KABAR FIKKIA- Kegiatan praktikum telah dilakukan oleh Program Studi Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR bersama mahasiswa outbond Central Mindanao University (CMU) Filipina. Praktikum dilakukan pada Senin (29/04/2024) bertempat di Laboratorium Terpadu 3 Kampus Giri. Tujuan pemeriksaan adalah mengidentifikasi keberadaan endoparasit pada ular tampar. Ular tampar sendiri termasuk reptil yang sering berinteraksi dengan manusia karena bisanya tidak berbahaya. Pada umumnya ular tampar dinikmati karena keeksotisannya oleh para pecinta reptil ataupun rasanya yang dinilai ngeri-ngeri sedap oleh penikmat kuliner ekstrim.
Proses identifikasi didampingi oleh Aditya Yudhana, drh., M.Si bersama Tim Parasitina mahasiswa kedokteran hewan. Awalnya, ular terlebih dahulu diperiksa morfologi dan fisiknya. Nekropsi dilakukan untuk mengambil bagian organ yang akan diperiksa yaitu kulit, muscurus, dan organ viseral. Pemeriksaan organ tersebut dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis endoparasit yang menginfeksi ular tampar.
Identifikasi temuan parasit
Parasit yang ditemukan yaitu, jenis cacing dari filum acanthocephala dan cacing spirometra. Endoparasit yang ditemukan dari filum acanthocephala masih tidak dapat ditentukan spesiesnya. Hal ini dikarenakan penentuan spesies dari filum acanthocephala berdasarkan jumlah duri (hooklet) di probosis (kepala) pada setiap barisnya hingga kemiringan duri tersebut. Cacing spirometra dapat bersifat zoonosis atau dapat menginfeksi manusia apabila mengkonsumsi ulat tampar. Parasit tersebut dapat menginfeksi ular tampar, melalui mangsa yang dimakan sehingga ular tampar dapat menjadi inang perantara ke manusia.

Endoparasit yang ditemukan selanjutnya diproses untuk dijadikan preparat mounting. Nantinya preparat dapat diamati secara lebih detail morfologi parasit melalui mikroskop. Preparat parasit yang telah dibuat dapat dijadikan sebagai acuan ataupun bahan pembelajaran mengenai endparasit pada ular tampar.
Pengalaman pertama melakukan nekropsi ular
Bagi mahasiswa CMU hal ini merupakan suatu kegiatan yang pertama kali mereka lakukan, namun hal ini tidak dirasa sulit untuk dilakukan.
“Praktikum ini merupakan pertama kalinya saya lakukan namun ini bukanlah hal yang sulit. Praktikum ini sangat menarik bagi saya untuk dicoba” ungkap Bernard Vincent Diaz Carlo.
Memeriksa endoparasit pada ular juga tidak bisa dianggap mudah, tentu saja terdapat sensasi yang berbeda. Mengingat ular termasuk hewan yang berbahaya baik yang berbisa ataupun tidak. Antusiasme mahasiswa CMU pada saat mengikuti praktikum juga tidak kalah, karena ini hal baru bagi mereka, sehingga mereka melakukannya secara optimal.
drh. Adit menjelaskan, penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan ke manusia dapat dicegah dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan hewan. Hewan yang sering berinteraksi dengan manusia maupun yang dipelihara dapat menularkan penyakit, apabila tidak dijaga dengan baik. Oleh karena itu, praktikum ini sangat penting untuk dilakukan karena dapat mencegah infeksi endoparasit dari ular ke manusia.
Penulis: Diva Desmieta
Editor: Avicena C. Nisa
