Landak mini (atelerix albiventris) merupakan mamalia insektivora asal Afrika yang saat ini populer dijadikan sebagai hewan peliharaan. Landak mini mudah dikenali dari duri kecil di punggung dan rambut halus di perutnya. Landak mini Afrika memiliki ciri khas berupa warna putih pada perut dan telapak kaki. Ukuran badannya kecil berkisar antara 17-25 cm. Bentuk tubuhnya yang mungil memudahkan pemelihara membawa landak mini keluar rumah. Temperatur ideal untuk memelihara landak mini adalah pada kisaran 23-25 °C. Temperatur diusahakan tidak kurang dari 18 °C dan tidak lebih dari 28 °C. Menjaga kelancaran air seni sangat penting untuk kesehatan. Air seni yang terhambat akan menimbulkan masalah dalam tubuh. Contoh lain akibat dari pengeluaran air yang tidak lancar adalah pengkristalan zat-zat yang akan dibuang dikarenakan genangan air seni di ginjal atau di kandung kemih yang cukup lama. Zat-zat tersebut antara lain kalsium karbonat, kalsium urat, kalsium oksalat, dan kalsium lemak. Zat-zat ini merupakan cikal bakal dari batu ginjal. Salah satu pengeluarannya yaitu dengan cara meningkatkan pengeluaran air lewat diuresis.

Dalam Project Based Learning dalam Mata Kuliah Patologi Klinik Veteriner, mahasiswa Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi melakukan sebuah uji diagnosis. Salah satunya adalah Kelompok 11 dengan anggota Azhar Burhanuddin (062111535026), Tri Ena Wulandari (062111535040), Assyuria Fahma Putri Nandra (062111535047), Cheisa Alfi Yudha (062111535034). Mereka memeriksa landak mini yang diberikan konsumsi harian pakan kucing dengan kadar protein 28%. Pakan kucing sendiri sebenarnya memiliki kandungan yang aman dikonsumsi setiap hari dalam kondisi apapun. Landak mini tidak diberikan apapun selain pakan tersebut dan air secara ad libitum. Pemberian pakan dilakukan sehari sekali pada sore hari.
Minim urinasi
Landak mini tersebut dapat dikategorikan minim mengalami urinasi yang hanya berada di angka 1 kali per 2 hari. Dari segi warna, urin landak mini berwarna coklat keruh yang cukup pekat. Untuk mengetahui letak patologis, terdapat dua kali pengecekan urine yang dilakukan pada saat landak mini dipelihara dalam cuaca panas (37 C) dan pada suhu sejuk (27C) dengan hari mendung. Kelompok 11 melihat kondisi urin secara fisik dan secara kandungan kimia. Dalam pengujian melalui alat urine analyzer di Laboratorium Terpadu 2 FIKKIA UNAIR. Terdapat 9 indikator yang mendapatkan pengecekan mulai dari pH, bilirubin, keton, eritrosit, leukosit, viskositas, protein, nitrat, glukosa, dan urobilinogen. Dari dua pengujuan tersebut ditemukan kondisi yang selaras berupa abnormalitas yang merujuk pada kondisi patologis.
Ph urin dan zat abnormal
pH urin normal landak mini berkisar pada pH netral dalam rentang antara 7-7,5. Hasil pengujian 1 dan 2 menandakan urine landak mini itu berada dalam keadaan basa karena berada di angka 9. Kondisi tersebut mengakibatkan peningkatan potensi terbentuknya kristalisasi maupun penyumbatan di dalam saluran kemih yang berasosiasi pada urolithiasis. Cemaran zat yang tak lazim ditemukan pada urin normal landak mini juga ditemukan oleh mahasiswa Kedokteran Hewan FIKKIA semester 5 itu. Pertama adalah cemaran leukosit yang merupakan salah komponen abnormal yang berasosiasi dengan kejadian infeksi pada saluran kemih. Kedua merupakan nitrat. Komponen tersebut menjadi indikator prediksi dari kegagalan infiltrasi pada kejadian Urinary Tract Infection. Sebagai kerabat dari ordo rodentia, landak mini yang masuk kedalam ordo eulipothphyla memiliki infiltrasi protein dengan kisaran normal dengan nilai 4.85-6.78. Dari hasil pengujian, mahasiswa tersebut menemukan nilai keabnormalan yang sangat tinggi hingga menembus 75. Oleh karena itu, maka sistem filtrasi dapat dikatakan bermasalah karena mendapatkan cemaran protein hingga sebesar itu.
