KABAR FIKKIA – Kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan dalam menjaga ketahanan kesehatan. Hubungan ini menjadi sorotan dalam International Conference of One Health Synergy (ICOHS) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR). Dalam konferensi di Aston Hotel and Convention Center Banyuwangi pada Sabtu (17/10/2026), Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Amir Hidayat, S.SKM., M.Si., memaparkan strategi penerapan pendekatan One Health di tingkat daerah.
Dalam forum tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Amir Hidayat, S.SKM., M.Si., memaparkan strategi daerah dalam menghadapi ancaman kesehatan berbasis lingkungan dan hewan. Paparan ini menyoroti pentingnya pencegahan penyakit dari sumber risiko serta koordinasi antarsektor dalam melindungi kesehatan masyarakat.
Pendekatan One Health untuk Menghadapi Ancaman Penyakit
Amir menjelaskan bahwa ancaman kesehatan tidak dapat ditangani hanya melalui layanan medis. Pencegahan juga perlu dilakukan dengan mengendalikan faktor risiko yang berkaitan dengan hewan, lingkungan, dan sistem pangan.
Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa sekitar 75 persen penyakit infeksi baru pada manusia berasal dari hewan. Ia juga menyoroti resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) sebagai tantangan kesehatan global yang membutuhkan pengawasan penggunaan antimikroba secara bertanggung jawab.

“Ancaman kesehatan global membutuhkan pengendalian langsung dari sumber risikonya. Sekitar 75% penyakit infeksi baru pada manusia berasal dari hewan, sehingga intervensi mutlak dimulai dari sektor hewan dan lingkungan. Penggunaan antimikroba yang tidak terkontrol menjadi penyumbang terbesar angka kematian akibat resistansi antibiotik,” tegas Amir.
Pendekatan One Health menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai aspek yang saling berkaitan. Penerapannya memerlukan koordinasi antara tenaga kesehatan, dokter hewan, sektor peternakan, pengelola lingkungan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Penurunan Kasus Dengue dan Pengendalian Rabies
Banyuwangi memiliki wilayah seluas sekitar 3.593 kilometer persegi yang mencakup 25 kecamatan. Aktivitas pertanian, peternakan, perikanan, dan pariwisata membentuk interaksi antara manusia dan lingkungan yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kesehatan daerah.
Dalam paparannya, Amir menyampaikan data penurunan kasus dengue di Banyuwangi. Jumlah kasus tercatat sebanyak 550 pada 2024, turun menjadi 142 kasus pada 2025, dan mencapai 45 kasus hingga Oktober 2026.
Data tersebut menunjukkan tren penurunan kasus dalam periode yang dipaparkan. Namun, evaluasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk menilai faktor yang berkontribusi terhadap perubahan tersebut.
Selain dengue, pengendalian rabies juga menjadi perhatian. Upaya yang disoroti meliputi vaksinasi hewan peliharaan, pelaporan kasus gigitan, serta respons cepat terhadap potensi penularan. Pengawasan kesehatan hewan dan biosekuriti di wilayah perbatasan juga penting untuk mendukung pencegahan penyakit.
Amir mengapresiasi penyelenggaraan ICOHS 2026 di Banyuwangi. Menurutnya, forum ini membuka peluang pertukaran pengetahuan dan penguatan kolaborasi untuk mendukung surveilans kesehatan manusia dan hewan.
“Banyuwangi adalah contoh nyata ekosistem yang saling terhubung. Penurunan drastis kasus Dengue membuktikan bahwa konsistensi pemberantasan sarang nyamuk dan tata kelola lingkungan memberikan hasil yang nyata. Kami sangat senang dan bersyukur dengan adanya gelaran ICOHS 2026 ini, karena menjadi wadah kolaborasi berharga untuk memperkuat surveilans kesehatan hewan dan mempercepat langkah Banyuwangi menuju wilayah bebas rabies,” ungkap Amir.
Melalui ICOHS 2026, FIKKIA UNAIR dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memperkuat ruang dialog mengenai penerapan One Health di tingkat daerah. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mendukung pencegahan penyakit, peningkatan surveilans, serta perlindungan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa