BERITA SIKIA – Produktifitas sapi perah dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah kesehatan ambing dan puting susu induk betina. Mastitis adalah radang pada ambing yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau mikroba yang menyerang sapi perah produktif. Dalam upaya pencegahan infeksi mastitis, mahasiswa Kedokteran Hewan Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Unair melakukan uji mastitis subklinis. Berdasarkan gejala klinisnya, mastitis dibedakan menjadi 2 jenis yaitu subklinis dan klinis. Mastitis klinis ditunjukkan dengan adanya gejala, sedangkan subklinis tidak tampak. Uji mastitis subklinis dilakukan pada salah satu sentra peternakan sapi perah di Banyuwangi, hari Selasa (02/08/2023). Pengecekan dilakukan untuk mendeteksi apakah sapi di peternakan tersebut terindikasi mastitis subklinis atau tidak.
Sapi perah yang terjangkit mastitis dapat mengakibatkan penurunan produksi susu dan kesehatan sapi itu sendiri. Hal ini otomatis merugikan peternak karena susu yang dihasilkan lambat laun akan berkurang. Mastitis dapat menular melalui perantara tangan pemerah dan alat perah susu yang kurang terjaga kebersihannya. Kebersihan sanitasi lingkungan juga turut mengambil peran dalam penyebaran mastitis.
Sejumlah mahasiswa didampingi Ratih Novita Praja., drh., M.Si bersama dokter hewan lain melakukan deteksi subklinis pada 15 ekor sapi jenis Friesian holstein. Uji dilakukan dengan cara mengambil sampel susu dari setiap puting sapi. Susu tersebut dipancarkan langsung ke wadah atau paddle yang diberi cairan CMT (California Mastitis Test). Sapi yang terindikasi mastitis ditandai dengan adanya pengentalan cairan dan munculnya lendir pekat pada paddle.

Hasil uji sementara ditemukan beberapa ekor sapi yang terindikasi mastitis subklinis. Selanjutnya, mahasiswa mengambil sampel susu untuk isolasi dan identifikasi bakteri penyebab mastitis subklinis di laboratorium SIKIA. Pengamatan jenis bakteri dilakukan untuk menentukan metode terapi yang tepat. Dokter Ratih juga menambahkan beberapa jenis bakteri sudah resisten atau kebal terhadap antibiotik yang beredar dipasaran.
“Setelah tahu jenis bakterinya, kita bisa menentukan diterapi menggunakan antibiotik apa, dosisnya berapa. Kalau langsung diterapi, takutnya bakteri yang menginfeksi itu sudah resisten. Sayang sekali kalau diterapi tidak tepat sasaran.” Jelas dosen mikrobiologi veteriner tersebut.
Selain mengasah kemampuan analisa, praktik ini juga menguji kemampuan manajerial calon dokter hewan. Aktivitas memerah sapi dilakukan pagi dan sore saja. Peternak juga harus memastikan kebersihan sapi, kandang, wadah penampung, dan diri sendiri sebelum memerah. Oleh karena itu manajemen waktu sangat diperlukan agar volume susu yang dihasilkan optimal.
Kegiatan uji mastitis subklinis pada kelompok ternak sapi perah menunjukkan peran SIKIA Unair dalam melakukan pemberdayaan kesehatan sapi peternak yang menjalin kerjasama. Kesehatan sapi diperiksa langsung oleh dokter hewan yang juga dosen pendamping praktikum. Seluruh hasil uji pemeriksaan kesehatan akan dilaporkan langsung kepada pemilik ternak. Diharapkan dengan adanya praktikum membantu peternak menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan ternaknya.
Penulis: Avicena C. Nisa
Editor: Jasmine Indah
