FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Peneliti BRIN Ungkap Resiko Penyakit Arthropoda Disekitar Kita

BERITA SIKIA – Update perkembangan parasitik hewan, Program Studi Kedokteran Hewan Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga menyelenggarakan kuliah tamu dengan tema “Peran Ektoparasit Pinjal dan Tungau Sebagai Vektor Penyakit Parasitik Pada Hewan”. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Selasa (12/9/2023) di ruang G201 yang diselenggarakan oleh April H Wardhana, SKH, MSi, Ph.D yang merupakan Peneliti Ahli Utama Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN).

Secara umum, beberapa infestasi klinis disebabkan oleh Arthropoda. Mereka adalah binatang yang memiliki kaki beruas, berbuku atau bersegmen. Hewan tersebut memiliki ciri utama tubuhnya terbagi dua belahan yang sama bentuk & ukuran (bilateral simetris) dengan anggota tubuhnya hampir selalu terdapat berpasangan. Secara umum hewan tersebut bersifat parasit, heterotropik (memanfaatkan bahan organik untuk disintesis menjadi sebagai sumber pakan) dan hidup bebas.

Dari berbagai jenis arthropoda bersifat patogen yang sering dikenali adalah pinjal dan tungau. Dibidang kedokteran hewan, tungau dari jenis Sarcoptes scabiei seringkali menjadi biang keladi penyakit kulit scabies pada beberapa hewan seperti kucing dan kelinci. Scabies memiliki gejala munculnya ruam bersisik yang terasa gatal karena manifestasi tungau jenis tersebut pada stratum corneum maupun spinosum. Namun yang perlu diperhatikan adalah scabiosis menjadi salah satu infeksi yang berpotensi zoonosis dengan penyebaran yang cepat.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh April H Wardhana, S.KH, MSi, PhD bersama tim pada tahun 2023, ditemukan ektoparasit berupa pinjal yang ditemukan pada tubuh tikus yang hidup di berbagai lokasi. Ektoparasit yang berhasil diidentifikasi diantaranya adalah Xenopsylla cheopis, Ornithonyssus bacoti, Laelaps echidninus, Laelaps nutalli, Laelaps echidninus, Laelaps nutalli. Hasil data tersebut itu tertulis bahwa dominasi ektoparasit yang ditemukan pada tubuh tikus adalah pinjal Xenopsylla cheopis dengan lokasi pengambilan sampel berada di kawasan luar rumah yang masih masuk dalam kawasan pemukiman penduduk.

Oleh karena itu, risiko yang berhasil diidentifikasi adalah potensi merebaknya penyakit Pes apabila terdapat bakteri Yersinia pestis dalam lingkungan tersebut. Bakteri dapat ditularkan melalui gigitan pinjal yang hidup pada tikus. Pes sendiri merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia melalui gigitan hewan yang terinfeksi. Penyakit tersebut dapat menyebabkan komplikasi berupa kematian jaringan (gangrene) pada jari-jari tangan dan kaki akibat tersumbatnya aliran darah. Kemudian sepsis yang terjadi jika bakteri pada pneumonic plague atau bubonic plague menyebar ke darah hingga mengakibatkan meningitis.

Penulis: Muhammad Aqil Kurnianto

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *