FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Menimbang Potensi Pencemaran Bahan Pestisida Sistem Minapadi

Peralihan fungsi lahan pertanian menjadi wilayah industri kini semakin marak terjadi. Oleh karena itu, perlu dikembangkan pertanian terpadu untuk meningkatkan produktivitas pada sektor pertanian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian adalah dengan sistem pertanian terpadu. Pertanian bertujuan untuk meningkatkan hasil dan keuntungan secara sosial dan ekonomi. Upaya pertanian terpadu yang kerap diterapkan ialah sistem minapadi. Cahyaningrum et.al (2014), menyatakan bahwa penerapan sistem minapadi memberi keuntungan yang sangat besar, karena dalam satu lahan yang sama para petani dapat memperoleh hasil berupa padi dan ikan.

Tantangan kontrol penggunaan pestisida

Sistem minapadi yang telah dikembangkan di Indonesia sejak 2015 di daerah Bantul, Yogyakarta telah memberikan keuntungan berupa padi dan ikan bagi petani. Sistem minapadi ini dapat menghasilkan pengehamatan lahan, karena itu dapat menyerap tenaga kerja yang banyak. Kemudian, sistem minapadi juga mampu menambah capaian target produksi ikan secara nasional. Namun, semenjak awal diterapkan sistem ini banyak faktor yang menjadikan ikan yang dibudidayakan mengalami kematian dan petani kembali menebar ikan. Faktor yang dapat menyebabkan kematian ikan salah satunya yaitu pemakaian pestisida residu pestisida. Penggunaan yang tidak sesuai dosis akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan akumulasi di dalam tubuh ikan serta sedimen tanah (Aryani et al., 2013).

Konsep dasar dari pertanian minapadi ialah ikan menjadi biokontrol tumbuhan yang dapat menurunkan serangan hama serangga. Sedangkan, padi dapat menurunkan suhu air pada siang hari, sekaligus meningkatkan unsur nitrogen serta membantu untuk menurunkan kandungan amonia dalam air sehingga kualitas perairan yang menjadi media hidup ikan menjadi lebih baik. Padi juga menjadi penyedia makanan tambahan untuk ikan seperti adanya serangga pemakan daun yang jatuh ke perairan (Hu et al.,2013).

Kematian ikan akibat cemaran pestisida. Sumber: kkp.go.id

Akan tetapi, pada saat mengelola tanaman padi terdapat bahan pestisida yang digunakan sebagai pendukung sistem pertanian untuk mengurangi hama. Bahan pestisida tersebut dapat mencemari air yang digunakan untuk budidaya ikan air tawar. Pestisida mengandung senyawa aktif berupa piretroid (41,38%), organofosfat (13,79%), karbamat (10,34%), dan neonicotinoid (34,49), senyawa ini bersifat toksik (racun) yang berbahaya. Pemberian pestisida dengan dosis 0,02 hingga 0,32 mg/L, dapat mengakibatkan terjadinya perubahan fisiologis hingga menyebabkan mortalitas.  Dosis tersebut dapat bereaksi dan mengakibatkan efek pada ikan yang dipapar selama 48 jam, sehingga dapat dikatakan bahwa dosis 0,02-0,32 mg/l merupakan lc50 dari pestisida (kumar et al., 2016).

Bagaimana pestisida bisa mencemari air

Pestisida yang disemprotkan dalam bentuk partikel air untuk difokuskan jatuh pada tujuannya (tanaman). Penyemprotan bahan pestisida ke tanaman, kemudian jatuh ke air yang digunakan untuk budidaya dapat mengurangi persediaan oksigen terlarut dalam air. Jika, tingkat pemberian pestisida dilakukan secara terus-menerus, maka dapat mengurangi kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan. Menurut Thompson (2007), pengaruh secara langsung disebabkan oleh akumulasi bahan pestisida pada makanan yang terkontaminasi. Sedangkan, secara tidak langsung mengakibatkan menurunnya kekebalan tubuh pada ikan terhadap penyakit dan pertumbuhan.

Sumber: kampustani.com

Kualitas air pada budidaya ikan dengan sistem minapadi secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh cemaran pestisida. Rusdiyanti dan Dana (2009), menyatakan pestisida yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami proses metabolisme. Pestisida dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan, saluran pernafasan, dan kulit. Saluran pencernaan terjadi ketika pestisida menyebabkan organ usus akan mengalami absorpsi dan distribusi, proses ini mengakibatkan kerusakan pada jaringan ikan. Distribusi terjadi ketika pestisida masuk ke dalam saluran pencernaan (usus) melalui peredaran darah vena portal hepatik menuju ke hepar. Selanjutnya, pestisida masuk pada bagian hepar, maka akan terjadi proses detoksifikasi dan akumulasi racun.

Kadar aman penggunaan pestisida pada sistem minapadi

            Minapadi adalah suatu sistem yang digunakan untuk melakukan kolaborasi antara pertanian dengan perikanan yang dapat memadukan antara menanam padi dengan budidaya ikan air tawar. Petani memanen tanaman padi dengan hasil yang cukup lebih dibandingkan pada saat menebar biji padi. Sementara itu, ketika petani memanen hasil ikan yang dibudidayakan mengalami penurunan dikarenakan ikan banyak mengalami kematian. Kematian ikan yang dibudidayakan terjadi karena bahan pestisida yang digunakan petani untuk menghilangkan hama. Bahan pestisida tersebut digunakan secara berlebihan yang dapat mencemari perairan ikan yang dibudidayakan. Kelangsungan hidup ikan air tawar yang dibudidayakan memiliki nilai yang sangat rendah. Oleh karena itu, budidaya ikan untuk mendapatkan nilai kelangsungan hidup yang tinggi perlu dilakukan monitoring kualitas air dan  memperhatikan dosis pestisida. Kadar dosis pestisida yang baik digunakan adalah 2/100 x 300 = 6 L/hektar. Kemudian, tidak hanya dosis saja yang diperhatikan, melainkan waktu penyemprotan pestisida harus dilakukan pada sore hari (pukul 16.00-17.00) ketika suhu udara < 30°C dan kelembapan udara 50-80%. Karena pada sore hari jaringan tanaman dapat menyerap ketika basah dan pestisida tidak menguap. Sehingga penyemprotan tidak mengalami salah sasaran yang dapat terkena ikan. Ikan dapat hidup dengan air yang tidak tercemar oleh bahan toksik seperti bahan pestisida yang dapat menghabiskan bahan persediaan oksigen terlarut (dissolved oxygen) dalam air.

Penulis: Rinaldo Axlvianto Adi Wibowo (Mahasiswa Akuakultur, FIKKIA UNAIR)

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *