KABAR FIKKIA – Penguatan kapabilitas mahasiswa terus dilakukan dari berbagai sumber. Pentingnya menggali potensi pengetahuan terus berkembang seiring perubahan zaman. Pada Senin (08/07/2024) Prodi Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) kedatangan dosen Department of Aquaculture Faculty of Animal Bioengineering, University of Warmia and Mazury in Olsztyn Poland, Prof. Dr. Dorota Fopp-Bayat.
Keunikan ikan sturgeon membawa Prof. Dorota mendalami penelitian genetika dan akuakultur. Ikan sturgeon (Acipenser sp.) memiliki habitat diperairan tawar yaitu danau. Karakteristik ikan sturgeon yaitu ukuran tubuh panjang dan memiliki moncong di mulut. Daging dan telurnya dapat dikonsumsi manusi. Ikan purba ini dikenal sebagai penghasil telur kaviar terbaik.

Siklus hidup dan perubahan iklim jadi penyebab ancaman kepunahan
Ikan Sturgeon kini memiliki status terancaman punah. Hidup sejak 200 juta tahun lalu, ikan ini tergolong anadromus. Proses pemijahan ikan dilakukan di perairan tawar, kemudian juvenil (anak ikan) akan kembali keperairan laut hingga dewasa, dan berpindah lagi ke perairan tawar untuk memijah. Siklus tersebut akan berulang dalam proses kehidupan ikan sturgeons.
Proses migrasi ketika musim pemijahan menjadi penyebab ikan ini terancam punah. Perjalanan migrasi dari perairan laut ke perairan tawar melalui perjalanan panjang dan berbahaya. Pengaruh kondisi lingkungan juga menyebabkan semakin gagalnya ikan yang sampai di danau dengan selamat. Munculnya ikan invasif seperti American crayfish, perubahan suhu bumi, dan polusi menyumbangkan masalah besar dalam populasi ikan sturgeon. Bahkan di Perairan Baltik Polandia, spesies Acipenser sturio sudah mengalami kepunahan.
Rekayasa genetika jadi solusi pelestarian
Teknologi hibridisasi adalah rekayasa persilangan spesies yang berbeda terutama jenis hampir punah pada jenis kelamin pada ikan. Contohnya Bester merupakan persilangan spesies Huso huso x Acipenser ruthenus. Hasil persilangan dari dua spesies berbeda akan menghasilkan jenis ikan yang lebih kuat dan resisten terhadap perubahan lingkungan yang fluktuatif. Selain dapat diaplikasikan pada budidaya akuakultur, hibridisasi juga terjadi secara alami di habitat alamnya.

Selain perkawinan silang, teknologi ginogenesis dapat menjaga kelestarian ikan Sturgeon. Ginogenesis merupakan teknologi rekayasa genetika dengan mengubah gen yang diinginkan. Gen akan mempengaruhi ketahanan tubuh dan jenis kelamin ikan sturgeon.
Populasi yang tidak seimbang antara jantan dan betina tidak menghasilkan jumlah telur yang banyak. Populasi ikan yang ideal adalah komposisi jantan dan betina yang seimbang. Prinsip ginogenesis adalah merusak gen sperma jantan dengan UV iradiasi dan kejut suhu pada gen gamet betina. Berbagai teknologi rekayasa genetika terus dilakukan untuk menjaga kelestarian ikan Sturgeon.
“Rekayasa genetika masih memerlukan penelitian mendalam karena prosesnya yang memakan waktu lama hingga bertahun-tahun dan membutuhkan biaya tinggi.” tutup prof Dorota
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin dan ke-17 Partnership for the Goals dan ke-4 Quality Education
Penulis: Ijl Taqiy Christya Dewanta Arthur Archiles
Editor: Avicena C. Nisa
