BERITA SIKIA – Posyandu merupakan kegiatan monitoring kesehatan balita dan batita. Kegiatan posyandu meliputi pengukuran berat dan tinggi badan, pemberian makanan tambahan hingga konsultasi kesehatan anak. Hal tersebut sangat penting dalam memastikan tumbuh kembang anak yang sehat dan optimal.
Hal tersebut jugalah yang dipelajari oleh 10 mahasiswa asing asal Liverpool John Moores University (LJMU) yang mengikuti kegiatan student inbound bersama Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) UNAIR Banyuwangi pada Selasa (4/7/2023) di Posyandu Anggrek RT 3 RW 2 Desa Kemiren. Mahasiswa terlibat langsung melakukan kegiatan di posyandu dengan didampingi 25 ibu kader posyandu dan dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat SIKIA, mereka belajar mewujudkan poin SDGs ketiga yaitu kesehatan yang baik dan kesejahteraan bagi masyarakat pedesaan wilayah Banyuwangi.
Dosen Pendamping dari Prodi Kesehatan Masyarakat SIKIA, Septa Indra Puspikawati, S.K.M., M.PH mengatakan mahasiswa asing turut membantu berlangsungnya kegiatan posyandu. 10 mahasiswa LJMU mempelajari 5 standart layanan posyandu di Indonesia. uniknya di Banyuwangi terdapat 6 standart layanan. Layanan tersebut bernama bengkel sakinah.
Pada meja pertama merupakan tempat pendaftaran bagi balita yang akan mengikuti posyandu.
“Pada meja pertama mahasiswa asing membantu dalam melakukan registrasi bagi balita yang datang,” katanya.
Pada meja kedua merupakan tempat penimbangan dan pengukuran tinggi badan. Pada bagian ini cukup menarik perhatian bagi mahasiswa asing, karena penggunaan alat dacin yang baru pertama kali mereka lihat. Dacin sendiri merupakan timbangan manual yang menggunakan balok lurus untuk keseimbangan. Alat tersebut dapat digunakan untuk bayi hingga anak usia tiga tahun.
“Mereka membantu penimbangan dan tinggi badan. Menariknya mereka memang baru pertama kali melihat penggunaan dacin,” ungkapnya.
Pada meja ketiga menjadi tempat penginputan data pada buku register posyandu dan kartu menuju sehat (KMS). KMS menjadi salah satu kartu yang wajib dimiliki setiap anak yang melakukan posyandu dalam pemantauan tumbuh kembangnya secara periodik. Tak hanya itu, mahasiswa asing juga diajak melakukan penginputan WHO Anthro oleh tim pendamping KESMAS SIKIA.
Sedangkan meja keempat menjadi meja penyuluhan bagi anak dengan memberikan makanan tambahan. Dalam kesempatan tersebut makanan yang tersedia adalah puding buah, puding jagung, dan bolu abon ayam. Lewat makanan sehat tersebut, nutrisi yang terkandung dapat mudah dicerna dan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak.
Septa menuturkan meja kelima merupakan meja khusus yang melayani anak dengan permasalahan kesehatan dan imunisasi. Beberapa kasus yang terjadi adalah anak dengan diare dan demam. Berbeda dengan meja kelima dengan fokus pelayanan kesehatan pada anak, meja keenam digunakan sebagai penguat kesehatan mental dan pengetahuan bagi orang tua.
“Meja keenam digunakan hanya untuk orang tua yang mengalami permasalahan yang ingin curhat seperti masalah dalam rumah tangga dan pola asuh,” tuturnya.
Pada kesempatan itu pula bertepatan dengan diadakannya taman posyandu. Aktivitas tersebut mengajak bermain dan belajar bersama anak sembari menunggu giliran penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. Setelah sesi posyandu usai, mahasiswa asing diajak kembali menikmati indahnya alam Banyuwangi di Bangsring Underwater.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Tasya Ramadhan
