FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Ancaman Penyakit WSSV Redupkan Ekonomi Petambak Udang

Udang merupakan salah satu komoditas ekspor primadona Indonesia dalam bidang perikanan yang paling diminati oleh pasar internasional. Udang memberikan kontribusi sebesar 45,6% terhadap nilai ekspor produk perikanan Indonesia (Khofifah dkk., 2023). Perkembangan patogen virus dalam beberapa dekade terakhir menyebakan kerugian ekonomi pada budidaya udang, salah satunya yaitu penyakit White Spot Disease (WSD). Penyakit viral ini mampu menyusutkan volume ekspor udang akibat terjadi penurunan produksi udang yang sangat ekstrem. White Spot Disease (bintik putih) atau petambak familiar dengan sebutan penyakit WS merupakan penyakit viral paling berbahaya bagi udang yang disebabkan oleh White Spot Syndrome Virus (WSSV) dari famili Nimaviridae. Virus ini berpotensi menyebabkan mortalitas tinggi mencapai 100% pada udang dengan waktu pemeliharaan 3-10 hari sejak munculnya gejala klinis (Dey et al., 2020). Serangan virus WSSV akan meningkat secara drastis ketika musim penghujan, musim pancaroba, dan musim dingin.

(A) Udang normal; (B) Udang terkena WSSV (tubuhnya berwarna kemerahan)
Sumber: Ramos et al., (2014)
Bintik putih pada organ udang
Sumber: Ramos et al., (2014)

Penyakit WSD dapat menginfeksi udang ketika masa pemeliharaan lebih dari 30 hari. WSD yang menyerang udang menimbulkan penurunan aktivitas berenang dan abnormalitas pergerakan renang (whirling). Udang yang terserang infeksi WSD menunjukkan gejala klinis lethargy, penurunan nafsu makan, perubahan warna hepatopankreas, rendahnya respon terhadap rangsangan, adanya bintik putih pada karapas, dan perubahan warna tubuhnya menjadi pucat kemerahan. Gejala klinis ini akan muncul dalam 1-2 hari sebelum terjadinya kematian (Dey et al., 2020).

Pemicu Penyakit Bintik Putih

Serangan penyakit bintik putih pada udang dapat ditularkan melalui infeksi secara horizontal atau kontak langsung dengan udang terinfeksi dan secara vertikal dari induk terinfeksi ke keturunannya. Timbulnya penyakit bintik putih ini tidak serta merta terjadi karena udang terjangkit oleh penularan saja. Akan tetapi disebabkan oleh beberapa faktor yang mampu memicu terjadinya infeksi virus WSSV.

  1. Kurangnya penerapan biosecurity pada tambak. Biosecurity yang buruk seperti tidak dilakukannya treatment pada sumber air yang masuk ke tambak dan air sisa budidaya serta desain tata letak inlet dan outlet yang tidak dilengkapi saringan akan mempermudah masuknya organisme carrier ke tambak.
  2. Penurunan kualitas air. Faktor pemicu munculnya penyakit pada udang dapat terjadi karena faktor lingkungan seperti tidak optimalnya suhu, salinitas, oksigen, kadar ammonia, dan pH yang dapat mengakibatkan udang stress. Apabila udang mengalami stress maka akan memicu penurunan produksi antibodi yang mengakibatkan mekanisme imunitas udang berkurang sehingga udang mudah terserang penyakit.
  3. Overfeeding. Pemberian pakan berlebihan (overfeeding) dapat meningkatkan bahan organik yang menyebabkan peningkatan senyawa toksik di tambak sehingga udang mudah terkena serangan patogen.

Dampak Ekonomi Petani Budidaya Udang

Milliard et al., (2021) mengatakan bahwa kerugian global akibat penyakit WSD telah melebihi $3 miliar per tahun, sehingga berdampak besar pada industri global senilai US$19 miliar per tahun. Bagi petambak udang, penyakit WSD menimbulkan kemerosotan ekonomi disebabkan adanya peningkatan biaya pengendalian penyakit dan penurunan pendapatan. Biaya pengendalian penyakit mencakup komponen pengeluaran untuk pencegahan WSSV sehingga mengurangi keuntungan yang seharusnya diterima oleh petambak. Penyakit WSD mampu menyebabkan kematian massal pada udang dalam waktu beberapa hari maka sangat berdampak pada hilangnya produksi dalam jumlah besar sehingga kemungkinan mempengaruhi harga pasar. Taktik yang dilakukan oleh petambak agar tidak memperparah kerugian yang diakibatkan WSSV yaitu dengan panen prematur saat siklus budidaya berlangsung, tetapi tetap saja terjadi penurunan kualitas akibat udang yang dipanen tidak standar ukuran konsumsi

Strategi Pemulihan Produktivitas

Kemerosotan ekonomi yang dikeluhkan oleh petambak udang akan menjadi berkepanjangan jika tidak diterapkan strategi untuk memulihkan produktivitas dan menstabilkan ekonomi akibat ancaman penyakit bintik putih. KKP menargetkan peningkatan produksi udang nasional hingga 250% atau sebanyak 2 juta ton per tahun pada 2024. Hal ini menjadi angin segar bagi petambak untuk bangkitkan produktivitas budidaya udang. Salah satu hal yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan tindakan pencegahan.

Hambatan fisik yang menghalangi akses burung dan kepiting ke tambak udang.
Sumber: Dey et al., (2020)
  1. Penerapan sistem budidaya rumah kaca. Aplikasi rumah kaca untuk produksi udang dapat mengurangi terjadinya WSD, hal ini dikarenakan mampu meminimalisir fluktuasi suhu di dalam ruangan. Suhu atmosfer yang rendah mempengaruhi suhu air, suhu yang lebih rendah meningkatkan replikasi virus dan menurunkan respon imun udang.
  2. Sterilisasi Tambak. Penggunaan disinfektan sebelum memulai siklus budidaya udang mampu membunuh mikroba berbahaya. Disinfektan yang digunakan harus memperhatikan dosis, sebab jika dosis yang digunakan tidak tepat dapat merusak kematangan mikroba air dan bersifat toksik terhadap plankton. Pemulihan kondisi seperti semula membutuhkan waktu untuk mematangkan mikroba air budidaya di kolam yang disinfeksi.
  3. Stimulasi Imun dan Vaksinasi. Prebiotik dan probiotik disarankan untuk diaplikasikan pada budidaya udang karena mampu mengendalikan penyakit virus melalui perbaikan lingkungan kualitas air dan fisiologi ikan. Selain itu, pemberian vaksin WSSV pada udang dengan metode injeksi ataupun oral mampu melindungi udang terhadap penyakit WSD.
  4. Benur udang yang SPF (Specific Pathogen Free). Pengunaan benur udang SPF agar udang yang dibudidaya bebas dari pathogen tertentu khususnya WSSV. Selain itu perlu untuk memastikan bahwa benur yang dipilih dalam kondisi sehat dan berkualitas.

Penulis: Putri Puspita Sari (Mahasiswa Akuakultur FIKKIA UNAIR)

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *