FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mantapkan Konsep Travel Medicine, Kedokteran FIKKIA Gelar FGD dengan Narasumber Ahli

 KABAR FIKKIA – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga Banyuwangi bersama expert dan stakeholder terus bersiap mematangkan kurikulum pendidikan sarjana Kedokteran. Melalui kegiatan Lokakarya dan Sosialisasi Visi Misi dan Kurikulum Program Studi Sarjana Kedokteran FIKKIA UNAIR Banyuwangi pada Selasa (5/12/2023).

Diselenggarakan di Aula Kampus Mojo, kegiatan lokakarya tersebut terlaksana secara hybrid dengan moderator Dr. Rahardian Indarto Susilo, dr., Sp.B.(K). Dalam platform Zoom hadir narasumber ahli yaitu Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., Sp.An, KMN., KNA., Dominicus Husada, dr., DTM&H., MSc (CTM), SpA (K),  Dr. dr. Made Agus Hendrayana, S.Ked., M.Ked. Turut hadir secara daring jajaran dosen Fakultas Kedokteran UNAIR dan Dekan FK UNAIR sebagai fakultas pembina Program Studi Kedokteran FIKKIA UNAIR.

Secara langsung, Dekan FIKKIA, bersama dengan Wakil Dekan dan calon dosen Kedokteran FIKKIA turut mengikuti jalannya forum. Stakeholder dari jajaran pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga hadir langsung seperti Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi. Direktur RSUD Blambangan, Direktur RSUD Genteng, dan Kepala Puskesmas Daerah Wisata Banyuwangi. Lokakarya menjadi kegiatan forum diskusi dalam meresepkan unggulan kedokteran pariwisata (Travel Medicine). Rencananya akan diterapkan pada 20% kurikulum pada blok kuliah yang didesain untuk 8 semester. Travel medicine terpilih karena letak kampus di Banyuwangi dengan lingkup pariwisata baik pesisir, gunung, savana, hingga hutan.

Travel medicine adalah bidang kedokteran yang mencakup penatalaksanaan masalah kesehatan paripurna sebelum, selama, dan setelah perjalanan bagi para pelancong (pelaku perjalanan domestik dan internasional), serta menangani kebutuhan kesehatan penduduk di tujuan wisata/ perjalanan, terutama yang muncul karena kehadiran dan aktivitas para pelancong. Penatalaksanaan paripurna ini meliputi penatalaksanaan penyakit pada lima level/ tingkatan (health promotion, specific protection, early diagnosis & prompt treatment, disability limitations, & rehabilitation) yang terkait dengan perjalanan, serta mengatasi tantangan kesehatan lingkungan dan endemik bagi balk pelancong maupun penduduk lokal.

Dekan FIKKIA UNAIR bersama perwakilan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan narasumber ahli. Foto: UKIP

FGD terbagi menjadi tiga sesi. Pertama menyamakan persepsi mengenai definisi travel medicine dan masukan dari expert. Kedua pemberian saran dan pendapat dari stakeholder lokal. Ketiga merupakan kesimpulan. Forum berjalan lancar dengan berbagai masukan penting dari berbagai pihak yang menjadi catatan. Diantaranya adalah pengembangan layanan travel medicine, peta kasus lokal travel medicine, penyebaran blok travel medicine, hingga pengadaan kelas bahasa asing non inggris. Dalam wahana pendidikan Direktur RSUD Blambangan menyebut pihaknya juga tengah bersiap membuat layanan Travel Medicine.

Dalam kesimpulannya, Fithriyah Cholifatul Ummah, dr., M.Med.Ed. menegaskan bahwa setiap masukan dari berbagai pihak akan menjadi bahan pertimbangan desain kurikulum Travel Medicine. Tahapan selanjutnya untuk mempersiapkan Asesmen Lapangan Akreditasi Minimum Program Studi Sarjana Kedokteran akan terus FIKKIA laksanakan.

Penulis: Putri laura faradina
Eitor: Tasya Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *