
Hingga saat ini 26 dari 38 Provinsi di Indonesia masih menjadi wilayah endemik rabies. Angkat tersebut terbilang sangat tinggi sebagai kawasan rawan penyebaran zoonosis rabies. Beberapa wilayah endemik tersebut masih mengalami keterbatasan dalam diagnosa rabies. Sehingga pengawasan dan kontrol rabies tidak dapat dilakukan secara cepat dan membuat korban jiwa jatuh terlebih dahulu. Kondisi tersebut terjadi karena tes rabies yang lama dan keadaan klinis baru nampak jika sudah mengalami keparahan gejala.
Sebagai bagian dari civitas akademika Universitas Airlangga, saya turut memberikan sumbangsih ide kreatif terkait permasalahan rabies itu. Menjawab keterbatasan alat laboratorium dan tenaga laboran profesional ahli dalam teknik FAT. Ksatria Airlangga mempersembahkan RABICHECK menjadi salah satu alternatif alat skrining rabies mobile yang dapat digunakan diberbagai keadaan dan tempat. Menggunakan prinsip Rapid Test antigen virus rabies berbasis Latex Agglutination Test. Sampel air liur dapat dinyatakan positif rabies jika terdeteksi aglutinasi oleh sensor disposable. Sensor yang telah terpakai harus dibuang untuk digantikan kembali dengan yang baru dan dilakukan sterilisasi alat menggunakan alkohol 90%. Hal tersebut dilakukan dalam memastikan akurasi test tetap tinggi dalam setiap tes.
Keunggulan dari RABICHECK
- Tingkat akurasi mencapai 98.7% dengan menggunakan LAT,
- Lebih efisien dibanding metode FAT yang harus membedah sampel otak,
- Tidak membutuhkan tenaga ahli dalam pembacaan sampel,
- Dapat digunakan diberbagai daerah endemik rabies dengan fasilitas laboratorium terbatas.
Penulis: Azhar Burhanuddin
