KABAR FIKKIA – Siapa yang tidak mengenal Lauren Mercy angkatan 2022 ini. Mahasiswa Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam UNAIR tersebut berkesempatan mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM). Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) merupakan program yang dapat menyatukan seluruh mahasiswa di Indonesia.
Melalui PMM Mercy berhasil menjajaki indahnya provinsi ujung barat Indonesia, tepatnya di Universitas Malikussaleh Aceh. Keinginan yang kuat sejak semester 1 untuk mengikuti pertukaran mahasiswa luar negeri atau dalam negeri tak pernah ia lupakan. Seperti peribahasa “Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung” ia berusaha beradaptasi dengan adat dan kebudayaan di Tanah Rencong. Di sisi lain, ia juga dapat menambah wawasannya terkait perikanan di luar pulau Jawa.
Ragam kegiatan keagamaan dan kebudayaan
Ada satu kegiatan yang akan selalu diingat yaitu modul nusantara. Modul Nusantara merupakan rangkaian kegiatan yang berfokus untuk menciptakan pemahaman komprehensif tentang kebinekaan, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial. Pada modul nusantara ini membawa mahasiswa lebih dekat dan mengenal tentang suku, budaya, ras, dan agama dari berbagai Nusantara. Menurut Mercy, modul nusantara kegiatan paling menyenangkan karena ia dapat mengenal lebih dalam kebudayaan negeri serambi Mekkah tersebut.
“Karena saya PMM di Aceh, jadi cukup banyak mengetahui terkait kebudayaan dan kebiasaan masyarakat di Aceh itu seruuu bangett” tutur Mercy.

Tentu saja banyak sekali adat istiadat yang sangat berkesan bagi Mercy selama di Aceh, yaitu ketika peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tidak seperti di daerah Indonesia lainnya, di Aceh acara berlangsung lebih lama yaitu selama 3 bulan 10 hari di setiap desa dan akan ada kenduri maulid (makan-makan bersama masyarakat) yang berlangsung secara bergantian di setiap desa. Selain itu, terdapat acara PKA (Pekan Kebudayaan Aceh) yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Acara ini merupakan kesempatan besar bagi masyarakat Aceh untuk memperkenalkan budayanya kepada dunia. Bahkan warga usia 50-60 tahun tak kehilangan semangat untuk ikut serta memeriahkan acara tersebut dengan cara berpartisipasi dalam memainkan alat kesenian-kesenian di Aceh yang akan di tampilkan di PKA.
“Menurut saya acara PKA super duper kerennn abisss parahhh karena begitu antusias nya masyarakat Aceh untuk memperkenalkan budaya nya” tutur Mercy
Secercah harapan bagi perikanan Indonesia
Banyak sekali hal berkesan yang tertanam dalam hati Mercy, tentu saja tidak mudah untuk dilupakan. Perjalanannya dalam mengexplore ujung barat negeri Indonesia hanya berlangsung selama 1 semester. Keterbatasan waktu dan ruang telah mengikat persaudaraan bersama mahasiswa seluruh Indonesia. Luasnya alam Daerah Istimewa Aceh membentuk secercah visi dan misi bagi perikanan Indonesia. Menurut Mercy, optimalisasi di bidang akuakultur sendiri belum terlalu terealisasikan dengan baik, sehingga diperlukan riset lebih mendalam yang dapat memajukan sustainable fisheries.

“Untuk konsep mekanisme proses dan lain sebagainya nya dari saya sendiri sementara masih di mantapkan kembali saambil meriset kembali agar yang saya buat nantinya sesuai dan bisa membantu perikanan menjadi sustainable fisheries” ujar gadis blasteran Indo-Afrika tersebut
Bertukar Sementara Bermakna Selamanya
Penulis: Diva Desmieta
Editor: Avicena C. Nisa