Dari sudut indikator patologis hasil ekskresi landak mini itu tidak ditemukan. Seperti tidak adanya Infiltrasi bilirubin dalam sistem ekskresi yang erat kaitannya sebagai bentuk patologis dari abnormalitas metabolisme organ liver. Maupun cemaran eritrosit berupa bercak darah dalam urin yang erat berkaitan dengan sistem metabolisme ginjal dalam filtrasi darah.
Kesimpulan dan saran
Dari hasil pengujian urin landak mini tersebut, maka diagnosa mengerucut pada Urinary Tract Infection yang mungkin terjadi pada bagian ginjal hingga ureter. Kejadian infiltrasi leukosit dan protein tanpa bercak darah dapat terjadi karena glomerulus mengalami kerusakan sebagian. Oleh karena itu, peneliti menyatakan perlu perubahan konsumsi pakan karena kejadian tersebut erat dengan penyumbatan yang membuat landak mini mengalami kesulitan buang air kecil. Antara lain dapat disebabkan oleh lemak tinggi yang terdapat pada makanan kucing tersebut walaupun ditemukan pula cemaran protein yang tinggi akibat abnormalitas metabolisme dalam sistem ekskresi. Oleh karena itu, kelompok 11 menyarankan kepada pemilik untuk segera melakukan hal berikut:
Pertama, pemilik landak mini harus melakukan pemeriksaan lanjutan ke dokter hewan. Hal tersebut menjadi kewajiban pemilik untuk kesejahteraan dan kesehatan hewan dalam mewujudkan animal welfare. Dalam kondisi tersebut hewan merujuk pada gangguan Urinary Tract Infection yang dapat mengerucut pada kejadian gagal ginjal di kemudian hari. Pengecekan lanjutan dengan uji lemak harus dilakukan untuk menemukan prevalensi utama dari makanan yang menyebabkan endapan protein maupun lemak yang mengganggu kinerja glomerulus.

Kedua, kandungan urin pH yang basa membuat konsumsi landak harus disiapkan dengan penambahan kandungan asam buah. Pengobatan dengan asam pipemidat sesuai resep dokter dapat digunakan.
Ketiga, pemilik hewan harus menambah asupan air dengan pemberian lewat suapan spuit. Tak hanya itu, pemberian buah buahan dengan kandungan air tinggi dapat menjadi pilihan seperti apel, melon, semangka, dan sebagainya. Hal tersebut dapat memenuhi asupan organik tambahan yang dibutuhkan dalam mengurangi kinerja.
Pencegahan
Langkah pencegahan harus agar tidak terjadi gangguan Urinary Tract Infection maupun gangguan ginjal pada landak mini adalah memastikan kebutuhan air terpenuhi setiap saat. Selain itu, pakan kering harus dikombinasikan dengan bahan organik seperti sayur dan buah yang sesuai dengan kebutuhan landak tersebut sebagai pakan cemilan. Palatabilitas dapat dicoba dengan mencoba berbagai jenis buah ataupun sayur yang berbeda sesuai dengan keinginan landak. Kelompok 11 berharap telaah ini dapat menjadi bahan pengembangan kesehatan hewan eksotik terutama landak mini yang masih belum banyak dieksplorasi. Sehingga dapat menjadi tambahan khazanah ilmu pengetahuan dalam dunia patologis landak mini yang belum banyak dipublikasikan di Indonesia.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
