arus secara tegak lurus ke arah kiri di belahan bumi selatan melalui proses Transpor Ekman.
“Defisit massa air di permukaan ini menciptakan kekosongan yang memaksa air dingin dari lapisan bawah yang padat untuk naik ke atas. Ini adalah pompa hidrodinamika alami yang bekerja tanpa henti selama musim timur,” urai Alin.
Pendangkalan Termoklin dan Mobilisasi Nutrisi Abisal
Dinamika ‘RATU’ pada 2026 menjadi perhatian khusus karena berkaitan erat dengan posisi lapisan termoklin atau batas gradien suhu antara air hangat permukaan dan air dingin di kedalaman. Alin memaparkan bahwa fenomena ini mengangkat ‘salju laut’ atau akumulasi nitrat dan fosfat yang telah lama mengendap di kedalaman.
Ketika nutrien ini menjangkau lapisan permukaan yang terpapar sinar matahari, terjadilah ledakan fotosintesis fitoplankton secara eksponensial. Proses oseanografi ini secara efektif mengubah laut yang semula ‘gersang’ menjadi ladang nutrisi masif bagi rantai makanan pelagis. Pada akhirnya mendongkrak produktivitas perikanan kawasan.
Sinergi El Niño: Paru-Paru Karbon di Tengah Anomali
Intensitas fenomena ‘RATU’ semakin tajam ketika bersinergi dengan anomali iklim seperti El Niño. Kondisi atmosfer yang lebih kering cenderung memperkuat dorongan angin timuran, yang secara otomatis meningkatkan volume air yang terpompa ke permukaan. Dalam perspektif manajemen lingkungan, fenomena ini bukan sekadar tentang perikanan, melainkan kapasitas serapan karbon laut. Fitoplankton yang meledak jumlahnya berperan sebagai penyerap karbon dioksida (CO2) utama melalui fotosintesis. Hal ini menjadikan fenomena ‘RATU’ sebagai “paru-paru sementara” yang membantu mendinginkan atmosfer bumi di tengah pemanasan global.
Presisi Data Melalui Teknologi Argo Float
Guna membedah pergerakan massa air yang tak kasatmata, para peneliti kini mengandalkan teknologi Argo Float. Sensor otonom ini menyelam hingga kedalaman ekstrem untuk mengirimkan data suhu dan salinitas secara real-time via satelit.
Alin menekankan bahwa literasi terhadap data bawah laut ini memungkinkan manusia memetakan jalur migrasi biota laut dengan akurasi tinggi.
“Sains memungkinkan kita untuk melihat apa yang terjadi di kedalaman sebelum efeknya muncul di permukaan. Ini adalah bentuk manajemen lingkungan berbasis data (data-driven management) untuk memastikan keberlanjutan ekosistem kita,” tegasnya.
Membedah kompleksitas oseanografi ‘RATU’ adalah langkah krusial untuk menghargai betapa dinamisnya laut Indonesia. Di balik ketenangan ombak pantai selatan, tersimpan mekanisme raksasa yang bekerja menjaga keseimbangan energi dan keberlangsungan ekosistem kita.
Penulis: Farah Azzarani
Editor: Avicena C. Nisa