FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kuliah Tamu Akuakultur FIKKIA, Ulas Penyakit Viral Udang dengan Pakar

KABAR FIKKIA – Kebutuhan udang di pasar domestik dan internasional yang tinggi merupakan salah satu faktor budidaya udang dipandang menjanjikan oleh banyak orang. Meskipun memiliki prospek yang menjanjikan, budidaya udang juga tak luput dari resiko dan tantangan. Penyakit adalah tantangan sekaligus faktor pembatas keberhasilan budidaya udang.

Mengupdate wawasan terkait penyakit pada udang, Jumat (21/06/24), Prodi Akuakultur menghadirkan Dr. Heny Budi Utari M. Kes dalam agenda rutin kuliah tamu. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara online melalui zoom meeting bersama 45 mahasiswa dan Hapsari Kenconojati, S.Si., M.Si. selaku dosen pendamping kuliah tamu kali ini.

Penyakit yang menyerang udang

Penyakit udang yang telah ditemukan saat ini dapat disebabkan oleh bakteri dan virus. Terdapat 20 genus atau tipe virus yang telah ditemukan menyerang udang dan memiliki genotip berbeda pada setiap tipenya. Dr. Heny menyatakan bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus-virus tersebut dapat ditemukan pada semua DOC udang. Secara umum ada 2 genom virus penyakitpada udang, yaitu virus dna yang menyebabkan infeksi pada udang seperti WSSV, IHHNV, SHIV/DIV1 dan virus RNA yang menular pada YHV, TSV, IMNV, dan CMNV.

Infeksi virus pada udang

Cara virus masuk pada tubuh udang yaitu dengan memasuki dalam kondisi yang lemah atau tidak sehat dikarenakan imun tubuh yang menurun. Faktor yang mempengaruhi penyebaran virus diantaranya adalah biosecurity yang kurang memadai, stress lingkungan, dan imun udang.

Penanggulangan penyakit pada udang

Pencegahan penyakit pada udang dapat dilakukan dengan beberapa tahapan. Mendeteksi dengan pengujian kualitas air rutin (kualitas air, mikrobiologi, dan PCR) dapat dilakukan sebelum tebar. Deteksi dan Analisa penyakit udang dengan esktraksi sampel, isolasi materi genetik, serta analisa dengan pcr, uji histologi, dan uji wet mount.

Penerapan CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) penting dilakukan yaitu meliputi lokasi tambak dengan air yang tersiklus dengan baik; pembersihan fasilitas tambak, kontruksi tambak dan fasilitas budidaya; manajemen kualitas air, monitoring lingkungan. Melakukan pemeriksaan kesehatan udang secara berkala mesti dilakukan. Mengontrol diversitas bakteri dengan probiotik dan bioremediasi; manajemen pakan dan limbah dengan kontrol pakan, serta pembuangan limbah pada kolam penampung IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) agar tidak menyebarkan penyakit.

Jika diperlukan, petambak dapat menambahkan feed additive untuk peningkatan kesehatan ikan berupa pakan yang berkualitas dan penambahan immunostimulant atau probiotik. Penerapan biosecurity yang baik sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP) seperti penggunaan Kalium Permanganat (PK) untuk sterilisasi.

Penulis: Ijl Taqiy Christya Dewanta Arthur Archiles

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *