FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mengikat Tali Persahabatan dalam Pertukaran Mahasiswa Merdeka

KABAR FIKKIA – Lewat program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM), setiap mahasiswa diberikan kesempatan oleh KEMENDIKBUD RISTEK untuk menimba ilmu antar kampus di pulau seberang. Dalam program MBKM tersebut, salah satu Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi berkesempatan menjalankan PMM 3 ke Universitas Pattimura, Ambon. Dia adalah Frency Imanuel dari Program Studi Akuakultur Angkatan 2021. Tak hanya mendapatkan keuntungan konversi bagi mata kuliah terkait, namun juga memberikan pengalaman tak terlupakan dalam kegiatan PMM 3.

Pelajari Akuakultur Air Asin

Bagi Frency mendapatkan kesempatan berkuliah di kampus tersebut memberikan pengalaman pembelajaran akuakultur yang berbeda. Dia mendapatkan belajar lebih mendalam tentang akuakultur air asin. Bahkan bersama mahasiswa lokal disana, mereka mendapatkan pembelajaran langsung sistem tersebut di keramba jaring apung milik peternak ataupun dosen secara berkala. Selain itu, Frency juga menjajal kesempatan belajar praktikum dalam salah satu Balai Perikanan Budidaya Laut yang bekerja sama dengan Universitas Pattimura 

“Disana aku mempelajari akuakultur air laut yang melimpah seperti budidaya rumput laut dan ikan kue yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Tak terbatas hanya tambak air payau saja,” katanya.

Sahabat dan Keluarga Baru

Tak sekedar menemukan sosok teman semata, Frency juga menemukan sahabat baru yang bernama Ivana Gea. Salah satunya membuat kisah baru bersama seorang sahabat asal Nias, Sumatera Utara. 

Bersama ditempat yang baru pertama kali menginjakkan kaki, mendorong mereka membentuk ikatan sahabat yang lebih luas. Sosok tersebut jugalah memperkenalkan dirinya dengan Himpunan Mahasiswa Nias Ambon (HIMNIA) yang menjadi rumah dan keluarga selama disana. Menghargai keberadaan Frency ditengah komunitas yang menjunjung tinggi pertemanan tanpa perbedaan.

“Mereka memberi perhatian lebih seperti mau mengajakku ke aktivitas mereka padahal aku bukan orang yang paham dan tau Nias sebelumnya. Mengajarkan bahasa Nias dan maksud orang lokal, mengajakku makan bersama saat di asrama maupun luar asrama, memperhatikan penampilan dan memperhatikan kesehatanku juga” ungkap Frency.

Kerja bakti bersama dan warga lokal di Banda Neira. Foto: Dokumen pribadi

Bertemu dengan sahabat dan keluarga baru yang belum pernah mengenal sebelumnya menyimpan sebuah kerinduan setelah berpisah. Selama beraktivitas bersama mereka, Frency merasa tak pernah menemukan sakit hati dalam balutan toleransi dalam perlakuan ditengah perbedaan.

Travelling Ke Banda Neira

Mengikuti PMM 3 di Maluku memberikan kesempatan baginya mengunjungi salah satu kawasan terindah nusantara. Kalimat dari Sutan Sjahrir “Jangan Mati Sebelum Ke Banda Neira” menjadi salah satu kenyataan yang terwujud bagi Frency. Dengan perjalanan panjang menggunakan kapal bersama rekan PMM 3, mereka berhasil tiba di kawasan vulkanis yang memiliki laut terdalam tersebut.

“Ke Banda itu ada jadwalnya, even kapal maupun pesawat nggak setiap hari selalu ada. Jadi 4 hari sekali itu baru ada kapal atau pesawat kesana begitupun juga sebaliknya. kami naik kapal jadi perjalanan berangkatnya memakan waktu 8 jam dan waktu pulang 12 jam,” katanya.

Kunjungan ke Benteng Nassu (kanan) dan rumah pengasingan Sutan Syahrir (kiri). Foto: Dokumen pribadi

Baginya, bepergian ke Banda bersama teman teman PMM merupakan kesempatan yang mungkin tak dapat terulang lagi. Mendapatkan penginapan dengan pemandangan langsung ke gunung Banda menjadi hal yang dapat terlupakan. Terlebih lokasi tersebut juga memberikan keseruan pengalaman dengan loncat langsung ke laut untuk berenang.

Di Banda, mereka mengunjungi Benteng Belgica yang terdapat pada uang 1000 dan Benteng Nassau yang saling tersambung antara keduanya. Pengalaman beribadah dalam suasana berbeda bagi dirinya juga menjadi kenyataan. Sebab Frency mengunjungi tempat ibadah yaitu gereja tua yang terletak diatas makam portugis. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan belajar dalam balutan Bertukar Sementara, Bermakna Selamanya.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *