KABAR FIKKIA – Kolaborasi 14 mahasiswa BEM Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga berhasil membawa mereka lolos pendanaan PPK-Ormawa Kemendikbud 2024. Upaya penurunan angka kejadian stunting menjadi fokus utama yang melibatkan peran aktif masyarakat desa. RUMPIKU menjadi program pemberdayaan masyarakat Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi dalam aktifitas kerja BEM FIKKIA Universitas Airlangga.
Monitoring pengelolaan kegiatan telah dilakukan oleh Direktorat Kemahasiswaan UNAIR pada Jumat (19/07/2024) di Balai Desa Watukebo. Ahmad Sofi Mubarok didampingi sejumlah perangkat desan masyarakat meninjau langsung lokasi dan capaian kerja yang telah berlangsung sebulan kebelakang. RUMPI menjadi rumah preventiv, inovatif, kuratif sebagai upaya pencegahan dan penaggulangan stunting berbasis etnografi dalam mewujudkan desa sehat Watukebo, Banyuwangi.
Dosen pembina PPK Ormawa Syifaul Lailiyah dalam presentasinya menjelaskan, Desa Watukebo dipilih karena menjadi penyumbang angka stunting cukup tinggi di Banyuwangi. Berdasarkan data yang direalis Dinas Sosial Kabupaten Banyuwangi, stunting terjadi berasal dari beberapa factor. Diantaranya faktor ekonomi, pernikahan dini, dan penerapan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) yang minim.
Pendekatan persuasif pada masyarakat
Selama kurang lebih satu bulan berjalan, para mahasiswa pelaksana program PPK Ormawa mempresentasikan capaian kerja yang telah dilaksanakan. Diantaranya pemetaan persebaran stunting di Desa Watukebo. Mahasiswa juga telah melaksanakan diskusi terbuka dengan Ikatan Alumi Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan warga masyarakat untuk merumuskan dan membuat kurikulum penanganan stunting. Kedepannya hasil rumusan dan kurikulum dapan diterapkan, atau bahkan menjadi rol model bagi desa lain dalam mengentaskan anka stunting.

“Tim kami saat ini sedang merancang buku cerita berbasis etnografi yang berisi pesan-pesan pencegahan stunting. Para orang tua, maupun kader kesehatan dapat mensosialisasikan pencegahan stunting lebih mudah pada masyarakat sasaran.” tutur Ketua Azizah Puspaningtyas (Kesmas 2022)
Tidak hanya itu, para mahasiswa juga sedang dalam obsrvasi untuk menciptakan foodbar. Memanfaatkan potensi hasil pertanian berupa jagung, mangga, dan kacang koro. Harapanya, foodbar bisa menjadi asupan tambahan khusunya anak-anak usia pertumbuhan dan ibu hamil. Di Dusun Pringgodani, tim PPK Ormawa juga telah membuat posko Puskesdes (pusat kesehatan desa) yang nantinya akan dijadikan pusat kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Sambutan hangat warga Desa Watu Kebo
Ada harapan agar bisa warga bersama-sama dengan akademisi menyelesaikan permasalahan stunting. Warga bersedia bahu-membahu menyediakan kebutuhan pembuatan foodbar. Kaur Keuangan Watukebo menambahkan, desa akan menyumbang telur gratis untuk diolah menjadi foodbar. Terlebih telur yang dihasilkan dari peternakan ayam desa.
Pembina Kemahasiswaan Sofi Mubarak mengatakan, dirinya ingin sinergitas akademisi dan masyarakat harus terus dibangun.
“Akademisi jangan malu dan gengsi untuk turun ke desa, datanglah pada masyarakat. Tanyakan apa yang mereka butuhkan, dan apa upaya akademisi yang bisa bantu untuk mereka”. tuturnya
Semoga program-program baik seperti ini terus berkembang untuk bersama-sama mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Seperti tujuan utama dari program PPK Ormawa ini adalah masyrakat bisa mandiri dengan menjalankan program yang telah dibuat bersama-sama.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-3 Good Health and Well Being, dan ke-17 Partnership for the Goals
Penulis: Lukman Dwi Febriyanto
Editor: Avicena C. Nisa
