FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Enam Nelayan Meninggal Diduga Akibat Leptospirosis, Dosen KH FIKKIA Beri Tanggapan

KABAR FIKKIA – Beberapa waktu yang lalu Indonesia dikejutkan dengan penemuan  Enam nelayan meninggal secara misterius di perairan Pulau Tempurung, Merak, Banten. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, para nelayan tersebut diduga meninggal akibat leptospirosis. Penyakit ini dikenal menyerang para nelayan, petani, dan pekerja rentan lain yang sering terpapar lingkungan dengan resiko tinggi

Dosen mikrobiologi veteriner Prodi Kedokteran Hewan FIKKIA Universitas Airlangga, Ratih Novita Praja, drh, M.Si., memberi tanggapan terkait kejadian leptospirosis tersebut. Dalam wawancara eksklusif beliau menjelaskan bahwa leptospirosis disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira. Bakteri ini umumnya dibawa oleh tikus sebagai hewan pembawa (vektor).

“Tikus ini mengeluarkan bakteri melalui urin. Urin tersebut kemudian mengontaminasi tempat-tempat lembab dan gelap seperti gudang, selokan, atau bahkan kapal nelayan yang tidak terpapar sinar matahari langsung,” jelas drh. Ratih.

Leptospira sangat menyukai tempat-tempat yang lembab dan gelap, yang sering kali ditemukan di lingkungan tempat tikus tinggal atau mencari makan. Kondisi ini menyebabkan bakteri dapat bertahan hidup dan berkembang biak di tempat-tempat seperti gudang atau ruang kapal nelayan. Begitu seseorang bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi oleh bakteri ini, terutama jika terdapat luka kecil di kulit, maka bakteri Leptospira dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan infeksi.

Musim hujan meningkatkan risiko leptospirosis

Menurut drh. Ratih, leptospirosis juga merupakan penyakit musiman yang terutama terjadi di musim hujan. Hal ini disebabkan oleh genangan air lebih banyak selama musim tersebut, yang dapat menjadi medium penyebaran bakteri.

“Air yang telah terkontaminasi oleh urin tikus yang mengandung bakteri Leptospira dapat menjadi media penularan ke manusia melalui kontak langsung dengan kulit yang memiliki luka terbuka, sekecil apapun luka tersebut,” tambahnya.

Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, bakteri Leptospira akan menyebar melalui pembuluh darah. Infeksi bakteri Leptospira menyebabkan berbagai gejala yang berbahaya, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan pada kasus yang lebih parah, dapat menyerang organ-organ penting seperti ginjal, hati, dan paru-paru.

Pencegahan leptospirosis pada kelompok rentan

Untuk mencegah penyebaran leptospirosis, drh. Ratih menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan sanitasi, baik di daratan maupun di kapal.

“Sanitasi yang baik dan kebersihan yang terjaga adalah kunci. Memasang perangkap tikus di tempat-tempat berisiko tinggi dan memastikan kapal bersih sebelum berlayar adalah langkah preventif yang sangat penting,” tutupnya.

Kejadian ini menjadi peringatan bagi para nelayan dan pekerja lain yang terpapar risiko tinggi untuk lebih waspada terhadap penyakit leptospirosis. Tindakan pencegahan yang diperlukan dapat berupa pemeriksaan kebersihan kapal secara rutin sebelum berangkat. Leptospirosis tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani dengan baik.

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *