Budidaya ikan merupakan salah satu kegiatan yang berkontribusi besar sebagai penyediaan protein hewani untuk konsumsi masyarakat. Faktor kunci dalam keberhasilan budidaya ikan adalah pada pemberian pakan yang tepat. Pakan ikan bukan hanya berfungsi sebagai sumber energi tetapi juga berfungsi memenuhi kebutuhan gizi esensial untuk pertumbuhan, reproduksi, dan kesehatan ikan. Akan tetapi, saat ini permasalahannya yaitu harga pakan komersil yang semakin mahal. Hal ini akan menyebabkan naiknya biaya produksi yang berkorelasi terhadap harga produk perikanan sehingga dapat menimbulkan tingkat konsumsi semakin rendah. Nah, salah satu alternatif yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan formulasi pakan tepung maggot.
Kandungan protein larva lalat black soldier
Maggot (Hermetia illicens) merupakan organisme dari telur lalat black soldier yang mampu untuk mendegradasi bahan-bahan organik (Mokolensang dkk., 2018). Maggot dapat menjadi sumber protein pada bahan baku formulasi pakan ikan. Maggot memiliki kandungan protein 42,1%, lemak 16,69%, serat kasar 7,02 %, BETN 25,86%, kadar abu 11,18% dan kadar air 6,49% (Prajayati dkk., 2020) serta mengandung anti jamur dan anti mikroba sehingga tidak menjadi carrier penyakit pada ikan (Bibin dkk., 2021).
Maggot dapat dijadikan sebagai pakan yang langsung diberikan pada ikan atau dilakukan proses formulasi pakan terlebih dahulu. Formulasi pakan adalah pembuatan pakan berdasarkan kebutuhan nutrisi yang diperlukan ikan. Penyusunan formulasi pakan harus memperhatikan nilai kandungan protein karena zat ini merupakan komponen utama untuk pertumbuhan ikan.
Penyusunan formulasi didapatkan dengan cara mengetahui tingkat kandungan protein dalam bahan baku pakan yang didapatkan dari analisis proksimat. Setelah diketahui kandungan protein dari pakan yang akan dibuat, maka selanjutnya perhitungan untuk komponen zat-zat gizi yang lain seperti karbohidrat dan lemak.
Menghitung jumlah nutrisi ideal
Pembuatan formulasi pakan ini dilakukan dengan mengetahui kadar nutrisi bahan baku terlebih dahulu. Contoh perhitungannya sebagai berikut:
- Menentukan jumlah kadar protein dan berat pakan yang diinginkan dari formulasi pakan. Contohnya membuat formulasi pakan dengan kandungan bahan protein 30% dan membuat pakan 100 gr.
- Mengetahui kandungan protein dari masing-masing bahan baku contohnya kadar protein tepung maggot yaitu 55%, bungkil kelapa 17%, bungkil jagung 20%, dan dedak 12%
- Jika formulasi pakan menggunakan lebih dari 2 bahan baku, maka dilakukan pengelompokkan jenis bahan baku yaitu bahan baku basal (kadar protein <20%) dan bahan baku protein (>20%).
- Perhitungan pengelompokkan bahan baku. Jumlah bagian ditentukan berdasarkan banyaknya jumlah dari jenis bahan baku yang ingin ditambahkan.Kadar bahan baku protein (utama) tepung maggot (1 bagian) = 55%. Kadar protein bahan baku basal atau protein pendukung
- bungkil kelapa = 17% x 2 bagian = 34 %
- bungkil jagung = 20% x 1 bagian = 20%
- dedak = 12% x 2 bagian = 24%
- Rata- Rata = 34%+20%+24% ÷5 = 15,6%
- Protein yang ingin dibuat yaitu 30% sehingga perhitungan yang dilakukan selanjutnya yaitu mengurangi nilai protein dari bahan baku protein utama dan protein basal.
- Protein utama = 55 – 30 = 25%
- Protein basal = 30 – 15,6 = 14,4%
- Membuat perhitungan bujur sangkar seperti gambar berikut.


7. Campurkan semua bahan yang telah ditakar, aduk rata bersama tepung kanji dan air hingga tidak lengket. Lanjutkan cara yang sama seperti membuat pelet pada umumnya.
Peruntukkan pakan tepung maggot
Formulasi pakan ikan dengan tepung maggot dapat digunakan untuk beberapa spesies ikan antara lain untuk ikan lele, ikan nila, ikan jelawat, ikan gurami, ikan rainbow kurumoi dan udang vaname. Salah satu contohnya yaitu pada larva ikan nila membutuhkan protein sekitar 38% (Fradina dan Latuconsina, 2022). Dengan demikian, formulasi pakan dari tepung maggot ini dapat digunakan sebagai pakan ikan nila dari ukuran larva hingga dewasa. Penggunaan tepung maggot dalam pakan ikan nila dapat meningkatkan kualitas ikan nila, termasuk untuk ikan nila dewasa. Hal ini karena kandungan protein yang tinggi sesuai untuk pakan ikan nila yang memerlukan nutrisi yang lebih tinggi untuk pertumbuhan dan kelulushidupan
Frekuensi pemberian pakan
Frekuensi pemberian pakan ikan dapat berbeda-beda tergantung pada usia dan jenis ikan. Pemberian pakan dengan formulasi tepung maggot ini dapat diberikan dengan metode pemberian pakan yaitu sekenyangnya (ad satiation) dan sesuai dengan perhitungan kebutuhan pakan berdasar berat tubuhnya (ad libitum). Pada metode ad libitum berat pakan yang diberikan adalah 3-5% berat tubuh per hari dan pakan yang diberikan 3-4 kali sehari (Iskandar dkk., 2022). Contoh penggunaan formulasi tepung maggot untuk pakan ikan nila frekuensi pemberian pakannya dapat disesuaikan dengan ukuran ikan nila yang berbeda. Misalnya, untuk ikan nila yang berukuran kecil frekuensi pemberian pakan dapat sebanyak 4 kali sehari sedangkan untuk ikan nila yang berukuran besar, frekuensi pemberian pakan dapat sebanyak 2 kali sehari.
Tantangan penggunaan tepung maggot
Tantangan penggunaan tepung maggot untuk pakan ikan antara lain:
- Kualitas maggot. Kualitas maggot sangat tergantung dari umur maggot. Maggot muda memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan maggot dewasa.
- Harga. Harga maggot masih tinggi karena produksi maggot yang belum mencapai skala industri atau skala keekonomiannya. Hal ini membuat produsen pakan belum sepenuhnya memasukkan tepung maggot dalam formulasi pakan komersil.
- Industrialisasi tepung maggot untuk pakan budidaya perikanan. Penggunaan maggot dalam industri pakan ikan masih terbatas. Tepung maggot belum dapat menggantikan tepung ikan sebagai sumber protein utama pada pakan ikan dan penggunaannya masih terbatas pada kebutuhan pakan berprotein tinggi contohnya untuk pakan ikan laut atau udang vaname.
Penulis: Siti Mufidah (Mahasiswa Akuakultur FIKKIA)
Editor: Avicena C. Nisa
