BERITA FIKKIA – Dokter hewan menjadi bagian tak terpisahkan dalam One Health. Integral peran veteriner menjadi sumbangsih untuk mewujudkan satu kesehatan global. Riset dari bidang kedokteran hewan menjadi penentu alur penyelesaian awal agar suatu infeksi zoonosis dapat dicegah. Dalam Scientific Conference & International Guest Lecture bertajuk “The Role of Veterinary Medicine to Tackle Emerging Zoonotic Diseases and Advancing One Health Approach” yang diselenggarakan pada Senin (29/04/2024)

Epidemiologi Surra pada Kerbau Air
Prof. Alan P. Dargantes, DVM., MTVSc., Ph.D. dari CMU dengan topik “Epidemiology of Surra and other Parasites of Water Buffaloes in Northeastern Mindanao (Caraga), Philippines” mengatakan bahwa faktor risiko sura pada kerbau air akibat penempatan lokasi ternak di dekat tepi sungai, Fasciolosis, lokasi padang rumput dataran rendah, serta kehadiran siput hospes perantara. F. Giganta, T. evansi, dan A. marginale hadir di antara kerbau air di wilayah Caraga tanpa memandang lokasi dan usia. Pengendalian terhadap parasit ini harus dilakukan oleh pemilik dan pemerintah, memperhatikan faktor risiko yang teridentifikasi. Pengendalian dapat dilakukan dengan Surveilans & penelitian penyakit secara berkala, perawatan terhadap hewan yang positif, pengujian dan karantina hewan impor, meningkatkan program pengendalian, serta melakukan penelitian tentang pengendalian hospes perantara.
Kontrol Rabies di Bukidnon
Dari segi hewan peliharaan, topik “Rabies Prevention and Control Measures in Maramag, Bukidnon, Philippines” yang dibawakan oleh Asst. Prof. Philip John S. Sajol, DVM., MS. (Cand.) memberikan gambaran baru bagi pengetahuan mahasiswa. Beliau memberikan berbagai upaya preventif pencegahan rabies dalam masyarakat setempat. Mulai dari Publikasi makalah dan materi KIE tentang kepemilikan hewan peliharaan yang bertanggung jawab dan pencegahan dan pengendalian rabies. Lalu pendampingan mahasiswa kedokteran hewan dalam melakukan wawancara lapangan, manajemen klien, kegiatan pemandulan, dan vaksinasi rabies. Lalu kegiatan vaksinasi rabies 17.147 hewan dan steril sebanyak 250 ekor anjing dan kucing untuk kontrol alur hidup hewan pembawa rabies.

Biosafety and Biosecurity
Dalam materi “Biosafety and Biosecurity in the Context of One Health,” Assoc. Prof. Jose Obedencio, Jr., DVM., MS., Ph.D menekankan peran kolaborasi, komunikasi, koordinasi dan kerjasama merupakan kunci mendukung One Health. Terlebih populasi manusia yang terus bertambah dan pergerakan hewan yang semakin dekat dengan pemukiman memungkinkan transmisi lingkungan. Setiap bidang memiliki perannya masing-masing, namun mengisi tujuan yang sama dengan cara yang berbeda.
Produksi Hewan
Berbicara terkait produk asal hewan, dalam topik “Awareness, Knowledge, Attitude, and Practice (AKAP) on Antimicrobials of Cattle Farmers in Bukidnon, Philippines.” Assoc. Prof. Maria Lebena B. Montemayor, DVM., MS., Ph.D. menjelaskan peran penting peternak dalam One Health. Mereka merupakan orang pertama yang bersentuhan langsung dari segala aspek pada ternaknya. Melalui pendampingan dan pelatihan pengetahuan AMR bagi peternak, kita dapat memutus resistensi antimikrobial dari hewan ternak ke manusia.
Peran Wanita
Dalam One Health, kesetaraan gender dalam pengelolaan organisasi merupakan hal yang sangat ditonjolkan. Riset Prof Hazel Marie R. Boloron, D.V.M, MS dalam paparan bertopik “Participation of Women in Farmer Organizations in Indigenous Cultural Communities in Bukidnon, Philippines,” menunjukkan kesetaraan gender merangsang pertumbuhan ekonomi dan memungkinkan adanya pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama, tanggung jawab, dan peluang. Bagi masyarakat pedesaan yang berorientasi adat, terkadang kesetaraan masih menjadi hal tabu. Mereka memiliki nilai dan gagasannya sendiri. Tapi dengan menghargai perbedaan itu ada tetapi, maka pemaknaan satu tujuan melalui kerjasama secara harmonis. Analisis melalui Tipologi Partisipasi Pretty, menunjukkan bahwa perempuan dalam organisasi petani mempunyai bentuk partisipasi yang pasif karena hanya sedikit dari mereka yang terlibat dalam peran kepemimpinan. Sehingga peningkatan kualitas kepemimpinan masih harus menjadi hal yang diselesaikan.
Acara itu berlangsung berkat kerjasama Program Studi Kedokteran Hewan FIKKIA, Universitas Airlangga, Indonesia dengan College of Veterinary Medicine, Central Mindanao University, Philippines. Terdapat 150 mahasiswa Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR dan 6 mahasiswa Kedokteran Hewan CMU yang mengikuti kegiatan tersebut di Aula Ruang Baca Kampus FIKKIA Mojo.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
