Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi bumi saat ini. Dampaknya yang luas dan kompleks. Menurut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) menyebut perubahan iklim disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang mengubah komposisi atmosfer global dan yang merupakan tambahan terhadap variabilitas iklim alami yang diamati selama periode waktu yang sebanding. Perubahan iklim diakibatkan meningkatnya gas rumah kaca seperti karbonmonoksida, karbondioksida, dan metana.
Polutan tersebut dapat berasal dari hasil produksi dan penggunaan energi dari bahan bakar fosil yang tidak berkelanjutan. Seperti industri kotor yang semakin masif dan perluasan pemukiman yang mengurangi luas lahan hijau. Sejak era pra-industri (1850-1900), suhu permukaan global rata-rata meningkat sekitar 1,1°C hingga 1,2°C. Laju pemanasan global saat ini adalah sekitar 0,2°C per 10 tahun. Tingkat kenaikan permukaan laut global telah meningkat dari rata-rata 1,4 mm per tahun sepanjang abad ke-20 menjadi 3,6 mm per tahun antara 2006-2015. Terhitung sejak abad 18 permukaan laut global telah mencapai sekitar 20 cm. Tidak hanya mempengaruhi manusia, perubahan iklim juga menyebabkan perubahan perilaku berbagai spesies hewan di seluruh dunia. Salah satu aspek krusial dari kehidupan hewan yang terkena dampak signifikan adalah pola migrasi mereka.
Pola perubahan migrasi global
Migrasi hewan merupakan fenomena alami yang telah berlangsung selama jutaan tahun. Berbagai spesies melakukan perjalanan jarak jauh secara berkala untuk mencari sumber makanan, tempat berkembang biak, atau menghindari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Perubahan iklim yang terjadi dengan cepat telah mulai mengganggu ritme alami ini, menghadirkan tantangan baru bagi hewan migran. Perubahan waktu migrasi adalah salah satu respons terhadap perubahan suhu. Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Climate Change pada 2019 menunjukkan bahwa burung-burung di Amerika Utara telah memajukan waktu migrasi musim semi mereka rata-rata 5,8 hari per dekade sejak 1960-an. Di Eropa, 83% dari 117 spesies burung migran telah memajukan waktu kedatangan musim semi mereka, dengan rata-rata 2,1 hari per dekade sejak 1980.

Beberapa spesies telah mengubah rute migrasi mereka untuk menyesuaikan dengan perubahan kondisi lingkungan. Populasi angsa hitam (Branta bernicla) di Laut Arktik telah menggeser rute migrasi mereka sekitar 300 km ke timur dalam 50 tahun terakhir. mengikuti pergeseran distribusi rumput laut yang menjadi makanan utama mereka. Beberapa spesies menunjukkan kecenderungan untuk bermigrasi lebih jauh atau lebih dekat sebagai respons terhadap perubahan iklim. Studi terhadap 51 spesies burung di Amerika Utara menemukan bahwa jarak migrasi rata-rata telah berkurang sekitar 5,6 km per tahun antara 1969 dan 2013.
Bagaimana dengan migrasi satwa di Indonesia?
Perubahan iklim juga mempengaruhi Indonesia. Kawasan kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bagian penting dari jalur migrasi Asia Timur-Australasia yang digunakan oleh banyak spesies burung migran. Sekitar 150 spesies burung migran mengunjungi Indonesia setiap tahun. Di Taman Nasional Wasur, Papua, menunjukkan perubahan waktu kedatangan beberapa spesies burung migran. Misalnya burung Trinil Kaki Merah (Tringa totanus) tiba sekitar 2-3 minggu lebih awal dibandingkan 20 tahun lalu. Perubahan suhu laut akibat pemanasan global turut mempengaruhi distribusi plankton yang berdampak pada rute migrasi Paus Biru (Balaenoptera musculus). Observasi di Laut Sawu menunjukkan pergeseran rute migrasi sekitar 200 km ke selatan dibandingkan 15 tahun lalu.

Sumber: bbc.news.com
Terkhusus penyu, area bertelur di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur menunjukkan area bertelur Penyu Hijau (Chelonia mydas) telah berkurang sekitar 20% dalam 10 tahun terakhir. Hal tersebut terjadi karena proses abrasi dan kenaikan air laut yang terus terjadi. Sehingga mengurangi luasan pesisir pantai berpasir untuk mereka bertelur. Tantangan reproduksi penyu juga terjadi dengan rasio jenis kelamin betina yang lebih tinggi dibandingkan jantan. Secara khusus FIKKIA UNAIR bersama Banyuwangi Sea Turtle Foundation telah menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan Intan Box sebagai upaya penentuan sexing pada masa inkubasi melalui faktor kelembapan.
Ancaman perubahan penyebaran infeksi patogen
Pola migrasi burung liar yang terus menerus berubah saat ini juga menjadi kekhawatiran bagi beberapa wilayah. Burung liar menjadi salah satu hewan yang dapat terinfeksi High Patogenic Avian Influenza (HPAI). Penyebaran migrasi yang tak berpola dapat meningkatkan risiko terjadinya wabah flu burung pada kawasan bebas yang bisa menyerang antar spesies. Bukti nyata sekarang ini adalah dengan wabah kematian ekstrim pada anak anjing laut yang lahir pada musim kawin 2023 di Argentina,. Tingkat kematiannya mencapai sedikitnya 96% pada awal November 2023 dalam area yang disurvei di Península Valdés. Sebaran Avian Influenza pada ternak unggas pertama kali di Indonesia pada tahun 2000an juga terdeteksi melalui burung migrasi. Wabah flu burung di Indonesia telah menyebabkan kerugian peternakan ayam dengan tingginya mortalitas dan morbiditas antar unggas dengan cepat.
Tak hanya dari burung liar. Ancaman lain di Indonesia adalah kelelawar buah (Pteropus alecto) yang terlihat melakukan migrasi musiman lebih panjang. Rata-rata 15-20 km lebih jauh dibandingkan 25 tahun lalu. Kemungkinan karena perubahan dalam distribusi sumber makanan akibat perubahan pola curah hujan. Pergeseran pola migrasi tersebut dapat meningkatkan risiko zoonosis mengingat kelelawar merupakan hewan reservoir berbagai patogen. Mulai dari Nipah hingga Covid-19 berasal dari hewan pengerat yang bisa terbang itu. Deforestasi perluasan wilayah pemukiman penduduk, dan penambahan area pertanian tanaman produksi menyebabkan kelelawar dapat mencapai kawasan tinggal manusia. Pentingnya pembentukan zona transisi antara hutan kawasan dan pemukiman penduduk. Salah satunya dengan upaya budidaya beberapa jenis tanaman buah dalam kawasan hutan untuk mengurangi risiko hewan liar pemakan buah mendekati pemukiman.
Peningkatan jumlah hunian di lahan basah dan peningkatan curah hujan akibat perubahan iklim juga mendatangkan ancaman lain bagi manusia. Populasi nyamuk semakin tinggi dengan terbentuknya genangan alami dari air hujan maupun buatan. Ancaman DBD dari nyamuk jenis aedes aegypti semakin nampak dari tahun ke tahun. Pemberdayaan pola hidup bersih dan sehat serta menjaga lingkungan melalui penerapan One Health sangat diharapkan mengurangi potensi ancaman infeksi kesehatan.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
