FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Pembukaan PPK Ormawa Desa Tamansari Sosialisasikan Penyakit Akibat Perubahan Iklim

KABAR FIKKIA – Sabtu, (20/07/2024) Perubahan iklim saat ini tidak sekedar isu belaka. Ancaman bencana alam yang diakibatkan perubahan iklim telah dirasakan dampaknya. Kekeringan, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, penyakit tropis seperti DBD dan malaria, menjadi momok yang menghantui masyarakat. Membaca bahaya tersebut Ormawa Pecinta Alam dan Konservasi FIKKIA bersama masyarakat melakukan pemetaan potensi bencana di wilayah Desa Tamansari.

2024 merupakan tahun ketiga Komikat Konservasi FIKKIA menjalin kerjasama denga Desa Tamansari. Tema besar program tahun ini adalah “Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim pada Kelompok Konservasi Tanaman Obat pad Desa Tabib Tangguh Iklim Tamansai Banyuwangi”. Terbentuknya PPK Ormawa Desa Tamansari merupakan gabungan keilmuan mahasiswa Program Studi Kedokteran Hewan, Akuakultur, dan Kesehatan Masyarakat.

Sosialisasi pencegahan bencana pada warga di Balai Desa Tamansari. Sumber: UKIP

Program kerja yang akan dikerjakan yakni sosialisasi mitigasi dan evakuasi yang harus dilakukan masyarakat saat terjadi bencana. Tindakan dini pencegahan berupa pemasangan alat deteksi kontur tanah, pemanfaatan panel surya, serta berencana membuat pil jamu dari tanaman-tanaman obat.

Pembukaan kegiatan PPK Ormawa di Desa Tamasari dilaksanakan di Balai Desa, dengan dihadiri Direktorat Kemahasiswaan, dosen Pembina, perangkat desa, ibu-ibu kader serta masyarakat. Disana mahasiswa memaparkan hal-hal yag telah dikerjakan tim pelaksana PPK Ormawa selama satu bulan.

Kolaborasi masyarakat berbagai stakeholder

Menghadirkan tiga narasumber yang berkaitan dengan tema PPK Ormawa tahun ini, yaitu BMKG, Ijen Geopark dan Promkes Puskesmas Licin. Fokus penanggulangan bencana akibat perubahan iklim membuat mahasiswa melibatkan lembaga ahli di masing-masing bidang.

Kepala Desa Tamansari menyambut baik program tersebut. Pada sosialisasi pertama, warga dan mahasiswa mendapat pengetahuan baru dari narasumber yang berasal dari BMKG, Ijen Geopark, dan Puskesmas Licin. Pengetahuan mengenai iklim, proses terbentuknya cuaca, fungsi ekologis suatu daerah, dan sebaran penyakit sekaligus obat yang ada didalamnya. Dengan demikian warga masyarakat dapat lebih bijak memperlakukan alam sekitar.

Sebelumnya selama sebulan mereka sudah sosialisasi ke masyarakat, mengamati potensi desa toga yang bisa dikembangkan lagi. Program ini meneruskan suksesnya pengembangan tanaman toga pada tahun sebelumnya.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin e-3 Good Health and Well Being, ke-15 Life on Land dan ke-17 Partnership for the Goals

Penulis: Lukman Dwi Febrianto

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *