Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam

Tantangan Menemukan Kasus HepatitisTersembunyi Menuju Eliminasi 2030

KABAR FIKKIA – Peringatan Hari Hepatitis Sedunia setiap 28 Juli menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini...

KABAR FIKKIA – Peringatan Hari Hepatitis Sedunia setiap 28 Juli menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini hepatitis. Selain memperluas cakupan skrining, upaya eliminasi Hepatitis B dan C pada 2030 juga memerlukan kemampuan sistem kesehatan menemukan penderita yang belum terdiagnosis.

Dosen Epidemiologi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Ayik Mirayanti Mandagi, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa tantangan terbesar pengendalian hepatitis saat ini adalah masih banyaknya individu yang telah terinfeksi, tetapi belum mengetahui status kesehatannya. Kondisi tersebut menyebabkan penderita belum memperoleh pengobatan sekaligus berpotensi terus menularkan penyakit.

Ayik Mirayanti Mandagi, S.KM., M.Kes.,

Menurut Ayik, kondisi ini dikenal sebagai diagnostic gap, yaitu kesenjangan antara jumlah orang yang terinfeksi dengan jumlah yang berhasil didiagnosis melalui layanan kesehatan.

Skrining Belum Menjamin Eliminasi

Ayik menjelaskan bahwa Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam pengendalian Hepatitis B. Prevalensi Hepatitis B menurun dari 7,1 persen pada Riskesdas 2013 menjadi 2,4 persen pada 2023. Selain itu, cakupan skrining Hepatitis B pada ibu hamil telah mencapai 89,6 persen. Meski demikian, capaian tersebut belum berarti target eliminasi telah tercapai.

“Kesenjangannya bukan semata-mata cakupan skrining yang rendah, tetapi masih banyak orang yang terinfeksi belum mengetahui statusnya. Mereka belum masuk ke layanan sehingga belum mendapatkan terapi,” jelas Ayik.

Ia menambahkan bahwa kesenjangan juga terjadi pada setiap tahapan penanganan. Mulai dari penentuan kelompok sasaran, pelaksanaan skrining, penegakan diagnosis, hingga pengobatan dan pemantauan pasien atau cascade of care.

Menemukan Kasus Tersembunyi

Menurut Ayik, Hepatitis B dan C sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak penderita baru mengetahui penyakitnya setelah mengalami komplikasi, seperti sirosis atau kanker hati.

Oleh karena itu, strategi active case finding perlu diperluas, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Skrining juga perlu diintegrasikan dengan layanan kesehatan primer agar semakin mudah dijangkau masyarakat.

Ayik menegaskan bahwa keberhasilan eliminasi hepatitis tidak cukup diukur dari tingginya cakupan skrining. Keberhasilan juga ditentukan oleh banyaknya kasus yang berhasil ditemukan, dikonfirmasi, dihubungkan dengan layanan kesehatan, serta mendapatkan pengobatan dan pemantauan secara berkelanjutan.

“Eliminasi hepatitis 2030 tidak akan tercapai hanya dengan meningkatkan cakupan skrining, tetapi dengan memastikan setiap kasus tersembunyi dapat ditemukan, dikonfirmasi, dihubungkan dengan layanan, dan ditangani secara berkelanjutan,” tutup Ayik.

Penulis: Annisa Dwi Cahyani

Editor: Avicena C. Nisa

Tags:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like